Kriteria Tepat MPASI untuk Cegah Anak Gagal Tumbuh

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Selasa, 21/08/2018 09:08 WIB
Kriteria Tepat MPASI untuk Cegah Anak Gagal Tumbuh Kondisi gagal tumbuh bayi dapat dicegah dengan memberikan makanan pendamping ASI yang tepat. Foto: CNN Indonesia/Safir Makki
Jakarta, CNN Indonesia -- Gagal tumbuh dapat menghalangi perkembangan bayi. Selain karena penyakit, kondisi ini juga disebabkan oleh air susu ibu (ASI) yang tak lagi mencukupi. Alhasil, pertumbuhan anak yang diukur dari kenaikan berat badan tak memenuhi ketentuan. Bila dibiarkan, kondisi ini bakal berujung pada gizi buruk alias stunting yang berdampak pada kerusakan otak sehingga menyebabkan kebodohan.

Kondisi gagal tumbuh atau yang dikenal dengan istilah 'weight faltering' ini dapat dicegah dengan memberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat. Namun, sayangnya MPASI yang kini digunakan tak sesuai dengan kebutuhan bayi. Bukannya memperbaiki, kondisi anak justru bakal semakin buruk.

"Prinsip MPASI itu harus melengkapi zat gizi yang tidak cukup dari ASI. Komposisi dan kualitasnya sebaik ASI. Bukan tepung beras, bubur kacang hijau, buah, dan sayur. Itu yang banyak diberikan pada bayi, padahal zat yang dibutuhkan bukan itu," ujar pakar nutrisi dan metabolik anak, dr Damayanti Rusli Sjarif, beberapa waktu lalu.



Pemberian MPASI, kata Damayanti, kudu disesuaikan dengan usia dan kondisi ASI.

Jika gagal tumbuh terdeteksi pada anak usia ASI eksklusif atau di bawah enam bulan, penanganan pertama yang mesti dilakukan adalah memperbaiki posisi menyusui dan perlekatan payudara. Bila berat badan berhasil naik, ASI dapat dilanjutkan.

Akan tetapi, jika selama dua pekan tak menunjukkan perubahan, Damayanti menyarankan untuk memberikan asupan lain. Namun, bayi yang berusia kurang dari empat bulan belum diperbolehkan diasupi makanan lain. Solusi tepatnya bisa berupa donor ASI yang aman atau penambahan susu formula dengan standar CODEX dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang didapat setelah berkonsultasi dengan dokter.


Pemberian MPASI baru bisa dilakukan jika anak sudah berusia di atas empat bulan dan menunjukkan tanda siap makan. Hal itu ditandai dengan kepala yang sudah tegak dan lidah tidak lagi menjulur.

Bila sudah dapat menerima makanan, Damayanti mengingatkan agar MPASI harus mencukupi kekurangan dari ASI. Rinciannya, ASI terdiri dari 55% lemak, 30% karbohidrat, dan 5% protein. Ketiga zat ini merupakan nutrisi dasar untuk pembentukan otak dan pertumbuhan tinggi badan.

"Oleh karena itu, MPASI mesti mencakup tiga zat ini, bukan sayur dan buah yang merupakan serat. Sayur dan buah hanya dikenalkan saja dengan porsi yang sangat sedikit," ucap Damayanti.


MPASI yang baik mesti mengandung karbohidrat, lemak, dan protein hewani lebih dari 105 total kalori. Alternatif sumber protein hewani sendiri bisa didapatkan dari daging ayam bagian dada, telur ayam, daging sapi cincang, ikan kembung kalengan, dan susu sapi cair (UHT). Sementara tahu dan tempe tidak dianjurkan.

"Ini bisa didapat dari makanan rumahan sehari-hari, tapi mesti dihaluskan sesuai dengan kemampuan bayi," ujar Damayanti.

Jika tidak memungkinkan MPASI rumahan, Damayanti menyebut bahwa WHO memperbolehkan penggunaan MPASI yang difortifikasi dan memiliki CODEX dan mempunyai izin edar BPOMRI.

Ada beberapa komposisi ASI dan MPASI yang seimbang dan bisa diikuti. Sebesar 30% MPASI bisa diberikan pada bayi usia 6-8 bulan, 50% pada bayi berusia 9-11 bulan, dan 70% pada bayi berusia 12-24 bulan. (asr/chs)