Surat dari Rantau

Tinggal di California, Tambal Gigi di Meksiko

CNN Indonesia | Sabtu, 21/09/2019 18:47 WIB
Tinggal di California, Tambal Gigi di Meksiko Ilustrasi, perbatasan Meksiko-Amerika Serikat. (AFP/Guillermo Arias)
Los Angeles, CNN Indonesia -- Melihat atau mendengar berita dari Indonesia kerap membuat saya merasa miris. Salah satunya adalah kabar tentang wacana kenaikan iuran BPJS Kesehatan.

Saya, yang kebetulan, berasal dari kalangan kelas menengah merasa tidak keberatan jika iuran BPJS dinaikkan, dengan catatan kualitas pelayanan yang harus ditingkatkan.

Namun apa kabarnya dengan golongan yang kurang mampu? Saya berharap agar jangan sampai mereka tidak bisa berobat karena wacana kenaikan iuran ini.



Situasi ini mengingatkan saya dengan apa yang terjadi di California, tempat saya tinggal sejak beberapa tahun yang lalu.

Saya datang ke Los Angeles dalam rangka menemani istri menempuh studi doktoral, namun seiring waktu akhirnya saya melanjutkan kuliah di UCLA jurusan Independent Music Production.

Pada dasarnya kehidupan di kota para sineas dan musisi ini sangat asyik. Bisa dikatakan semua hal terjadi di sini. Tapi tetap saja ada hal yang kurang menyenangkan, salah satunya terkait biaya pengobatan yang sangat mahal dan asuransi kesehatan yang njelimet.

Belum lama ini saya menghabiskan uang sebesar US$360 (sekitar Rp5 juta) untuk menambal dua buah gigi.

Bahkan obat inhaler untuk asma yang biasa dibeli di Jakarta seharga Rp600 ribu, di sini harganya US$380 (sekitar Rp5,3 juta).


Sekitar sepekan terakhir saya terkena alergi sehingga sesak napas dan batuk. Istri menelepon ke beberapa rumah sakit untuk bikin janji dengan dokter spesialis, tapi saya baru dapat jadwal konsultasi di bulan Desember.

Untuk klinik gawat darurat yang bisa langsung berobat biasanya terima asuransi dan bisa kasih diskon untuk pasien yang tidak punya asuransi. Tapi sediskon-diskonnya, tetap saja mahal. 

Sebagai catatan, harga asuransi di Amerika Serikat tergolong mahal. Saya dan istri harus menganggarkan sekitar US$2000 (sekitar Rp28 juta) per tahun untuk asuransi. Kalau sakit kami masih tetap nombok juga.

Dari banyak klinik yang ditelpon istri, ada satu yang tanya, "Pakai asuransi atau tidak? Kami tidak terima pasien baru kalau bayar pake asuransi". 


Mungkin karena pasien asuransinya sedang penuh maka klinik itu hanya mau terima pasien yang bayar tunai. Memang tidak semua sih memberlakukan aturan demikian, tapi ada saja yang sefrontal itu.

Itu sebabnya banyak warga California yang jika mau ke dokter gigi atau cari obat yang harganya terjangkau, mereka 'kabur' ke Meksiko, tepatnya di kota Tijuana yang berbatasan langsung dengan San Diego.

Di kota itu banyak klinik gigi, dokter, dan farmasi yang melayani klien-klien penduduk Amerika Serikat. Kalau nonton film 'Dallas Buyers Club', semuanya persis seperti itu.

Untuk warga Amerika Serikat memang ada beberapa solusi seperti Obamacare, Medicare, dan lainnya. Tapi itu juga kontroversial, bahkan Trump mau hapus Obamacare.

Untungnya masyarakat di sini cukup rajin beramal, donasi rutin, termasuk ke organisasi non profit yang memberikan layanan kesehatan gratis.

Penggalangan dana juga sering jadi solusi. Contohnya ayah teman kami di sini sakit parah, dan anaknya bikin laman penggalangan dana untuk perawatan dan pengobatan ayahnya.

Responnya cukup baik, ada yang menyumbang US$5 hingga US$500, tergantung kesanggupan.

Meski penduduk Amerika Serikat sering dianggap individualis, bisa dibilang untuk urusan tolong menolong mereka masih kompak.

-----

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

[Gambas:Video CNN] (Iman Fattah/ard)