Bedah Bariatrik, Cara Meminimalisir Lapar Pasien Obesitas

Tim, CNN Indonesia | Senin, 25/03/2019 09:35 WIB
Bedah Bariatrik, Cara Meminimalisir  Lapar Pasien Obesitas Ilustrasi obesitas (CNN Indonesia/Timothy Loen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Membebaskan seseorang dari obesitas bukan perkara mudah. Mengurangi asupan kalori dan menambah pengeluaran energi jadi 'pekerjaan rumah' yang sulit bagi mereka yang hidup dengan obesitas.

"Misalkan obesitas, dia 120 kilogram, kelebihan 55 kilogram. Mau menurunkan 5 kilogram saja susah, apalagi 55 kilogram. Ini mau naik gunung seterjal apa?" ujar ahli bedah digestif, dr Peter Ian Limas dalam temu media bersama Rumah Sakit Pondok Indah di Hotel Mulia, Jakarta, medio pekan lalu.

Salah satu solusi untuk persoalan obesitas morbid dengan indeks masa tubuh lebih dari 40 kg/meter persegi adalah dengan bedah bariatrik. Nama terakhir ini belakangan mendadak ramah terdengar di telinga akibat kasus Arya Permana dan Titi Wati.


Pada dasarnya, bedah bariatrik bertujuan untuk memodifikasi saluran pencernaan pasien sehingga meminimalisir rasa lapar serta mengurangi penyerapan kalori. Dalam jangka panjang, diharapkan terbentuk pola hidup anyar dan sehat, terutama berkaitan dengan pola makan.


Tak semua pasien layak menjalani bedah bariatrik. Peter mencatat beberapa kriteria tertentu yang harus dipenuhi pasien untuk menjalani operasi. Hanya pasien dengan BMI lebih dari 37,5 kg/meter persegi yang disebut layak. Selain itu, pasien dengan penyakit turunan akibat obesitas juga diperbolehkan mengikuti bedah bariatrik.

Namun, bukan berarti bedah jenis ini hadir tanpa risiko. Mereka yang ingin menurunkan berat badan tak bisa begitu saja melakukan prosedur bedah.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi pasien sebelum melakoni bedah. Besarnya biaya dan target penurunan berat badan mesti sebanding.

Ada empat jenis teknik bedah bariatrik. Keempat jenis itu di antaranya gastric bypass, sleeve gastrectomy, mini gastric bypass, dan adjustable gastric banding.

"Yang paling banyak diaplikasikan adalah sleeve gastrectomy," kata Peter. Dalam operasi ini, sebanyak 85 persen lambung dibuang dan disisakan 15 persen atau yang secara kasat mata hanya sebesar kelingking.

Pascaprosedur, asupan makan pasien masih mendapat pengawasan ketat dari dokter. Dalam jangka waktu tertentu, pasien akan kehilangan berat badan sebanyak 55-85 persen dari kelebihan berat badan atau 30 persen dari berat badan total.

"Dalam jangka waktu kira-kira setahun, pasien biasanya memerlukan operasi plastik untuk menghilangkan kulit yang tersisa," kata Peter.


Tawaran Harapan Hidup

Faktanya, obesitas bisa menurunkan angka harapan hidup. Pada pria obesitas III (BMI lebih dari 37,5 atau berat badan lebih dari 96 kilogram), usia harapan hidup berkurang hingga 12 tahun. Sedangkan pada wanita, harapan hidup berkurang 9 tahun.

Tak hanya itu, angka kematian pada pasien juga bisa 12 kali lebih tinggi jika obesitas terjadi di usia 25-34 tahun.

Dengan pembedahan bariatrik, beban tubuh seseorang akan berkurang. Secara tidak langsung, hal itu juga akan berujung pada meminimalisir risiko penyakit tambahan yang berhubungan dengan obesitas.

"Pembedahan obesitas [bariatrik] bisa memperpanjang hidup dan menyelesaikan penyakit tambahan yang berhubungan dengan obesitas," pungkas Peter.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)