Analisis

Influencer Cilik, Antara Kekhawatiran dan Pijakan Masa Depan

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Jumat, 26/07/2019 13:19 WIB
Influencer Cilik, Antara Kekhawatiran dan Pijakan Masa Depan Ilustrasi. Influencer cilik berada pada dua sisi, antara pijakan masa depan cerah anak dan kekhawatiran yang timbul. (Foto: Raw Pixel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tingkah anak tak pelak mengundang tawa. Tak jarang orang tua mengabadikan tingkah lucu mereka dan mengunggahnya di media sosial.

Melihat respons positif dari netizen, momentum ini dimanfaatkan untuk lebih banyak berbagi keseharian anak. Tak tanggung-tanggung, beberapa orang tua bahkan membuatkan akun pribadi buat si buah hati.

Unggahan pun dikonsep sedemikian rupa sesuai dengan minat anak. Caption dibuat menggemaskan seolah-olah ditulis oleh si anak.

Coco, influencer fesyen cilik asal Jepang, tertular dari orang tuanya yang memiliki toko busana vintage di Harajuku. Bocah berusia delapan tahun ini kerap mengunggah foto dirinya lengkap bergaya trendi.

Tak sembarangan, busana dan aksesori Coco berasal dari sederet label kenamaan seperti Balenciaga, Burberry, Supreme, dan Gucci.

[Gambas:Instagram]

Tak hanya di mancanegara, fenomena influencer cilik juga merambah ke Indonesia.

"Ntar liatin aku main ya. Kakak aku dapet promo nih dari beli voucer."

Jonathan Ricardo Sugianto alias Tatan, si influencer cilik tampak menggemaskan. Potongan rambut cepak nyaris botak dan kacamata berbingkai hitam membuatnya tampil jenaka. Dengan fasih dia mempromosikan wahana bermain dengan penawaran spesial.

Akun @jrsugianto telah memiliki lebih dari 3 juta pengikut. Beragam unggahan ada di sana. Mulai dari kegiatan sehari-hari hingga aktivitas endorsement. Celotehnya mengundang tawa karena diksi-diksi yang digunakan.

[Gambas:Instagram]

Psikolog anak, Kantiana Taslim tak memungkiri adanya tren influencer cilik. "Kalau kita lihat, lucu-lucu aja. Anak terlihat percaya diri sehingga produk tampak menarik," kata perempuan yang akrab disapa Nana ini pada CNNIndonesia.com, Senin (22/7).

Tak jadi soal. Nana menyebut, eksistensi anak di media sosial tak ubahnya kegiatan selingan. Peminatan dan kepercayaan diri di media sosial bisa jadi modal anak untuk merambah dunia lain yang sesuai ketertarikan.

Senada dengan Nana, pemerhati anak, Seto Mulyadi beranggapan, bukan tak mungkin jika influencer cilik bisa menjadi batu pijakan anak untuk masa depan. Di masa mendatang, anak bisa menggeluti hal serupa. Apalagi mengingat tren dan peluang karier di dunia digital yang semakin terbuka.

"Kalau kemudian ingin jadi YouTuber dan dimulai dari influencer, kenapa tidak? Itu bagian dari minat anak," ujar pria yang kerap disapa Kak Seto ini pada CNNIndonesia.com, Selasa (23/7).

Apa yang dikatakan Kak Seto tampak sejalan dengan kabar yang sempat hangat beberapa waktu ke belakang. Sejumlah perguruan tinggi di Indonesia memberikan beasiswa untuk calon mahasiswa bertitel YouTuber. Artinya, peluang masa depan untuk 'profesi' anyar seperti YouTuber kian terbuka.

Nana tidak memungkiri bahwa tren ini muncul akibat perkembangan dunia digital. Perkembangan teknologi kian mendatangkan aneka tren dan peluang karier di masa depan.

"Prinsipnya, kan, potensi anak bermacam-macam. Istilah pintar atau enggak cuma di pelajaran. Ada yang pintar olahraga, seni. Kalau dia pintar, mendapat beasiswa YouTuber, punya standar baik, memang influencer bermutu, dan konten bagus, kenapa enggak?" ujar Nana.

Akan tetapi, merencanakan dan mengolah konten yang baik bukan perkara mudah. Dalam konteks influencer cilik, hampir semua konten merupakan hasil kreativitas orang tua. Namun, bukan tak mungkin jika si anak diam-diam mempelajari apa yang diolah orang tua.

[Gambas:Video CNN]

Hal ini, kata Nana, tergantung pada stimulus yang diberikan orang tua terhadap anak. Anak bisa diarahkan untuk membuat konten yang baik dengan media apa pun. Stimulus yang diberikan sesuai dengan tahapan tumbuh kembang dapat meningkatkan kreativitas dan daya pikir anak.

"Kuncinya pada bagaimana stimulus yang baik untuk anak sesuai tahapan tumbuh kembang dan eksplorasi yang diberikan sehingga wawasannya luas, proses berpikirnya baik, kreatif dan autentik sehingga bisa membuat konten yang baik," jelas Nana menegaskan.

Bergelut dengan konten kreatif barangkali bisa menjadi pelengkap pendidikan anak. Mengasah kemampuan otak kiri, di luar deretan mata pelajaran saklek di sekolah.

Orang tua, kata Nana, perlu menumbuhkan minat baca agar wawasan anak semakin luas. Keterampilan sosial juga perlu diasah untuk tampil percaya diri di depan umum.

"Ajak anak berdiskusi agar cara berpikir anak lebih sistematis dengan kemampuan bahasa yang terarah," kata Nana.

Yang Perlu Menjadi Catatan

Kendati memberikan celah positif, menjadikan anak sebagai influencer cilik juga perlu memperhatikan beberapa hal.

"Influencer cilik tetap lah anak-anak. Cara pemikiran pun khas anak. Mereka bukan 'orang dewasa mini'," kata Kak Seto.

Kak Seto mengingatkan orang tua untuk mendengarkan anak. Orang tua bisa saja menganggap bahwa anak mampu menjalani rutinitas sebagai influencer cilik. Namun, bukan berarti kendali hanya ada di tangan orang tua.

"Mohon mendengarkan suara anak. [Kegiatan] dilakukan karena keinginan anak, bukan ambisi orang tua semata," ujar Kak Seto.

Orang tua juga harus bijak dalam memilih konten. Unggahan bernuansa mendidik akan menginspirasi anak saat remaja dan dewasa kelak.

"Kalau orang tua enggak bijak dalam memilih dan tidak memikirkan konsekuensinya, dampaknya bisa berbeda. Bisa saja anak akan menganggap ini sebagai aib di kemudian hari," kata Nana.

Lainnya adalah soal privasi yang terganggu sebagai konsekuensi popularitas anak. Mau tak mau, titel sebagai influencer cilik membawa pengaruhnya pada keseharian anak.

"Jangan aneh jika tiba-tiba anak menghadapi 'serbuan' penggemar yang meminta foto," kata Nana.

Privasi anak akan terganggu, lanjut Nana, jika orang tua tak membatasi. Dia mengingatkan orang tua untuk tetap memberikan anak waktu bermain dan menikmati masa kecilnya.

"Enggak cuma dari segi hak bermain. Pendidikan dan hak anak untuk beristirahat pun perlu dipenuhi. Jangan sampai kegiatan selingan ini mengganggu hak anak," ujar Nana.


[Gambas:Video CNN] (asr/asr)