Alih-alih bahagia, Anda akan menderita. Pasalnya, obsesi mendapatkan kebahagiaan membuat seseorang mengabaikan hal atau emosi negatif yang diakibatkan.
"Rasa bahagia memang memiliki banyak manfaat. Tapi, emosi negatif juga demikian. Rasa takut bisa menjauhkan kita dari bahaya. Rasa malu juga memperbaiki perilaku negatif kita," ujar Pendiri Happiness Experts Company, Paul Krismer, mengutip South China Morning Post.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Timothy Sharp dari The Happiness Institute mengatakan, emosi negatif seperti sedih, stres, dan marah adalah hal normal yang dialami banyak orang.
"Berpikir untuk tidak merasakan emosi negatif bukan cara terbaik untuk hidup. Faktanya, kita tak bisa bahagia sepanjang waktu," kata Sharp.
Lebih lanjut, Sharp mengatakan, ada beberapa faktor yang mengurangi kadar kebahagiaan seseorang. Sederet faktor itu di antaranya tidak realistis, materialistis, dan fokus pada individu. Sederet faktor ini 'merusak' kondisi mental seseorang.
Selain itu, untuk memiliki kondisi mental yang baik, mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat patut dilakukan. Misalnya saja seperti rajin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan tidur cukup.
"Kesehatan mental juga terkait dengan kesehatan fisik. Jadi, gaya hidup sehat menjadi dasar sebuah kebahagiaan. Kita tidak bisa bahagia jika tak menjaga diri sendiri," kata Krismer.
[Gambas:Video CNN] (asr)