Lepas dari Tunakarya, Ibu Berdaya dengan Barang Bekas

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 13:31 WIB
Banyak ibu tunakarya di Bali terpaksa turun ke jalan, mengemis, dan kerja serabutan demi keluarga. Kini, dengan barang bekas, mereka berusaha berdaya. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Denpasar, CNN Indonesia -- Sebuah rumah sederhana berhalaman cukup lapang yang terletak agak tersembunyi dari tepi jalan Gunung Karang, Kota Denpasar, Bali, menjadi tempat berteduh belasan ibu bersama anak mereka.

Di dalamnya, ibu-ibu berkumpul di teras belakang beratap asbes yang melindungi mereka dari teriknya sinar matahari Bali di musim pancaroba. Mereka mengelilingi meja kecil, lesehan, dan berusaha mempelajari hal baru.

Ada yang mengecat kain. Sedangkan di sisi lain teras, di sebuah ruangan hanya berukuran 2x3 meter, beberapa ibu belajar untuk menjahit. Suhu panas yang menembus asbes tak menghentikan mereka untuk tetap fokus pada pekerjaannya sembari sesekali mengobrol atau menjawab rengekan anak.


Mereka adalah ibu-ibu tunakarya yang tergerak atas ajakan lembaga nirlaba Bali Life Foundation untuk mulai memberdayakan diri di rumah bernama Street Kids Centre and Woman Workshop yang dibangun sejak 2015 itu.


Mereka semula bekerja serabutan. Bahkan, tak sedikit yang mengemis di jalanan Bali, mengharap dolar dan rupiah dari para turis.

Sedangkan anak-anak yang berlarian dan tertawa girang di sisi lain rumah itu adalah buah hati mereka. Warna kulit anak-anak itu menandakan intensitas kegiatan mereka menemani sang ibu mencari nafkah di jalanan. Mereka telah bekerja sejak dini, bahkan sedari gendongan, demi sesuap nasi.

Para anak dan ibu ini adalah tulang punggung keluarga mereka.

Banyak anak yang meninggalkan bangku sekolah untuk mengemis, menjual sesuatu, atau bekerja sebagai pegawai spa atau buruh bangunan demi membantu ibu mengumpulkan uang. Uang hasil jerih payah itu lalu diberikan ke ayah atau suami mereka di kampung.

Rumah lokakarya para ibu tunakarya terletak di Kota Denpasar, Bali. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Di kampung, para suami juga tak memiliki pekerjaan menentu. Bahkan ada pula yang memilih menyabung ayam alih-alih bekerja memberi nafkah untuk keluarga. 

Wayan tahu betul kisah itu. Wanita asli Karangasem, Bali, ini masih mencari nafkah untuk anak-anaknya di usia dia yang sudah paruh baya. Bila tak bekerja, ia tak tahu anak-anaknya akan makan apa.

Wayan bergabung dengan rumah tersebut sejak 2015. Ia tergerak untuk ikut bergabung setelah berjuang sendirian bekerja serabutan di jalanan Denpasar. Bekerja di kota ia pilih untuk mendapatkan rezeki lebih dari sekadar di kampung.


"Saya pisah sama suami saya. Saya berjuang untuk anak-anak saya," kata Wayan yang sungkan menyebutkan alasan detail keputusannya berpisah dari sang suami yang hanya memilih beternak babi sebanyak dua ekor.

"Apa saja saya kerjakan. Cuma saat ini saya jualan tisu, sama anak-anak. Lumayan, dapat Rp100 ribu dalam sehari," kata Wayan.

Wayan menyebutkan, setiap kali dirinya berhasil mengumpulkan uang, pendapatan itu akan ia simpan untuk kebutuhan sehari-hari, anak-anak, dan juga dibawa ke kampung untuk menyuplai finansial suami juga kebutuhan upacara adat hingga berjuta-juta setiap bulannya. 


Sejumlah ibu mengisi kegiatan mereka dengan menjahit bersama ibu tunakarya lainnya. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Membantu menyuplai finansial keluarga juga dilakukan oleh Sugiyanti. Wanita asal Jawa ini pindah ke Bali mengikuti suaminya yang bekerja sebagai buruh di toko kaca dengan pendapatan Rp100 ribu per harinya.

Semula, Sugiyanti hanya mengisi kegiatan sebagai ibu rumah tangga. Namun kebutuhan keluarga dengan dua anak menuntut dirinya mencari pekerjaan lain.

"Anak yang besar usianya 14 tahun, yang kecil 12 tahun," kata Sugiyanti. "Anak saya [yang tertua] sekolah SMP umum [non-negeri], bayar SPP-nya Rp250 ribu per bulan. Yang bungsu di SD, masih gratis, tapi kelas 6 dan sebentar lagi SMP,"

Bawa Dolar Hasil Mengemis

Bukan perkara mudah bagi Netty Sitanggang, koordinator Women Workshop Pusat Pemberdayaan Wanita Bali Life Foundation untuk mengajak para ibu tunakarya sekaligus mengelola rumah ini, dengan segala keterbatasannya.

Netty Sitanggang, koordinator Women Workshop Pusat Pemberdayaan Wanita Bali Life Foundation. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Apalagi, bagi yang menargetkan ibu dan anak jalanan seperti Wayan, mengemis sudah jadi tradisi di pulau tujuan wisata dunia itu. "Untuk menjangkau anak jalanan ini cukup susah karena sudah turun-temurun di jalanan," kata Netty.

"Jadi fokus kami bagaimana menghentikan mereka turun kembali ke jalan. Biar mereka tidak lagi mengemis dan punya pendidikan. Ibu-ibunya kami bawa ke sini, karena mereka tidak mau datang kalau ibunya tidak ke sini," lanjutnya.

Netty menyebut semula yayasan memberikan iming-iming uang Rp50 ribu per hari agar para ibu dan anak tunakarya ini mau tergerak. Namun strategi yang dirasa kurang baik itu telah ditinggalkan dan diganti menjadi pendekatan persuasif.

Selain mengisi kegiatan, di rumah lokakarya ini para ibu juga menjaga anak-anak mereka. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Netty menyebut tindakan persuasif yang dilakukan dengan keliling kawasan Denpasar dan Kuta itu memang sulit. Apalagi, mengingat dengan mengemis, para ibu dan anak ini bisa mendulang uang dengan mudah.

"Kalau dari cerita mereka di sini, mereka di jalan bisa mendapatkan Rp150 ribu [per hari]. Bayangkan saja kalau anaknya ke jalan semua, satu anak dapat Rp50 ribu. Kalau mereka punya enam anak? Rp300 ribu. Dan anak mereka bukan cuma satu, ada tiga sampai enam," kata Netty.

"Kadang ada anak yang datang ke sini bawa dolar. Apalagi ini di Bali," lanjutnya.


Cerita para ibu tunakarya berjuang menafkahi anak dan keluarga berlanjut ke halaman berikutnya... (end)
1 dari 2