Dua Aspek Penting Melestarikan Candi Borobudur

ANTARA, CNN Indonesia | Kamis, 18/04/2019 15:45 WIB
Dua Aspek Penting Melestarikan Candi Borobudur Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memperingati Hari Warisan Dunia yang jatuh setiap tanggal 18 April, salah satu pihak pengelola Candi Borobudur membutuhkan dukungan berupa lingkungan alam yang lestari dan masyarakat sekitarnya.

Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB), Tri Hartono, menuturkan Hari Warisan Dunia 2019 dengan tema "Rural Landscapes" menjadi kesempatan penting berbagai pihak terkait, untuk merenungkan tentang kolaborasi bagi pelestarian kompleks Candi Borobudur dengan kawasannya

"Tinggalan purbakala, lingkungan, dan masyarakat adalah tiga hal yang tidak terpisahkan," kata Tri, seperti yang dikutip dari Antara, Kamis (18/4).


Menurutnya konservasi alam dan pengembangan sosial-budaya, direncanakan serta dilaksanakan dengan mengambil inspirasi dari kemegahan Borobudur dan candi-candi lainnya.

Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (Unesco) pada 1991 menetapkan Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon sebagai warisan dunia dengan nama Borobudur Temple Compounds.

Konservasi bangunan Candi Borobudur, antara lain dilakukan Pemerintah Hindia Belanda pada 1907-1911 dan Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Unesco pada 1973-1983.

Ancaman utama dari situs itu, katanya, pembangunan yang memengaruhi hubungan antara monumen dengan lansekap di sekitarnya. Terutama karena penegakan regulasi tata ruang yang masih lemah.

Selain itu, katanya, apabila kegiatan pariwisata tidak dikontrol dengan baik akan membawa efek negatif bagi bangunan cagar budaya serta kawasannya.

Ia berharap peringatan Hari Warisan Dunia 2019 meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan keanekaragaman warisan budaya, dan berbagai usaha yang diperlukan untuk menjaganya.

Terkait dengan tema "Rural Landscapes", ia melanjutkan, merupakan hal penting karena lansekap merupakan perpaduan akumulasi dari warisan budaya benda dan tak benda yang terjadi karena adaptasi terhadap kondisi lingkungan, sosial, politik, dan ekonomi.

Selama berabad-abad, ia melanjutkan, lansekap pedesaan telah menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan lingkungannya, termasuk di Candi Borobudur.

Menurutnya warisan budaya dari proses tersebut adalah bukti perpaduan yang kaya dan kompleks dari warisan benda, tak benda, dan tradisi yang masih berjalan dengan dinamis dari waktu ke waktu.

[Gambas:Video CNN] (agr)