Laporan Paris Couture Week

Kemeriahan Kerajaan Binatang Schiaparelli di Paris

Fandi Stuerz, CNN Indonesia | Senin, 09/07/2018 11:52 WIB
Kemeriahan Kerajaan Binatang Schiaparelli di Paris koleksi Schiaparelli (REUTERS/Regis Duvignau)
Paris, CNN Indonesia -- Dunia seni menjadi sumber inspirasi fashion yang tidak terbatas.

Di tahun-20an, ketika dunia seni Prancis dipenuhi aliran Surealisme dan Dadaisme muncul dan menjadi populer, Elsa Schiaparelli, yang merupakan rival Gabrielle 'Coco' Chanel, membawa seni ke dalam busana yang diciptakan.

Schiap, panggilan akrab Elsa, mendesain sweater trompe-l'oeil (efek motif yang terlihat nyata, namun sebenarnya hanya ilusi visual) dan dalam waktu singkat menjadi salah satu couturier paling berpengaruh.



Banyak yang menganggap Schiaparelli adalah seorang kreator yang eksentrik. Ia pernah membuat topi yang menyerupai mulut cheetah.

Ia juga berkolaborasi dengan Salvador Dali - salah satu seniman paling terkenal di zaman itu dan menciptakan La Lanterne, sebuah tas malam dengan lampu-lampu kecil berdaya baterai, sebuah ide revolusioner di kala itu.

Ia juga berkolaborasi dengan seniman-seniman lain, mulai dari Bapak Surealisme Andre Breton, Jean Cocteau, Jean Schlumberger, hingga Jean-Michel Franck.

Di tahun 1936, Elsa Schiaparelli meminta artis Swis Meret Oppenheim untuk membuat sebuah gelang dengan
bulu. Oppenheim kemudian membuat karya seninya yang paling terkenal, Object (Le Déjeuner en fourrure) yang
dalam Bahasa Inggris berjudul Object (Breakfast in Fur), yakni barang-barang sehari-hari seperti sendok dan cangkir seluruhnya dari bulu.

Ide-ide surealis semacam itu dibangkitkan kembali secara konsisten oleh Bertrand Guyon, sang direktur desain Sciaparelli dengan brilian.

Untuk Schiaparelli Haute Couture musim gugur 2018, Bertrand mengambil ide Animal Kingdom dan 'menumpahkan semua idenya -nyaris secara harafiah- di atas runway.

koleksi SchiaparelliFoto: REUTERS/Regis Duvignau
koleksi Schiaparelli

Kulot dengan motif zebra, tampilan dari kepala hingga mata kaki bermotif loreng lengkap dengan aksesori karya miliner ternama Stephen Jones seperti topeng harimau bersayap, topeng kupu-kupu berwarna shocking pink, hingga topi flamingo raksasa secara kontras mewarnai panggung runway di Palais Garnier yang bergaya opulen barok klasik.

Keindahannya ada dalam kekayaan detailnya.

Kelompok kecil batu pirus kecil yang disusun sebagai kancing-kancing jaket yang dirancang khusus; gaun hitam ramping berhias dengan sulaman bermotif mata seperti karya Jean Cocteau.

Sebuah koleksi jumpsuit turtle neck dengan warna blok yang terang, shocking pink, merah dan oranye menyegarkan panggung. Lagi-lagi, ide kerajaan binatang ditampilkan dengan topi telinga kelinci. Sekilas mungkin terlihat aneh, tapi jika kita menanggalkan topi kelinci yang unik, sebuah setelan celana merah muda di koleksi itu terlihat segar dan menawan.

Yang paling simpel namun justru paling menarik adalah sebuah mantel putih dengan gambar intarsia wajah Elsa Schiaparelli, yang berkiblat pada lukisan karya Man Ray.

Koleksi Guyon kali ini memang terlihat berbeda dan berani. Bukan soal warnanya, tapi soal detail dan juga coraknya.


Majalah Harper's Bazaar di tahun 1930an mendeskripsikan House of Schiaparelli sebagai 'Rumah Penuh Ide', dan sebuah artikel di The New Yorker di masa yang sama, yang ditulis oleh Janet 'Genet' Flanner, menuliskan "sebuah dress dari Schiaparelli sebagai sebuah kanvas modern."

Kini, Bertrand Guyon dengan percaya diri membawa semangat seni tinggi ke dalam karya-karyanya, dan meneruskan warisan Elsa Schiaparelli dan kedekatannya dengan dunia seni, memberi dunia fashion dengan humor jenaka yang, bisa menarik, atau bahkan membuat kita mengernyitkan dahi. Namun yang pasti, fashion menjadi lebih berwarna karenanya. (chs)