Teka-teki di Balik Pasangan 'Adem Ayem' di Medsos

CNN Indonesia | Sabtu, 24/11/2018 12:00 WIB
Teka-teki di Balik Pasangan 'Adem Ayem' di Medsos ilustrasi (Istockphoto/Geber86)
Jakarta, CNN Indonesia -- Siapa yang tak kenal pasangan Gading Marten dan Gisella Anastasia? Orang tua dari Gempita Nora Marten atau Gempi ini dikenal publik sebagai pasangan serasi.

Keseruan keluarga mereka yang kerap diunggah di media sosial juga makin bertambah dengan aksi lucu Gempi.

Foto-foto keluarga mereka terlihat sempurna, indah, dan damai. Namun beberapa hari lalu, publik dibuat terkejut dengan munculnya gugatan cerai yang dilayangkan Gisel untuk suaminya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. 



Sekonyong-konyong publik dibuat riuh. Sebagian kepo terkait penyebab perceraian. Sebagian lainnya meramaikan tagar #saveGempi di Twitter. Ada yang mulai beranggapan bahwa tampilan di media sosial yang serba bahagia hanyalah sebagai topeng untuk menutupi 'aib' keluarga. Sedangkan ada pula yang mulai berteori bahwa  banyak unggahan kemesraan di dunia maya, sebenarnya 'ngenes' di kehidupan nyata. 

Nikki Goldstein, seorang seksolog dan pakar hubungan dari Australia mengatakan bahwa pasangan yang sering mengumbar kemesraan satu sama lain di media sosial adalah pasangan yang kerap menutupi ketidakamanan hubungan mereka.

"Seringkali orang yang banyak mengunggah hubungan mereka di media sosial adalah orang yang mencari validasi hubungan mereka dari orang lain di media sosial," ungkapnya kepada Daily Mail, dikutip dari Independent.

"Anda tahu bagaimana orang sangat fokus untuk mengambil relfie (relationship selfie), mencari filter foto yang tepat dan tagar adalah orang kehilangan momen kebersamaan dengan pasangan. Saya pikir, kenapa Anda tidak ambil foto karena ini adalah kenangan yang indah dan kenangan yang ingin diingat kembali suatu saat nanti?" katanya.

"Pasangan pun mengambil fotonya, mengunggahnya di media sosial kemudian melihat jumlah like dan komentar dibanding bersama dengan pasangannya."


Tak cuma itu, komentar yang ditulis di bawah foto ternyata juga dianggap sebagai bentuk 'masalah.' Dia mengatakan, kalimat yang menyatakan milik, misalnya 'wanita saya', 'pria saya,' bisa jadi menjadi tanda posesif.

Tak Selalu Jadi Topeng

Psikolog Wulan Ayu Ramadhani mengungkapkan bahwa pada dasarnya manusia memiliki keinginan untuk menampilkan citra tertentu kepada orang lain. Keinginan ini muncul terutama di kalangan selebriti. Image atau citra yang ditampilkan merupakan personal branding artis tersebut.

Hanya saja, Wulan tak setuju jika umbar kemesraan pasangan di media sosial dianggap selalu jadi penutup adanya masalah di kehidupan nyata.

Wulan mengungkapkan bahwa ini unggahan kemesraan ini belum tentu menjadi topeng selebriti di media sosial dan menyembunyikan kehidupan nyata. Sama halnya dengan mereka yang tidak mengunggah apapun di media sosial, belum tentu mereka tidak bahagia dalam hubungan. 

"Tidak selalu pamer kebahagiaan di sosial media berarti ada masalah yang ingin ditutupi. Sama halnya dengan yang tidak posting di media sosial, bukan berarti dia tidak punya hubungan yang bahagia," kata Wulan pada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat pada Kamis (22/11). 

"Bisa jadi karena ia memang menyaring apa yang mau dibagikan, jadi yang dibagikan memang yang bahagia atau senang-senang saja, kalau yang sifatnya masalah pernikahan atau keluarga dianggap tidak bijak untuk dikonsumsi publik." 

"Apalagi kalau artis ya, cuma posting curcol (curahan hati colongan) sedikit saja terus masuk 'lambe-lambean' langsung rame deh."


Ajang pamer

Meski demikian, Wulan tak menampik bahwa media sosial saat ini memang kerap dijadikan ajang pamer. Baik pamer kekayaan sampai kemesraan.

"Orang yang mengunggah karena ingin berbagi tentunya akan berbeda dengan orang yang posting dengan motif ingin mendapatkan pengakuan," kata dia. 

Contohnya ada netizen mengunggah foto liburan. Tidak ada komentar atau 'Like' dari warganet lain tentu tak jadi soal untuk mereka yang sekedar ingin berbagi. 

Akan tetapi, ini berbeda dengan mereka yang mengunggah sesuatu dan ingin mendapat pengakuan. Wulan menjelaskan bentuk pengakuan bisa beragam seperti respons netizen lewat komentar atau 'Like', atau bisa juga pengakuan dari netizen lain bahwa ia memiliki pasangan idaman atau keluarga yang bahagia. 

"Yang bisa membuat motif pengakuan ini menjadi tidak sehat adalah jika pengakuannya tersebut tidak ia dapatkan. Misalnya, kalau jumlah like atau komentar tidak banyak lantas kecewa dan merasa tidak berarti. Kalau pasangan tidak mau mengunggah foto bersama pasangan, lalu merasa insecure dan merasa tidak diakui," paparnya. 

(els/chs)