SURAT DARI RANTAU

Menatap Kesenjangan di Tengah Gemerlap Kota Cahaya

Ninik Rahayu Woirgard, CNN Indonesia | Sabtu, 15/12/2018 17:18 WIB
Menatap Kesenjangan di Tengah Gemerlap Kota Cahaya Menara Eiffel di Paris, Prancis. (Pedro Kummel via Unsplash)
Paris, CNN Indonesia -- Pertama kali menetap di Paris, Prancis, kala itu Kota Cahaya masih sepi dari pendatang dan turis, terutama yang berasal dari Asia seperti saya. Saya merantau ke sana mengikuti suami yang berkewarganegaraan Prancis sejak tahun 1999.

Saat itu suasana kota masih sangat tertata rapi. Jangankan sampah, copet saja tidak ada. Bisa dibilang angka kriminalitas di Paris pada saat itu sangat rendah dibandingkan saat ini.

Kalau sekarang, keluar rumah saja sudah was-was diincar copet. Belum lagi setiap akhir pekan ada isu demonstrasi.


Rasanya pilu kalau melihat berita-berita yang menggambarkan kerusuhan gilets jaunes, atau yang mungkin lebih dikenal dengan aksi rompi kuning oleh masyarakat dunia.

Aksi tersebut menyisakan pemandangan hangus dan kerusakan. Mobil dibakar, kaca butik mewah pecah, sampai dinding Monumen Arc de Tromphe diselimuti coretan.

Aksi rompi kuning ini sebenarnya tak hanya digelar sekali. Sejak awal bulan ini, kelompok rompi kuning sudah beberapa kali melakukan aksi protes kepada pemerintahan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Dari sekian aksi yang mereka lakukan, baru aksi yang berlangsung pada dua minggu lalu yang terasa sangat mencekam.

Walau bukan warga negara asli Prancis, saya bisa memahami kemarahan aksi rompi kuning.

Sesungguhnya Paris merupakan destinasi yang mengesankan. Dengan suasana kota yang cantik dan menakjubkan, kehidupan sehari-hari bagaikan masa liburan saja. Tak heran banyak turis dan pendatang yang senang datang ke sini.

Menolak Melarat di Kota CahayaSuasana aksi demo rompi kuning di Paris, Prancis, pada 1 Desember 2018. (Reuters/Stephane Mahe)

Tapi ketika bicara soal biaya hidup, rasanya tak heran jika aksi demo menjadi luapan emosi penduduk masyarakat di sini. Namun saya tak mengamini kekerasan, penjarahan dan perusakan yang dilakukan dalam aksi-aksi ini.

Kalau hidup hanya dengan Upah Minimum Regional (UMR) Paris, belum mencapai akhir bulan orang-orang sudah harus berhutang.

Biaya akomodasi, pangan sampai pajak di Prancis rajin naik. Sedangkan gaji dan upah pensiun stagnan.

Kehidupan mertua saya yang tinggal di sebuah kota kecil di Prancis menjadi salah satu contoh kasus betapa tingginya biaya hidup di sini.

Karena alasan kesehatan, beliau harus menetap di rumah jompo yang bertarif 2.200 Euro (Rp36,3 juta) per bulan. Padahal, upah pensiun yang diberikan pemerintah hanya 700 Euro (Rp11,5 juta) per bulan.

Untungnya masih ada saya dan suami yang dapat menyokong hidup beliau. Bayangkan bagi mereka yang tak punya siapa-siapa, atau harus menghidupi tak hanya dirinya, namun juga keluarganya.

Biaya hidup yang tinggi membuat banyak orang memilih hidup di jalanan alias menjadi gelandangan. Bukan cuma pendatang, wajah-wajah asli Prancis juga bisa ditemui dari kawanan ini.

Empat musim mereka lalui dengan tidur di jalanan. Yang terparah saat musim gugur dan dingin, dimana suhu yang membuat menggigil bisa sangat ekstrem.

Menolak Melarat di Kota CahayaIlustrasi. (Reuters)

Terlepas dari kegiatan sehari-hari bersama keluarga, saya sering melakukan kegiatan sosial mengelilingi kota.

Di musim dingin seperti sekarang, saya sering membawa kue, kopi, selimut dan kebutuhan hidup lainnya untuk dibagikan kepada para tuna wisma.

Di tengah membagikan bantuan, mereka banyak bercerita tentang latar belakang kehidupannya atau keseharian yang dilalui.

Dari setiap kisah yang diceritakan, perlahan saya menyadari bahwa selama ini banyak yang memandang tuna wisma sebelah mata. Tak jarang ada yang menghardik atau mengusir mereka dari depan bangunannya.

Mengetahui banyak orang yang hidupnya kurang beruntung membuat saya jadi lebih bersyukur dengan kehidupan sederhana yang saya dan keluarga nikmati di Paris.

Walau saya tak bisa belanja di butik mewah setiap hari, tapi saya bersyukur karena bisa hidup secukupnya.

Ditambah saya juga dikelilingi dengan teman-teman yang perhatian dan kompak, tak cuma sesama orang Asia, begitu juga dengan yang dari Eropa.

Sifat individual orang Eropa yang kebanyakan tak mau mencampuri urusan orang lain terkadang suka membuat kesan bahwa mereka tak ramah dan sukar berteman.

Padahal sebenarnya orang sini umumnya lebih setia dalam pertemanan.

Kita hanya perlu memulai obrolan dan bersikap ramah duluan, dijamin mereka akan membalas dengan senyuman dan dengan hati terbuka.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

(fey/ard)