Jemput Bola, 16 Desainer Indonesia Bakal Pamer Karya di Paris

CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 20:30 WIB
Jemput Bola, 16 Desainer Indonesia Bakal Pamer Karya di Paris Indonesia Fashion Chamber akan mengajak 16 desainer untuk memamerkan karya sembari berlayar di sepanjang sungai Seine, Paris pada Sabtu (1/12). (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Demi melakukan injeksi ke pasar mode internasional, Indonesia Fashion Chamber (IFC) menggandeng 16 desainer untuk pamer karya di Paris, Perancis, pada Sabtu (1/12) mendatang.

IFC tak mengadakan pertunjukan biasa. Pertunjukan akan diselenggarakan di atas kapal yang menyusuri Sungai Seine, Paris, bertajuk La Mode Sur La Seine a Paris.

Ali Charisma, desainer sekaligus national chairman IFC, menganggap gelaran ini bakal jadi gebrakan di dunia mode tanah air. Menurutnya, ada begitu banyak gelaran mode di Indonesia, namun tak banyak di antara mereka yang bisa menarik penikmat fesyen dunia untuk mampir.



"Mereka berat datang ke Indonesia. (Gelaran) di Paris ini seperti jemput bola. Kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia itu punya industri (fesyen) yang sangat besar sehingga buyer atau media mau datang ke Indonesia," ujar Ali saat konferensi pers di gedung Kementerian Perindustrian, Kuningan Timur, Jakarta, Rabu (21/11).

16 desainer yang tercatat bakal terbang ke Paris di antaranya Lisa Fitria, Deden Siswanto, Lenny Agustin, Sofie, Ali Charisma, Shanty Couture, Identix by Irma Susanti, Lia Mustafa, Lia Soraya, Rosie Rahmadi, #Markamarie, Instituto di Moda Burgo Indonesia, Zelmira by SMK NU Banat, dan Pemerintah Provinsi Aceh dengan label Reborn29 by Sukriyah Rusdy.

Gelaran yang bakal diikuti IFC bukan sekadar pamer karya, tapi juga untuk menarik perhatian pembeli, investor, penikmat fesyen, hingga media internasional. Mereka yang diundang diharapkan fokus pada gelaran untuk kemudian tertarik membeli deret karya yang dihadirkan.

Gelaran yang dihelat di atas kapal jadi salah satu strategi IFC untuk 'menahan' pembeli agar terus memelototi karya-karya yang dipamerkan.

"Kalau show di gedung, mereka (pembeli) habis show tertentu akan pergi. Kalau di kapal, mereka enggak akan ke mana-mana," kata Ali. "Nah, dari sini semoga ada transaksi."


Gelaran ini didukung pula oleh Pemerintah DI Aceh, Viva Cosmetics, dan Kementerian Perindustrian.

"Target dan tujuan kami adalah hasil karya (anak bangsa) dikenal di seluruh dunia. (Apalagi) Paris, kan, pusat mode dunia," ujar Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Gati Wibaningsih, pada kesempatan serupa.

"La Mode" Sur La Seine a Paris juga sekaligus menjadi momentum peluncuran gelaran International Muslim Fashion Festival yang bakal digelar di Indonesia pada 2019 mendatang.

Menurut Gati, perkawinan antara kota mode Paris, mayoritas penduduk Indonesia yang merupakan Muslim, ditambah dengan kekayaan wastra Indonesia jadi perpaduan sempurna. Artinya, Indonesia memiliki potensi untuk merambah pasar industri fesyen santun yang didukung dengan kekayaan wastranya.


Mulai dari Busana Konvensional hingga Modest

Meski digelar dalam menyambut helatan fesyen santun, namun "La Mode" Sur La Seine a Paris tak melulu menonjolkan busana Muslim. Sebagian desainer yang turut ke Paris justru dikenal bukan karena busana Muslimnya.

Sebut saja Lenny Agustin yang bakal kembali membawa koleksi yang pernah dipamerkannya dalam gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2019. Lenny bekerja sama dengan 23 perajin batik dari Sula, Maluku Utara, untuk melahirkan batik-batik dengan motif yang terinspirasi dari madu dan lebah sebagai kekayaan alam Sula. Lenny tak meninggalkan ciri khasnya dengan desain yang penuh warna dan sentuhan ragam bahan yang membuat detail terlihat tiga dimensi.

Siluet busana berbeda ditunjukkan oleh sekolah mode Instituto di Moda Burgo Indonesia. Sekolah ini mengirimkan tiga anak didiknya dengan label Lia Hastuti, Sokya, dan Ness.  Label Ness milik Nessy Jackson bakal mempresentasikan lingerie atau pakaian dalam wanita. "Koleksi ini terinspirasi dari matahari tenggelam di pantai," kata Nessy.

Sedangkan untuk koleksi busana tertutup, sederet desainer hadir meramaikan antara lain Lia Mustafa, Lisa Fitria, Irma Susanti lewat label Identix, dan Lia Soraya.

Yang menarik di sini adalah keterlibatan siswa SMK NU Banat Kudus. Lewat label Zelmira, mereka akan menampilkan koleksi busana konvensional maupun santun. Mereka akan berkolaborasi dengan SMK PGRI 1 Kudus jurusan Kecantikan untuk memoles para model. (asr)