Produsen sepatu itu adalah Rens. Berbasis di Helsinski, para pembuatnya punya beragam alasan. Mengutip Mental Floss, mereka sangat menyayangkan ampas kopi yang kerap dibuang. Daripada menjadi limbah yang berdampak buruk bagi lingkungan, apa salahnya jika ampas kopi didaur ulang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepasang sepatu disebut memiliki bobot 300-460 gram. Ampas kopi dan sebanyak enam botol plastik bekas digunakan untuk setiap pasang sepatu.
Rens bukan yang pertama mengeluarkan produk fesyen berbahan ampas kopi dan limbah botol plastik yang didaur ulang. Sebelumnya, perusahaan yang berbasis di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat, meluncurkan Hoodie Evolution. Nama terakhir merupakan seri hoodie ramah lingkungan.
Mengutip Metro, setiap hoodie terbuat dari tiga cangkir ampas kopi dan 10 botol plastik bekas. Bahan didapat dari ampas kopi dan botol plastik bekas yang dikumpulkan karyawan Coalatree, si produsen jaket.
Ada pula Sebastian Thies, melalui label nat-2, yang sebelumnya telah lebih dulu meluncurkan produk sepatu berbahan kopi pada 2018 lalu. Bedanya, sneaker yang dibuat Thies menggunakan bubuk kopi, bukan ampas.
Mengutip Sprudge, berbasis di Munich, Jerman, Thies menciptakan sepatu dengan 50 persen bahan bubuk kopi yang berasal dari berbagai daerah.
Kini, beragam produsen fesyen memang tengah beramai-ramai menciptakan produk ramah lingkungan. Gema tingkat pencemaran lingkungan di dunia yang kian tinggi menjadi pendorongnya.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)