Jarang Olahraga Lebih Berbahaya daripada Merokok

Tim, CNN Indonesia | Senin, 22/10/2018 12:54 WIB
Jarang Olahraga Lebih Berbahaya daripada Merokok Ilustrasi (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanpa olahraga, fungsi tubuh tak akan berjalan optimal. Faktanya, ada sederet bahaya yang mengintai di balik kebiasaan melupakan olahraga atau aktivitas fisik.

Bahaya jarang berolahraga tak main-main. Bahkan, sebuah penelitian teranyar menemukan tingkat risiko kematian lebih tinggi pada orang-orang yang jarang berolahraga. Bahaya yang ditimbulkan disebut lebih parah daripada kebiasaan merokok, mengidap diabetes, atau menderita hipertensi.

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal JAMA Network Open itu menyebutkan bahwa jarang berolahraga memiliki risiko kematian 30 persen lebih tinggi.


"Jarang berolahraga harus diperlakukan sebagai penyakit yang memiliki resep," ujar pemimpin studi, dr Wael Jaber, ahli kesehatan jantung di Cleveland Clinic, melansir CNN.


Peneliti mempelajari 122.007 pasien yang getol melakukan treadmill di Cleveland Clinic selama periode waktu 1 Januari 1991-31 Desember 2014. Mereka mengukur semua penyebab kematian peserta penelitian, khususnya yang berkaitan dengan kebiasaan jarang berolahraga. Sebanyak 12 persen kematian disebabkan oleh tingkat intensitas olahraga atau aktivitas fisik yang rendah.

Risiko kematian yang lebih tinggi itu terlihat ketika peneliti membandingkan kedua kelompok: mereka yang getol berolahraga dan mereka yang jarang berolahraga.

"Orang-orang yang jarang berolahraga atau melakukan treadmill berisiko dua kali lipat terserang gagal ginjal," kata Jaber.

Meski sudah jadi rahasia umum, tapi penelitian ini disebut-sebut semakin meyakinkan anggapan bahwa kebugaran bisa memberikan angka harapan hidup yang lebih panjang. Manfaat olahraga kebugaran seperti aerobik, kata Jaber, tak berbatas.

Sebelumnya, sejumlah penelitian mengaitkan intensitas olahraga yang tinggi dengan risiko kematian. Namun, hal itu dibantah dalam penelitian teranyar ini.

"Tak ada tingkat intensitas olahraga tertentu yang bisa menimbulkan risiko kematian. Di sini justru kami melihat intensitas olahraga tinggi memiliki risiko kematian yang lebih rendah," jelas Jaber.


Manfaat dari getol berolahraga bisa dirasakan orang tanpa pandang bulu, segala umur, dan segala jenis kelamin. "Meskipun Anda berusia 40-80an tahun, manfaat olahraga tetap bisa Anda dapatkan," kata Jaber.

Dengan kata lain, penelitian ini mengajak Anda untuk bergerak dan bangkit dari kasur atau tempat duduk Anda.

Ahli kesehatan jantung di Lenox Hill Hospital, Satjit Bhusri, mengatakan bahwa penelitian ini memperkuat apa yang telah diketahui sebelumnya.

Gaya hidup minim aktivitas fisik telah menimbulkan risiko tinggi gangguan jantung. Namun, Bhusri yakin jika hal tersebut dapat diubah.

"Kita ditakdirkan untuk berjalan, berlari, berolahraga. Ini semua tentang bangkit dari kursi dan bergerak lah," tutup Bhusri. (asr/chs)