Chef Ben Ungermann: MasterChef, Model, dan Pecel Lele Gourmet

CNN Indonesia | Minggu, 18/11/2018 08:55 WIB
Chef Ben Ungermann: MasterChef, Model, dan Pecel Lele Gourmet Ben Ungermann (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ben Ungermann tak seperti chef-chef pada umumnya. Tubuhnya berotot, tinggi, tegap, dan modis.

Bukan, bukan berarti kalau chef lain tak punya penampilan modis dan bertubuh bagus, tapi tak semua chef dulunya adalah seorang model.

Sebelum mengikuti ajang MasterChef Australia 2017 lalu, Ungermann memang berprofesi sebagai model. Namun pertarungannya di grand final melawan Diana Chan dan menempatkannya sebagai salah satu celebrity chef di Australia yang populer sebagai raja es krim.


Hanya saja dia harus puas menempati posisi runner up di kompetisi memasak tersebut karena kalah satu poin dari Diana Chan.

Momen keikutsertaannya di MasterChef 2017 dengan dewan juri Matt Preston, George Calombaris, dan Gary Mehigan ini dianggapnya sebagai pembuka jalan yang menyadarkan bahwa memasak adalah keinginan terkuat dan impiannya.

Beberapa waktu lalu CNNIndonesia.com berkesempatan untuk berbincang dengan Ben Ungermann tentang kecintaannya pada memasak, keluarga, dan jatuh bangun kariernya.


CNN Indonesia (CNNI): Hai Ben, apa kabar?

Ben Ungermann (BU) : Kabar baik, sangat senang bisa bertemu dan kembali ke Indonesia.

CNNI : Pertama kali ke Indonesia?

BU: Tidak, saya sering sekali ke Indonesia. Ini sudah kelima kalinya.

CNNI: Sebelum ikut MCA makanan apa yang pertama kali Anda masak?

BU: Pertama kali saya masak makanan tradisional Belanda. Karena sejak usia 15 tahun saya tinggal bersama nenek saya dan dia sering masak aneka masakan. Dia juga mengajarkan saya masak.

CNNI: Enak enggak masakan Anda saat itu kata nenek?

BU: (Tertawa) Karena dia yang mengajarkan resepnya, makanya dia bilang enak.

CNNI: Sejak kapan sadar kalau memasak adalah passion Anda?

BU: Saya itu selalu nonton MCA tapi merasa kalau saya tidak cukup hebat untuk ikut. Tapi di season tahun 2017, keluarga saya sangat mendukung untuk ikut acara ini. Sejak saat itu saya tahu ini passion saya.

CNNI: Pernah ada momen yang membuat Anda ingin menyerah jadi chef?

BU: Kalau sekarang ini belum, tapi di kompetisi itu sempat down. Itu saat saya harus mereplika hidangan dari Dinner by Heston. Di situ saya sempat bingung dan merasa mau menyerah, tapi akhirnya saya bisa bangkit lagi.

[Gambas:Instagram]

CNNI: Sebagai orang yang punya darah Indonesia, makanan apa yang Anda suka dari Indonesia?

BU: Saya suka banget makanan Indonesia. Ayah saya keturunan Indonesia-Belanda, ibu saya Belanda. Jadi saya sudah akrab dengan rasa makanan Indonesia.

Saya suka sekali dengan pecel lele dan nasi goreng. Nasi goreng buatan tante saja enak banget.

CNNI: Pecel lele?

BU: Iya pecel lele, saya bahkan buat menu pecel lele sendiri versi saya. A little bit gourmet.

Jadi pecel lele saya sedikit berbeda dengan yang ada di sini. Berbeda dari segi platting (penataan).

Waktu saya masak di Belanda, saya membuat pecel lele gourmet ini. Anda tahu basil? ya saya buat garlic basil pesto dihidangkan bersama nasi.

Ikannya sendiri di-marinate dan di-deep fried (goreng dengan minyak banyak), sama seperti yang Anda lakukan di sini. Kemudian tulang-tulang ikannya saya keluarkan, direbus, batter (dicelupkan dalam adonan tepung renyah) dan digoreng sampai renyah seperti biskuit. Disajikan bersama sambal nikmat.

Saya ingin memasukkan menu ini dalam menu saya.

Tapi di antara makanan savory dan es krim saya akan lebih pilih jadi pembuat es krim sih.


CNNI: Sambal? Anda juga suka sambal pedas?

BU: Wah, saya suka sekali makan pedas. Bahkan teman saya di Indonesia bilang saya gila. Hahahaha...

Kemarin saya makan salah satu makanan kaki lima yang katanya Indonesian hottest chicken. Saya makan tapi ya saya tidak ingin sombong, tapi saya bisa makan. Cuma karena pedas saya cuma bisa merasakan pedasnya cabai, bukan daging ayamnya. Hahaha...

Saya suka makanan Indonesia dan citarasanya. Tapi ketika memasak di Eropa, saya harus menurunkan sedikit rasa pedasnya.

Saya sangat menikmati membuat makanan tradisional Indonesia. Saya suka re-creating, decontruction, membuat cita rasa baru, dan platting yang berbeda.

CNNI: Kalau Anda diasingkan di sebuah pulau dan hanya boleh membawa tiga buah bahan masakan, apa yang bakal Anda bawa?

BU: Hmm.. ini pertanyaan sulit. Apa ya? Oke, saya akan bawa cabai, ikan yang bagus, dan beras.

Sejak kecil, saya sudah akrab dengan nasi. Jadi sekalipun saya pergi ke Eropa dan tinggal di negara yang mayoritas makan roti, tapi saya selalu merindukan nasi setiap saat.

[Gambas:Instagram]

CNNI: Hal apa yang paling sulit untuk menjadi seorang chef?

BU: Yang paling sulit adalah untuk berpikir outside the box dan juga breakdown the boundaries karena makanan itu sifatnya subyektif.

Misalnya seperti saat saya di India dan memasak makanan Eropa. Saat itu mereka kurang menghargai karena budaya India selalu mengusung cita rasa rempah yang kuat dalam masakannya. Ini berbeda dengan makanan Eropa.

Mereka mengharapkan adanya bumbu yang kuat dalam masakannya, seperti layaknya makan kari. Jadi untuk menjadi seorang chef, kita juga harus adapt dengan semua budaya yang ada.

Sedih rasanya kalau ada orang yang tidak mau makan makanan yang saya buat. Tersinggung? pasti. Tapi saya mencoba untuk mencari jalan keluar dan jalan tengahnya.

CNNI: Ada tips untuk orang yang baru pertama kali masak di rumah?


BU: Masak untuk orang rumah itu hanya butuh cinta. Nikmati setiap proses memasaknya, dan ini akan menghasilkan makanan yang enak.


CNNI: Sebagai raja es krim, ada tips untuk bikin es krim yang enak?

BU: Pastikan bahan yang dipakai adalah bahan yang bagus. Dengan begitu es krimnya akan stabil dan set (beku) dengan sempurna. Teksturnya ringan dan meleleh di mulut.

Tapi kesalahannya, seringkali orang tidak memakai bahan yang tepat. Misalnya mau bikin es krim vanila, bukannya pakai vanilla bean yang bagus, tapi diganti dengan pasta vanila. Hasil es krimnya akan beda, baik tekstur dan rasanya.

(chs/chs)


BACA JUGA