LANCONG SEMALAM

Wisata di 'Punggung' Pancar

CNN Indonesia | Sabtu, 19/01/2019 15:09 WIB
Wisata di 'Punggung' Pancar Goa Agung Garunggang di Babakan Madang, Kabupaten Bogor (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari Sabtu dan Minggu seakan menjadi hari kemenangan bagi orang yang setiap hari berkutat dengan kesibukan dan kemacetan. Khusus bagi warga Jakarta, mal menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Di awal tahun ini, cobalah menghabiskan waktu libur dengan lebih kreatif daripada melulu belanja, karena ada banyak destinasi wisata di sekitar Jabodetabek yang bisa dikunjungi jika mau mencari.

Beruntungnya Jakarta dan Bogor tersambung oleh jalan tol dan jalur kereta. Sentul langsung menjadi pilihan saya untuk berwisata pada akhir pekan kemarin.

Sentul adalah nama sebuah desa yang berada di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Namun nama desa tersebut menjadi terkenal karena banyak atraksi wisata yang terekspose dalam kurun waktu lima tahun belakangan ini.


Selain memiliki atraksi wisata buatan seperti wahana rekreasi keluarga, sirkuit, hingga gedung pertemuan yang kerap digunakan untuk keperluan konser, Sentul rupanya juga menyimpan banyak atraksi wisata alam yang perlu dijelajahi.

Pada sebuah pagi yang menjerumus muram karena dominasi awan gelap menjelang hujan, saya memutuskan untuk menempuh rute ke arah selatan Jakarta dengan sepeda motor untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang berada di Babakan Madang.

09.00 - Mencari letak Gua Agung Garunggang

Untuk mencapai tempat ini benar-benar membutuhkan mental dan fisik yang tangguh, karena harus menempuh jalan setapak di jalur perbukitan.

Jika berangkat dari arah Jakarta, cukup arahkan aplikasi peta digital kendaraan menuju Gunung Pancar.

Namun saat bertemu dengan pertigaan terakhir di kawasan Karang Tengah, ambil jalur lurus atau kiri untuk menuju kawasan Gua Agung Garunggang. Karena jika mengambil arah kanan maka akan tiba di Gunung Pancar.

Blusukan di Sentul Jalan setapak bebatuan khas perbukitan adalah satu-satunya jalur untuk menuju kawasan Gua Agung Garunggang. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Sekitar empat kilometer dari pertigaan tersebut, ada sebuah baliho di sebelah kiri jalan yang menjadi penanda lokasi Gua Agung Garunggang.

Jika menggunakan mobil, maka parkir kendaraan di tempat ini karena jalan yang akan dilalui selanjutnya berupa jalan setapak di kawasan perkampungan dan perbukitan.

Namun jika menggunakan sepeda motor, bisa dilanjutkan sampai desa terakhir atau bahkan sampai di kawasan Gua Agung Garunggang.

Blusukan di Sentul Pintu masuk ke gua pertama di kawasan Gua Agung Garunggang. (Foto: CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Perjalanan dari jalan beraspal terakhir ke Gua Agung Garunggang sekitar tiga kilometer, atau satu jam jika ditempuh dengan berjalan santai sembari menikmati pemandangan khas perbukitan.

Seorang penjaga Gua Agung Garunggang, Asep, menuturkan bagi yang tidak kuat berjalan bisa menggunakan jasa ojek dengan tarif Rp50 ribu untuk antar jemput dari jalan utama. Waktunya pun disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung. Sedangkan tarif masuk ke kawasan gua ini hanya Rp15 ribu per orang.

Gua pertama yang saya datangi harus ditempuh dengan menuruni tangga sedalam tiga meter, setelah itu petualangan menelusuri bagian perut bumi pun dimulai.

