3 Teori Alasan Orang Berbohong Menurut Sains

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/10/2018 19:33 WIB
3 Teori Alasan Orang Berbohong Menurut Sains ilustrasi (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aktivis Ratna Sarumpaet mengakui dirinya berbohong. Lebam di wajahnya tidak muncul karena dianiaya, melainkan efek samping pasca operasi plastik. Hingga saat ini, belum diketahui motif atau alasan pasti mengapa Ratna memilih berbohong.

Namun, berdasarkan sains dan psikologi, terdapat beberapa alasan seseorang memilih untuk berbohong. Rata-rata, manusia bahkan berbohong sebanyak 1,65 kali per hari, baik besar atau kecil. 

Berikut merupakan alasan di balik kebohongan seseorang.



1. Melindungi diri
Praktisi psikolog Elizabeth T. Santosa menjelaskan seseorang biasanya berbohong sebagai bentuk perlindungan diri untuk menghindari masalah.

"Manusia biasa berbohong untuk menghindari masalah. Ini bentuk perlindungan diri atau self defence saat merasa terancam. 'Daripada jujur, mending bohong', misalnya seperti itu," kata Elizabeth kepada CNNIndonesia, Kamis (4/10).

Penjelasan Elizabeth ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan psikolog Bella DePaolo, seperti dilaporkan Psychology Today. DePaolo menanyai 147 partisipan untuk membuat diari mengenai kebohongan mereka selama satu pekan.

Hasilnya, dia menemukan rata-rata seseorang berbohong satu atau dua kali dalam sehari dan itu dilakukan untuk melindungi diri dalam menyembunyikan kekurangan.


2. Melindungi orang lain
Dusta juga dilakukan dalam rangka untuk melindungi orang lain. Misalnya, saat orang lain bertanya apakah dia terlihat cantik atau gendut. Kebanyakan orang akan berbohong menjawab pertanyaan itu untuk menyenangkan hati orang lain.

Dikutip dari Southern Living, seseorang memilih melakukan 'kebohongan baik; untuk membuat orang lain terlihat baik, terhindar dari rasa malu, hukuman, atau perasaan terluka.

3. Memperoleh kekuasaan
Berbohong dianggap sebagai salah satu cara mudah untuk mendapatkan kekuasan dibandingkan cara lain.

"Jauh lebih mudah berbohong untuk mendapatkan uang atau kekayaan daripada memukul kepala atau merampok bank," kata ahli etika dari Harvard University Sissela Bok kepada National Geographic.

Para peneliti percaya kebohongan dilakukan untuk memanipulasi orang lain demi mendapatkan yang diinginkan tanpa memerlukan kekerasan. (ptj/chs)