Ancaman Penyakit di Ibu Kota Baru Kaltim, DBD Hingga ISPA

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 27/08/2019 17:53 WIB
Ancaman Penyakit di Ibu Kota Baru Kaltim, DBD Hingga ISPA Kalimantan Timur menempati posisi kedua kasus DBD terbanyak setelah Bali. Foto: Istockphoto/Tharakorn
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo telah mengumumkan pemindahan ibukota Indonesia dari DKI Jakarta menuju ke Kalimantan Timur, tepatnya ke Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara.

Seperti wilayah Indonesia lainnya, Kalimantan Timur mengenal dua musim yakni musim hujan pada November hingga April dan musim kemarau pada Mei hingga Oktober.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, keadaan musim tidak menentu. Musim hujan bisa terjadi lebih lama ketimbang biasanya, begitu pula dengan musim kemarau.



Sedangkan untuk suhu udara ditentukan oleh tinggi rendah permukaan wilayah dan jarak dari pantai. Mengutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, wilayah ini memiliki topografi bergelombang dengan ketinggian bervariasi antara 0-1.500 meter di atas permukaan laut.

Pada 2013 tercatat suhu terendah rata-rata 22,1 derajat Celcius dan tertinggi 35,1 derajat Celcius di Berau. Rata-rata kelembapan mencapai 83-87 persen.

Melihat kondisi ini, ada beberapa penyakit yang patut diwaspadai saat berada di Kalimantan Timur.

1. Malaria
Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang membawa kelompok protozoa, Plasmodium. Orang yang terkena gejala malaria akan mengalami demam, tubuh menggigil, berkeringat, sakit kepala, mual dan muntah.

Melansir Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI 2016, kasus malaria banyak terkonsentrasi di wilayah timur. Wilayah Kalimantan dan Sulawesi menunjukkan penurunan dalam empat tahun terakhir. Namun ini bukan alasan untuk menurunkan kewaspadaan akan penyakit malaria.

Kementerian Kesehatan menyebut ada dua jenis obat malaria yang tersedia di Indonesia yakni, Dyhidroartemisinin-Piperakuin (DHP) dan Primaquine. Anda pun perlu melakukan pencegahan gigitan nyamuk di antaranya menggunakan krim atau losion pengusir serangga dan menggunakan busana berwarna terang.

2. Demam berdarah dengue
Selain malaria, demam berdarah dengue (DBD) juga merupakan penyakit yang ditularkan nyamuk dan sama-sama musti diwaspadai.

DBD disebabkan oleh virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes Spp. Infeksi virus menimbulkan gejala mirip flu selama 2-7 hari, kemudian pada masa inkubasi pada 4-10 hari setelah gigitan nyamuk. Biasanya timbul demam tinggi disertai sakit kepala, nyeri di belakang mata, mual, muntah, nyeri sendi, tulang, otot serta timbul ruam merah pada kulit.

Laporan dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI menyebut ada sebanyak 68.407 kasus DBD pada 2017. Sebenarnya angka kesakitan atau Incidence Rate (IR) pada 2017 jauh menurun dari 2016. Pada 2016, IR berada di angka 78,85 per 100ribu penduduk, sedangkan 2017 di angka 26,12 per 100ribu penduduk.

Meski demikian, Kalimantan Timur menempati posisi kedua dengan angka kesakitan tertinggi yakni 62,57 per 100ribu penduduk setelah Bali (105,95 per 100ribu penduduk). Melihat kenyataan ini, DBD jelas masuk dalam daftar penyakit yang harus diwaspadai saat berada di ibu kota baru.

3. Influenza
Penyakit satu ini kerap muncul terutama di musim kemarau. Namun dalam kondisi perubahan musim dan kondisi imun yang menurun, maka gejala bisa timbul mulai dari ringan hingga sedang.

Demi melindungi diri dari penularan influenza, Kementerian Kesehatan berpesan untuk mencuci tangan secara teratur dan mengeringkan dengan benar, menjaga kebersihan saluran pernapasan, menghindari kontak dengan orang sakit, serta menghindari menyentuh mata, hidung atau mulut saat kondisi tangan kotor.

4. Diare
Jika influenza jadi momok di musim kemarau, maka diare bisa jadi sumber masalah saat musim hujan. Kelembapan udara yang semakin tinggi bisa jadi lokasi ideal bagi pertumbuhan virus, bakteri, dan parasit.

Diare mengganggu sistem pencernaan sehingga feses yang keluar lebih cair dan frekuensi buang air bertambah. Jika dibiarkan, tubuh bisa mengalami dehidrasi akut. Sebaiknya berikan pertolongan awal lewat konsumsi oralit atau minuman yang mengandung elektrolit.


5. Gangguan pernapasan
Menilik laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kalimantan masuk dalam lima besar jumlah hotsopt tertinggi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Secara lebih rinci, dalam 10 hari terakhir Kalimantan Barat memiliki 825 hotspot, Kalimantan Tengah 410 hotspot, Kalimantan Selatan 124 hotspot, Kalimantan Timur 123 hotspot dan Kalimantan Utara 49 hotspot.

Ancaman karhutla jelas menghantui ibu kota baru dan membawa konsekuensi ancaman kesehatan terutama gangguan pernapasan. Anda patut waspada dengan sesak napas, iritasi pada tenggorokan dan paru-paru, batuk, hidung berlendir dan sinus. Selain pernapasan, sangat memungkinkan untuk mengalami iritasi mata.


[Gambas:Video CNN] (els/ayk)