Incantesimo, Semangat Perubahan ala Sebastian Gunawan

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 02/10/2019 22:02 WIB
Desainer Sebastian Gunawan mencoba menangkap semangat perubahan yang terjadi di era 1900-an lewat 80 karya fesyen bertajuk Incantesimo. Desainer Sebastian Gunawan mencoba menangkap semangat perunahan di era 1900-an lewat 80 karya fesyen bertajuk Incantesimo. (Foto: Dok. Esther Sutanto @byverb)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak perubahan yang terjadi di era 1900-an. Hingar-bingar perubahan itu 'ditangkap' desainer Sebastian Gunawan dan sang istri Cristina Panarese dalam koleksi busana kutur bertajuk 'Incantesimo'.

Bila masih ingat dengan kisah kapal Titanic pada 1912, tragedi itu menjadi 'ikon' yang menandai masa-masa perubahan dan perkembangan ekonomi yang cukup pesat. Tak lama berselang, orang-orang di masa yang sama juga mulai mengenal budaya lain lewat pertunjukan teater. Di samping, perkembangan fesyen juga digilai oleh para wanita bangsawan.

Cristina mengatakan, istilah 'incantesimo' dalam bahasa Italia memiliki arti sesuatu yang magis atau sesuatu yang membuat terkesan. Incantesimo tak lain adalah ungkapan kekaguman akan keberagaman perubahan di masa itu.



Busana-busana hadir dengan napas art deco. Gaya art deco memang berjaya di era 1920-an di mana banyak wanita mengenakan busana berornamen geometris, penggunaan bahan-bahan mahal, serta dukungan aksesori.

Incantesimo, Semangat Perubahan ala Sebastian GunawanGaya art deco yang berjaya di era 1920-an. (Foto: Dok. Esther Sutanto @byverb)

Demi menambah nuansa era 1900-an, panggung fesyen disulap layaknya glasshouse dome, gaya arsitektur yang mewakili perubahan seni ruang pada masa itu.

Lebih dari 80 gaya busana dipamerkan. Seba, begitu Sebastian Gunawan akrab disapa, tetap mempertahankan kesan feminin dalam karyanya. Ini tampak pada gaun sebagai siluet yang dominan baik itu body con dress, midi dress, long dress, A line dress, serta slit dress. Meski demikian dia juga menyematkan celana panjang pada beberapa gaya.

Seba tak banyak bermain dengan aksesori. Dia hanya memadukan busananya dengan head piece karya Rinaldy Yunardi. Permainan bahan yang apik justru lebih terlihat semarak meski tanpa aksesori glamor.

"Penggunaan bahan bermacam-macam, kami suka pakai tulle, brokat, payet, taftan, damas, beludru, lace, komplet. Kami suka variasi, enggak cuma siluet, material juga," kata Cristina saat ditemui usai pertunjukan di Ballroom Hotel Mulia Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (1/10).

Tak hanya menyejukkan mata lewat warna lembut, Seba juga bermain dengan warna bold yang memikat. Menariknya, dia mengambil inspirasi dari karya seniman dan desainer kostum Leon Bakst. Masa keemasan Bakst terjadi saat dirinya menangani dekorasi dan kostum untuk organisasi pertunjukan balet 'Ballet Russe'. Seniman asal Rusia ini banyak menonjolkan motif-motif geometris dan warna-warna berani.

Incantesimo, Semangat Perubahan ala Sebastian GunawanKoleksi "Incantesimo" milik Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese. (Foto: Dok. Esther Sutanto @byverb)

DNA Bakst kemudian diterjemahkan Seba lewat motif geometris dalam 'anyaman' kain. Di sepotong busana ada dua jenis kain yang kemudian menciptakan motif geometris, semisal long dress dengan motif lengkung hasil perpaduan kain beludru dan payet. Pada gaya berbeda, Seba meracik beludru warna merah, pink, biru tua, cokelat, hitam dan abu-abu menjadi motif kotak-kotak nan cantik.

Cristina mengaku inspirasi karya seni Bakst juga membuat desain busana ada yang mengarah ke kostum teater, seperti sematan lengan super besar, garis dada yang menjorok ke samping atau siluet celana hareem ala Aladdin. Ada pula busana yang memiliki bentuk kap lampu bahkan air mancur ala taman kota.

Selain itu, penempatan bahan see-through seperti lace, tulle atau brokat pada garis dada maupun lengan tampak unik. Bahan dibuat menjorok ke atas seperti menyampaikan bahwa ada sisi kuat dan tegas di balik wanita yang anggun dan feminin.

Incantesimo, Semangat Perubahan ala Sebastian GunawanKoleksi gaun pernikahan ditampilkan di penghujung pertunjukan. (Foto: Dok. Esther Sutanto @byverb)

Pertunjukan pun ditutup dengan beberapa gaun pernikahan. Seba memberikan alternatif bentuk gaun pernikahan yang berbeda dari yang ada di pasaran. Tengok saja gaun dengan bentuk seperti tumpukan ruffles putih. Ada pula gaun dengan aksen cape memanjang hingga lantai.

Tak menampik, ada pula gaya-gaya yang terkesan memaksa dan berlebih, misalnya gaun selutut dengan detail apik yang tertutup oleh mantel super besar. Juga ada detail yang terasa berlebihan terutama pada gaun pernikahan. Termasuk aksen cape yang sebenarnya tak perlu ditambahkan pita besar di bagian punggung. (els/ayk)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK