5 Alasan Tepat Menolak Pasangan untuk Bercinta

CNN Indonesia | Minggu, 16/12/2018 01:41 WIB
5 Alasan Tepat Menolak Pasangan untuk Bercinta Ilustrasi. (Istockphoto/Napadon Srisawang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penolakan tentu memiliki efek yang kurang menyenangkan, apalagi jika menyangkut aktivitas seksual dengan pasangan. Sebagian wanita pun sulit menolak jika pasangannya menginginkan hubungan intim.

Menurut terapis Amy Deacon, selama berabad-abad wanita dianggap sebagai pengasuh. Walhasil, mengatakan tidak untuk ajakan bercinta sangat jarang dilakukan kaum hawa. Jika dilakukan, sebagian wanita mungkin merasa bersalah, malu, dan tidak lengkap.

Padahal, penolakan kadang baik untuk dilakukan kalau ada alasan yang tepat dan justru untuk menjaga relasi dengan pasangan. "Lakukan dengan jujur, baik dan percaya diri," imbuhnya dikutip dari Bustle (12/2).


Penolakan ini dirasa tepat jika disertai alasan-alasan berikut.

1. Enggak 'mood'

Salah satu alasan untuk tidak berhubungan intim dengan pasangan adalah orang tidak merasa ingin melakukannya. Bagaimana cara memastikannya? Saat Anda menemukan diri Anda dipaksa. Sudah pasti, Anda harus mengatakan tidak.

"Mengatakan tidak mungkin sulit, tetapi realitanya apa yang benar-benar perlu kita pelajari adalah mengatakannya dengan sungguh-sungguh," kata Marsha Ferrick, psikolog klinis.

Kadang akan terasa aneh dan canggung ketika penolakan muncul saat seks sudah setengah jalan. Namun ini tak jadi soal dibanding rasa nyaman dan ketenangan diri.

"Lalu temukan apa yang Anda butuhkan untuk merasa baik kembali, mungkin kembali berpakaian, pergi jalan-jalan atau ngobrol dengan orang lain tentang apa yang terjadi," kata konselor Brennan C. Mallonee.

2. Lelah

Seorang ibu dengan anak usia di bawah 5 tahun mungkin mengerti apa artinya lelah. Pekerjaan rumah tangga, belum lagi jika memiliki karier kadang membuat kasur terasa seperti tempat yang tepat untuk melepas lelah. Hanya mata yang terpejam, tanpa seks sama sekali.

Menurut sexpert Tracey Cox, pada skenario ini sebaiknya wanita mendiskusikan ini dengan pasangan. Ini perlu dilakukan demi menghindari pikiran negatif pasangan.

Akan tetapi, ada strategi lain yang bisa diterapkan untuk menjadikan seks aktivitas yang bermanfaat.

"Seks tak hanya memberikan energi, orgasme akan membuat Anda tidur lebih baik. Ini membuat Anda merasa lebih intim dengan pasangan dan mengurangi kadar stres, membuat Anda merasa lebih rileks," kata Cox dikutip dari Daily Mail (12/12).

Seks secara reguler membawa manfaat untuk kesehatan. Seks merilis hormon oksitoksin, testosteron dan dopamin yang menaikkan libido, menimbulkan rasa ingin dekat dengan pasangan dan membuat Anda lebih bahagia.

3. Masih marah selepas adu argumen

Ilustrasi. (Takmeomeo/Pixabay)
Hubungan intim dalam rangka memperbaiki keadaan pascapertengkaran kadang bisa jadi ide yang baik. Ada sesi 'pillow talk' untuk membicarakan secara terbuka apa yang terjadi dan harapannya menemukan solusi.

Akan tetapi ada situasi kemarahan yang membuat orang bahkan tak mau melihat pasangannya. Situasi ini jelas tidak memungkinkan untuk berhubungan intim dengan pasangan. Lebih baik menarik diri sejenak ke tempat di mana bisa merasa lebih tenang.

Terapis yang berbasis di Amerika Serikat, Jack Morin berkata kemarahan bisa saja berdampak positif terkait seksualitas. Fungsi utama dari rasa marah adalah perlindungan diri. Orang akan marah saat merasa terancam atau berada dalam bahaya.

Poinnya adalah risiko dan bahaya dalam konteks seksualitas biasanya menimbulkan gairah. Oleh karenanya, biasanya seks terlarang adalah seks yang terbaik.

"Ini adalah kunci di balik tindakan seksual atau fantasi dan pembangkangan dan pemberontakan," ujar Morin.

4. Bosan

Rasa bosan kerap melanda apalagi seks yang dirasa itu-itu saja. Bagai rutinitas yang monoton. Ini jadi alasan baik untuk 'istirahat' sebentar untuk mengembalikan 'mood' untuk berhubungan intim.

Bicarakan dengan pasangan dan tegaskan tak ada seks dalam jangka waktu tertentu. Cukup dengan foreplay berupa sentuhan atau ciuman tanpa penetrasi.

Semakin dilarang, maka ini akan menjadi semakin menggoda. Jika waktu 'larangan seks' sudah habis, maka Anda akan siap untuk seks dengan penetrasi.

5. Rasa sakit akibat seks

Jika mengalami rasa sakit dengan beragam bentuk seks artinya sebaiknya seks disetop hingga penyebab rasa sakit ditemukan. Pada kebanyakan kasus, rasa sakit timbul akibat penetrasi.

Penyebabnya beragam. Rasa sakit bisa muncul akibat foreplay yang kurang sehingga vagina kurang terlubrikasi.

Ukuran penis terlalu besar atau vagina yang terlalu 'rapat'. Namun ini pun sebenarnya bisa diselesaikan dengan lubrikasi yang cukup.

Jika terus berlanjut, maka sebaiknya mengunjungi spesialis.

Rasa sakit pada vagina tak hanya disebabkan oleh minimnya lubrikasi. Ada kondisi yang disebut dengan vaginismus. Otot-otot vagina kaku atau kejang tanpa sadar. Biasanya vaginismus disebabkan oleh rasa takut disakiti.

Bagi mereka yang sudah memasuki masa menopause (henti menstruasi), rasa sakit saat penetrasi disebabkan oleh kekeringan pada vagina, infeksi vagina, fibroid (tumor jinak pada rahim), kista, atau endometriosis (pertumbuhan jaringan dari lapisan dinding rahim atau endometrium tumbuh di luar rongga rahim).

(els/agi)