Coco Chanel:Gadis Miskin Perancis yang Jadi Ikon Fesyen Dunia

tim, CNN Indonesia | Senin, 19/08/2019 18:08 WIB
Coco Chanel:Gadis Miskin Perancis yang Jadi Ikon Fesyen Dunia Selamat ulang tahun Coco Chanel (AFP PHOTO / STF)
Jakarta, CNN Indonesia -- I don't do fashion, I am fashion."

Kalimat populer dunia fesyen ini ini meluncur dari mulut ikon fesyen Coco Chanel. Seorang aktor intelektual di balik label kenamaan, Chanel. Berkat perempuan satu ini, kini orang-orang berseliweran mengenakan tas, busana bahkan parfum Chanel No.5 yang hingga kini masih diminati sejak peluncurannya pada 1922. 

Akan tetapi jauh sebelum gemerlap panggung pertunjukan dan hingar bingar fesyen Paris, si kota mode, Chanel hanyalah gadis miskin di pinggiran Prancis. Dia lahir dengan nama Gabrielle Bonheur Chanel di Saumur, Prancis pada 19 Agustus 1883. 


Pascakematian sang ibu, Eugénie Jeanne Devolle, Chanel yang masih berusia 12 tahun dibawa ayahnya, Albert Chanel ke biara Aubazine milik Kongregasi Hati Kudus Maria. Di sana biara mengelola panti asuhan untuk gadis yatim piatu. Chanel harus hidup serba sederhana dan tuntutan kedisiplinan tinggi. Meski demikian, di sini dia belajar menjahit. 


Dari gadis panti asuhan, perlahan Chanel mulai mengubah nasib dengan menjadi penyanyi klab di Vichy dan Moulins. Dari sana Chanel beroleh panggilan 'Coco'. Kata ini berasal dari lagu yang biasa dia nyanyikan. Coco berasal dari kependekan kata 'cocotte', istilah dalam bahasa Prancis yang berarti 'wanita simpanan'. 

Coco ChanelFoto: AFP PHOTO / STF
Coco Chanel

Menjadi penyanyi membuatnya bertemu dengan sederet pria-pria kaya. Hingga pada 1913, dia memperoleh sokongan dana dari Arthur 'Boy' Capel, salah satu pria kelas atas asal Inggris. Pada 1910, dia membuka toko di Rue Cambon, Paris kemudian disusul di Deauville dan Biarritz. Mula-mula ia hanya menjual topi, baru kemudian dia menjual pakaian. Bukan gaun atau busana serba mewah, melainkan jersey.

"Keberuntungan saya dibangun pada jersey tua tersebut yang saya kenakan karena Deauville itu dingin," ujar Chanel pada penulis Paul Morand mengutip dari laman Biography. 

Tak berhenti di situ, Chanel memperluas bisnisnya dalam ranah wewangian. Parfum pertama yang diluncurkan menyandang nama keluarganya, Chanel No.5. Angka '5' disematkan karena Chanel meyakini ini adalah angka keberuntungannya. Versi lain mengatakan angka ini menandai kreasi kelima yang dipilih Chanel dari kreator parfum Ernst Beaux. 

"[Parfum] itu tak terlihat, tak terlupakan, aksesori fashion yang utama...yang menandai kedatangan dan membuat orang mengenang Anda saat Anda beranjak," jelas dia kala itu. 

Inovasinya inilah yang membuat nama dia makin dikenal.

koleksi ChanelFoto: REUTERS/Gonzalo Fuentes
koleksi Chanel

Menyelamatkan wanita dari siksa korset

Wanita masa kini barangkali berutang budi pada Chanel. Pasalnya, dialah yang membebaskan wanita dari ketat dan siksa korset. Mengutip berbagai sumber, di masa itu, wanita dan korset seperti dua hal yang sulit dipisahkan. Baru pada 1925, Chanel memperkenalkan setelan jaket tanpa kerah dan rok ketat (well-fitted skirt). Desain ini dianggap revolusioner. Dia pula yang memperkenalkan bell-bottomed pants pada kaum hawa yang nyaman dikenakan dalam aktivitas apapun.  

Gaya busana lain yang begitu fenomenal dan masih dipraktikkan hingga kini ialah little black dress (LBD). Ini sesuai dengan prinsipnya yakni "simplicity is the keynote of all true elegance."

Akan tetapi, ia tak lama meneguk popularitas dan keuntungan sebab pada sekitar 1930-an, Perang Dunia II berimbas pada usahanya. Setelah merumahkan karyawan dan menutup usahanya, dia menghabiskan hari di Swiss, dan juga di rumahnya di Roquebrune, sebuah wilayah pedesaan di dekat Monako. 

Baru pada awal 1950-an, dia kembali ke panggung fesyen meski usia sudah kepala tujuh. Tak perlu waktu lama untuk kembali menarik perhatian 'fashionista' dunia. Ini semua berkat rancangannya yang feminin dan potongan sederhana. 


Pada 10 Januari 1971, dunia fesyen pun mengucapkan selamat tinggal padanya. Church of the Madeleine menjadi saksi para pelayat yang menangis dan memberikan penghormatan terakhir dengan mengenakan setelan Chanel. 

Koleksi ChanelFoto: REUTERS/Charles Platiau
Koleksi Chanel


Selama nyaris satu dekade kemudian, mendiang Karl Lagerfeld memberikan 'suntikan ajaib' pada Chanel hingga label ini bisa menancapkan taring di dunia fesyen kembali. Label kini berstatus milik keluarga Wertheimer. Tak bisa dimungkiri, Karl punya andil besar dalam membawa Chanel pada masa kejayaan pascakepergian Chanel. 

Karl Lagerfeld kini juga sudah meninggal dunia, tampuk kepemimpinan Chanel kini dipegang oleh Virginie Viard yang berjanji bakal tetap meneruskan DNA Coco Chanel dalam tiap koleksi barunya.  (els/chs)