Berkat Bariatrik, Gerak Naufal Kian Terasa Ringan

Tim, CNN Indonesia | Senin, 25/03/2019 17:16 WIB
Berkat Bariatrik, Gerak Naufal Kian Terasa Ringan Muhammad Naufal Abdillah, pasien obesitas yang menjalani bedah bariatrik. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Buat Muhammad Naufal Abdillah, tubuh subur bukan lagi soal ejekan yang tak menyenangkan. Dengan berat 239 kilogram, dia mudah lelah hanya karena berjalan kaki yang tak seberapa jauh. Menaiki tangga pun, dia harus berhenti di setiap anak tangga. Itu semua terjadi gara-gara obesitas yang dideritanya.

"Dari kecil memang cepat gemuk, tiap bulan naik satu kilogram, sakit pun bisa naik 0,5 kilogram. Dulu kelas 6 SD berat 110 kilogram, masih bisa futsal, jalan-jalan, renang," ujar Naufal saat ditemui di sela-sela temu media bersama RS Pondok Indah di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Pusat, medio pekan lalu.

Puncaknya saat masuk jenjang sekolah menengah pertama. Kegiatan pesantren yang cukup padat dan tuntutan tugas akademis membuatnya stres. Mi instan pun jadi pelampiasan.


Pria 23 tahun ini bahkan pernah menghabiskan tiga porsi nasi goreng. Imbasnya, tubuhnya kian lemah, mudah lelah, nyeri terasa di persendian, dan pergerakan pun kian terbatas.

Ragam metode diet dilakoni pria berdarah Madura ini. Membuahkan hasil, tapi hanya sementara. Tak ayal, berat badan kembali naik, bahkan lebih besar dari sebelumnya.

"Diet ini itu paling bertahan cuma dua bulan," kata Naufal. Terakhir, dia melakoni diet OCD ala Deddy Corbuzier. Tak berhasil, dia cuma bertahan hingga satu bulan.

Berkat konsultasi bersama ahli, Naufal menjalani bedah bariatrik. Sebelum prosedur bedah dijalani, Naufal melakukan cek endoskopi untuk melihat fungsi organ dan cek laboraturium secara lengkap. Setelah hasil positif didapat, 10 hari kemudian operasi pun dilakukan pada awal Desember 2018 lalu.

Dokter melakukan tindakan bedah sleeve gastrectomy. Lambung milik Naufal dipotong memanjang hingga menyisakan seukuran kelingking.

Tak lepas pengawasan

Bariatrik bukan senjata ampuh yang langsung memusnahkan obesitas. Pasien harus patuh pada pola makan dan aktivitas fisik yang disarankan.

Lepas operasi, Naufal masih berada di bawah pengawasan dokter untuk memastikan asupan yang masuk.

"Saya selalu pantau. Apa yang bisa dimakan? Yang pasti makanan rendah kalori dan gula," kata ahli gizi klinis RS Pondok Indah, dr David Fadjar Putra, yang menangani Naufal.

Sebulan pertama pascaoperasi, Naufal hanya diperbolehkan minum susu protein untuk membantu pemulihan luka bekas operasi dan disusul oleh makanan bertekstur lunak.

Setelahnya, Naufal bebas mengonsumsi apa pun dengan catatan minim gula.

Adaptasi pola makan baru tak selalu berjalan mulus. Naufal kerap merasa stres. Mulut yang masih ingin mengunyah tak didukung oleh daya tampung perut yang dipangkas banyak. Naufal hanya memuaskan mata lewat video dari YouTube atau platform media sosial lain.

Seiring berjalannya waktu, pola makan anyar pun terbentuk. Rasa malas menyantap makanan-makanan yang sebelum itu sangat digilainya mulai muncul.

Sebulan pascaoperasi, berat badan Naufal turun sebanyak 15 kilogram. Dari pengukuran terakhir bulan Februari lalu, berat badan Naufal tercatat 202 kilogram. Dalam satu tahun ini, dia bertekad menurunkan berat badan hingga 100 kilogram.

"Sekarang baju mulai longgar, bergerak jadi ringan, salat pun tak seberat dulu. Selanjutnya, karena ini sudah on the track, mau bertemu dengan dokter olahraga untuk konsultasi olahraga apa yang cocok. Selama ini sih renang tiga kali seminggu," tuturnya disusul senyum.


[Gambas:Video CNN] (els/asr)