Blusukan di Sentul Bagian dalam gua pertama, berupa lorong sepanjang 100 meter dan tinggi sekitar delapan meter. Lengkap dengan aliran air dan sarang kelelawar. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Meskipun hanya memiliki panjang sekitar 100 meter, namun gua yang menawan ini dilengkapi stalaktit, stalakmit, dan juga makhluk nokturnal yaitu kelelawar.

Perlu diperhatikan, sebaiknya bawalah headlamp jika ingin masuk ke gua pertama ini, karena medannya cukup sulit, licin, dan terjal. Selain itu perhatikan juga musim, jika sedang musim hujan sebaiknya urungkan niat untuk memasuki gua pertama ini.

13.00 - Makan siang seadanya untuk mengisi tenaga

Setelah menghabiskan waktu lebih dari tiga jam, termasuk perjalanan, di kawasan Gua Agung Garunggang. Saya akhirnya memutuskan untuk melepas lelah di Gunung Pancar yang berada tidak jauh dari pertigaan Desa Karang Tengah.

Namun rupanya perut sudah meminta untuk diisi, dan sialnya sepanjang jalan tidak saya temui warung makan. Akhirnya ketika sampai di pertigaan Desa Karang Tengah saya melihat sebuah warung makan yang menjajakan menu olahan daging kambing, menepilah saya di sana.

Blusukan di Sentul Menu makan siang seadanya demi mengisi tenaga. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Berhubung suasana masih terik, saya memutuskan untuk tidak memesan menu olahan kambing dan beralih pada seporsi nasi goreng ayam beserta es teh manis.

Karena alasan mengisi tenaga, akhirnya saya ikhlaskan untuk melewati wisata kuliner di daerah ini dan lebih fokus menikmati kawasan yang didominasi atraksi wisata alam.

13.30 Bersantai di Gunung Pancar

Tidak ada alasan untuk berlama-lama di tempat makan karena kesejukan Gunung Pancar seakan sudah melambai untuk disambangi.

Berbekal selembar tiket masuk seharga Rp10 ribu, saya pun langsung mengarah ke dekat pemandian air panas dimana banyak warung yang menjual kelapa muda.

Tujuan saya bukan ingin hanya ingin bersantai di bawah hamparan pohon cemara yang rimbun menutupi jalan utama, sembari menikmati sejuknya udara.

Blusukan di Sentul Gunung Pancar. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Duduk di sebuah warung sambil berbincang singkat dengan sang pedagang tentang perubahan 'wajah' Gunung Pancar yang semakin Instagramable adalah satu-satunya aktivitas yang saya lakukan.

Menurut si pemilik warung dengan banyaknya spot foto saat ini, pengunjung pun makin membludak khususnya saat akhir pekan. Ia pun tidak menyangka jika penataan ini membawa dampak bagi bagi perekonomiannya.

15.00 Pemandian air panas Kawah Merah

Setelah puas menikmati kesejukan di kawasan hutan cemara Gunung Pancar, saya pun melanjutkan perjalanan untuk mencari letak Curug Kencana.

Setelah bertanya kepada petugas di Gunung Pancar tentang lokasi Curug Kencana, saya justru 'tersasar' di pemandian air panas Kawah Merah.

Jika berangkat dari kawasan pemandian air panas Gunung Pancar, maka tinggal ikuti saja satu-satunya jalan yang mengarah ke atas dan memasuki kawasan permukiman warga.

"Kalau sudah ketemu yang dibeton, Curug Kencana udah gak terlalu jauh," ujarnya.

Saya pun mengikuti arahannya, namun di tengah jalan saya melihat plang putih ala kadarnya bertuliskan 'Pemandian Air Panas Kawah Merah'. Karena penasaran, saya akhirnya memarkir motor dan mengikuti jalan setapak di persawahan.

Blusukan di Sentul Pemandian air panas Kawah Merah. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Tidak sampai 15 menit saya berjalan kaki, akhirnya saya bertemu dengan pemandian air panas yang dimaksud.

Tempatnya biasa saja, hanya ada dua buah kolam air panas yang ditutupi bilik bambu yang di cat warna biru. Namun jika dibandingkan dengan pemandian air panas Gunung Pancar yang untuk umum, tempat ini jauh lebih manusiawi.

