Waspada Gejala Anak Gagal Tumbuh

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Rabu, 15/08/2018 05:01 WIB
Waspada Gejala Anak Gagal Tumbuh ilustrasi kesehatan anak (PublicDomainPictures/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gagal tumbuh merupakan salah satu kondisi yang mengancam perkembangan bayi. Jika tak segera ditangani, perkembangan anak bakal terhambat dan mengakibatkan gizi buruk, stunting atau pendek, hingga kebodohan.

Pakar nutrisi dan metabolik anak dokter Damayanti Rusli Sjarif menjelaskan gagal tumbuh adalah kondisi tubuh anak yang tidak dapat menerima, mempertahankan atau memanfaatkan kalori untuk menambah berat badan.

Dengan kata lain, kondisi ini membuat pertumbuhan bayi yang dilihat dari berat atau tinggi badannya jauh dari kondisi normal yang direkomendasikan WHO. 



Istilah kedokteran mengenal kondisi ini dengan nama failure to thrive atau weight faltering.

Pada tahap awal, Damayanti menyebut ciri-ciri gagal tumbuh hanya ditandai dengan grafik berat badan bayi yang tidak mengalami kenaikan, cenderung stagnan bahkan menurun. 

"Ciri-ciri gagal tumbuh itu cuma bisa dilihat dari grafik berat badannya saja. Kalau berat badannya tidak sesuai dengan grafik maka disebut weight faltering atau gagal tumbuh," kata Damayanti dalam diskusi Nutrisi Penyebab dan dampak gagal tumbuh pada balita di Jakarta, Senin (13/8).

Dokter dari RSCM ini menyebut pertumbuhan itu hanya dapat diketahui melalui grafik KIA (Kartu Kesehatan Ibu dan Anak) atau KMS (Kartu Menuju Sehat) yang tersedia di rumah sakit dan posyandu. Grafik itu mengukur menimbang pertumbuhan bayi berdasarkan jenis kelamin, umur, lingkar badan, kepala dan sebagainya.

Menurut Damayanti, penelitian di banyak negara termasuk Indonesia menunjukkan ciri-ciri anak gagal tumbuh rata-rata mulai terlihat saat masuk usia tiga bulan.

Saat kondisi anak mulai menunjukkan ciri-ciri gagal tumbuh, Damayanti menyarankan para orang tua untuk segera penyebabnya dengan berkonsultasi dengan dokter anak. Menurut akademisi Universitas Indonesia itu, gagal tumbuh bisa disebabkan karena penyakit atau kurang asupan ASI.

"Kuncinya  begitu berat badannya turun, cepat cari pertolongan untuk tahu kenapa berat badannya turun dan segera diambil tindakan seperti diberi makanan pendamping ASI," tuturnya.


Bila tak segera ditangani atau malah dibiarkan, pertumbuhan anak bakal berdampak fatal. Pada kondisi akut, dia menyebut gagal tumbuh dapat mengakibatkan gizi buruk. Sedangkan dalam kondisi kronis, gagal tumbuh menyebabkan stunting.

"Gagal tumbuh dulu, lalu bisa kena gizi buruk jangka waktunya beragam. Atau bisa menjadi stunting yang baru diketahui saat usia 18 bulan. Kondisi ini yang parah karena otak tidak bisa terbentuk maksimal dan menyebabkan kebodohan," ucapnya.

Damayanti menyebut saat kondisi gagal tumbuh tidak ditangani, maka bakal berdampak pada stunting dan membuat pertumbuhan otak tidak maksimal. Kondisi ini berbahaya karena setelah melewati usia dua tahun, otak tak lagi bisa dikoreksi atau diperbaiki dengan cara apapun.

"Tidak bisa kembali normal, IQ-nya otomatis berkurang," ujarnya. (chs)