Bahan Pakaian yang Ramah dan Tak Ramah Lingkungan

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 03/09/2019 09:07 WIB
Bahan Pakaian yang Ramah dan Tak Ramah Lingkungan Ilustrasi (Foto: Arselan Ganin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap pakaian yang dikenakan berdampak nyata terhadap lingkungan. Beberapa jenis pakaian memiliki dampak yang baik, sebagian besar lainnya justru berdampak buruk untuk kelangsungan alam.

Perkembangan industri mode yang cepat dan tren yang terus berganti membuat 80 miliar potong kain setiap tahunnya diproduksi. Data dari The Waste and Resources Action Programme (WRAP), pakaian dengan total harga mencapai 140 juta poundsterling atau Rp2,5 triliun ditemukan di tempat pembuangan sampah.

Pembuangan bahan tekstil ini dapat melepaskan racun ke bumi, serat mikro ke saluran air, dan emisi metana ke udara. Pada 2050, industri mode bahkan disebut sebagai penyumbang polusi dunia setelah minyak.


Untuk mencegah dampak buruk dari pakaian, konsumen dapat memilih untuk tidak menggunakan pakaian yang berdampak buruk pada lingkungan dan menggunakan pakaian yang ramah lingkungan.

Berikut jenis pakaian dengan dampak yang buruk untuk lingkungan.

1. Katun
Katun merupakan kain yang terbuat dari serat alami yakni kapas. Konsultan fesyen berkelanjutan Alice Wilby menjelaskan, proses pembuatan katun membutuhkan banyak air. Untuk membuat satu celana jins dibutuhkan 10 ribu hingga 20 ribu galon air dan 3 ribu untuk satu kaus.

Pertanian kapas juga menggunakan pestisida dan bahan kimia beracun yang meresap ke dalam bumi dan merusak persediaan air.

"Kapas merupakan tanaman yang mendatangkan malapetaka bagi manusia dan planet, bahkan sebelum menjadi pakaian," ucap Wilby, dikutip dari Independent.

Penelitian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, sekitar 20 ribu orang meninggal dunia karena kanker dan keguguran akibat bahan kimia yang disemprotkan pada kapas.

2. Sintetis (poliester, nilon, dan akrilik)
Kain sintetis tidak ramah lingkungan karena diproduksi dari minyak. Bahan sintetis juga tidak dapat terurai secara alami dan bergantung pada petrokimia atau ekstraksi bahan bakar fosil.

"Penggunaan bahan bakar fosil membawa serta masalah-masalah merugikan termasuk tumpahan minyak, emisi metana, dan gangguan satwa liar serta hilangnya keanekaragaman hayati," ucap Wilby.

Selain itu, kain sintetis juga berdampak buruk karena setiap kali dicuci akan melepaskan serat mikro ke saluran air yang menyebabkan kerusakan ekosistem laut secara signifikan.

3. Bahan hewan (wol, kulit, dan bulu)
Bahan-bahan dari hewan ini berasal dari peternakan yang menyebabkan 14,5 persen emisi gas rumah kaca. Selain itu, satu miliar hewan dibunuh setiap tahunnya untuk diambil kulit mereka.

Sebanyak 5 persen kulit mengandung kromium, zat beracun yang terdapat pada penderita kanker dan penyakit kulit.

Berikut jenis pakaian yang ramah lingkungan.

1. Daur ulang
Kain daur ulang dari wol, kapas, sintetis dapat digunakan untuk mencegah kain yang terbuang di tempat sampah. Pemanfaatan kain daur ulang ini dapat menjaga kelangsungan lingkungan.

2. Serat selulosa buatan
Serat berbasis selulosa mengacu pada serat yang diperoleh dari bahan nabati. Bahan ini dapat diekstraksi secara langsung dari tanaman, seperti kapas. Serat ini dapat terurai secara alami.

Proses pembuatan selulosa menggunakan air yang didaur ulang, lebih sedikit bahan kimia yang digunakan dan dikelola berdasarkan peraturan yang ketat.

3. Serat bast
Serat bast bersumber dari tanaman dengan batang yang terdiri dari inti kayu dan kulit berserat, seperti rami dan jelatang. Serat ini memiliki banyak keuntungan yakni konsumsi air yang sedikit dan tahan terhadap hama serta penyakit.

Rami disebut juga sebagai alternatif terbaik dari kapas karena menggunakan sedikit air, dapat ditanam di mana saja, tumbuh subur tanpa pestisida, dan mengurangi karbon.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)