Manggarai Barat Tak Ingin Ada 'Travel Warning' Terkait DBD

ANTARA, CNN Indonesia | Rabu, 30/01/2019 19:24 WIB
Manggarai Barat Tak Ingin Ada 'Travel Warning' Terkait DBD Pengasapan menjadi salah satu cara untuk menghalau penyakit demam berdarah. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bupati Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur, Agustinus Ch Dula mengatakan pemerintahannya terus berupaya menghindari adanya peringatan perjalanan (travel warning) bagi wisatawan akibat fenomena penyakit demam berdarah (DBD) yang melanda kawasannya.

Travel warning merupakan pernyataan peringatan resmi yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah untuk memberikan informasi bagi warganya tentang keselamatan relatif bepergian atau mengunjungi suatu wilayah untuk tujuan khusus.

"Kami sangat berkepentingan terkait masalah DBD ini, karena sebagai daerah tujuan wisata yang sudah mendunia takutnya terjadi travel warning," kata Agustinus, seperti yang dikutip dari Antara pada Rabu (30/1).


Ia mengatakan, kasus penyakit DBD di Manggarai Barat sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) sejak memasuki musim hujan tahun 2018 lalu hingga saat ini.

Jumlah kasus DBD yang tercatat khususnya selama 1-28 Januari 2019 telah mencapai 297 kasus.

"Sampai saat ini memang kasusnya masih banyak. Sudah ada lima korban yang meninggal dunia sejak ditetapkan KLB," katanya.

Namun, lanjutnya, penanganan penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti ini terus dilakukan, salah satunya melalui gerakan kebersihan lingkungan yang melibatkan berbagai pihak.

Pihaknya juga telah membentuk satuan tugas (Satgas) yang khusus menangani penyakit DBD, dengan melibatkan semua unsur pemerintah hingga tingkat RT-RW maupun lintas instansi.

"Ini untuk memastikan agar fenomena penyakit DBD ini tidak kemudian menjadi wabah dan akhirnya muncul travel warning," katanya.

Agustinus mengatakan, bencana penyakit merupakan hal yang sensitif bagi wisatawan terutama kalangan mancanegara yang relatif sangat protektif dengan keselamatannya.

Jika muncul adanya travel warning akibat penyakit DBD, lanjutnya, maka akan merugikan daerahnya sebagai daerah wisata yang sudah mendunia dengan memiliki destinasi unggulan yaitu Taman Nasional Komodo.

"Karena itu sebisa mungkin kami menghindari ini dengan berbagai upaya mengurangi kasus DBD. Tentu tidak hanya untuk kepentingan pariwisata namun terutama juga untuk masyarakat kami," katanya.

(ard)