Saya tidak sabar untuk merendam kaki sembari melemaskan otot yang sudah dihajar habis-habisan di Gua Agung Garunggang tadi pagi. Untuk bisa berendam di tempat ini, setiap pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang Rp10 ribu.

Siang itu hanya ada saya dan tiga pengunjung lain yang berendam di pemandian air panas Kawah Merah. Suasana yang tenang membuat saya semakin santai, terlebih otot-otot betis dan paha saya sudah semakin kendur.

16.00 Terjebak di kawasan Curug Kencana

Tidak ingin berlama-lama karena hari semakin sore, akhirnya saya pun melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya yakni Curug Kencana. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai kawasan ini.

Tiket masuk ke kawasan ini sebesar Rp35 ribu, itu sudah mencakup semua atraksi wisata yang ada di sana.

Satu hal yang cukup menarik perhatian adalah sebuah spot Instagramable di dekat Curug Cikujang. Tempat yang berada di tebing ini jelas sangat menarik bagi kalangan milenial, belum lagi ditambah perpaduan nuansa alamnya yang elok.

Blusukan di Sentul Spot Instagramable di dekat Curug Cikujang. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Namun karena tujuan saya adalah Curug Kencana, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Sebelum Curug Kencana ada sebuah kolam yang bernama Leuwi Pariuk. Sekilas tempat ini hampir mirip dengan Leuwi Hejo yang juga berada di kawasan Sentul, namun sedikit lebih luas dan lebih dalam.

Saya, yang tidak bisa melihat air jernih dan bening, akhirnya memutuskan untuk menjajal kesejukan airnya. Benar saja air di Curug Pariuk sangat segar, terlebih setelah menempuh perjalanan yang lengkap dengan peluh.

Blusukan di Sentul Curug Cikujang yang terletak di pinggir jalan sebelum Leuwi Pariuk. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Setelah puas bermain di 'genangan' itu, akhirnya saya memutuskan untuk bilas sebelum melanjutkan perjalanan.

Sialnya setelah saya usai bilas, hujan deras turun tanpa permisi. Saya yang tidak siap dengan perbekalan anti hujan pun hanya bisa menunggu reda sembari memesan kopi dan mengunyah kudapan di warung dekat tempat parkir motor.

Blusukan di Sentul Leuwi Pariuk. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Namun kali ini hujan benar-benar tidak bisa diganggu gugat. Sudah nyaris dua jam saya duduk menanti ia menyingkir, namun hujan tidak bergeming sama sekali. Akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Curug Kencana, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB dan suasana di sana sangat gelap.

Nampaknya kembali ke arah Jakarta adalah pilihan yang logis, mengingat di sepanjang jalan menuju Gunung Pancar dari Sirkuit Sentul juga jarang saya temui lampu penerangan.

21.00 Balas dendam di keramaian

Turun dari Kawsan Curug Kencana seorang diri pada malam hari di tengah hujan dan minim penerangan, adalah contoh yang buruk untuk ditiru.

Kesalahan saya hari itu sama sekali tidak menyiapkan jas hujan, sehingga mau tidak mau menembus hujan dengan risiko basah kuyup. Padahal saya tahu jika Januari adalah musim hujan.

Setelah melewati jalan gelap menuju kawasan Sirkuit Sentul, saya akhirnya bertemu dengan 'peradaban' kapitalis yang rupanya cukup menyenangkan.

Blusukan di Sentul Menu makan malam setelah bertemu dengan peradaban. (Foto: CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Perut yang sudah keroncongan pun tidak bisa dikontrol ketika melihat gerobak pecel lele di kawasan Cibinong. Satu ekor ikan bawal, ikan lele, cah kangkung, tahu, tempe, teh tawar hangat, dan dua piring karbohidrat jalanan menjadi teman saya menutup hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan.

(agr/ard)