Pseudobulbar, Penyakit Joker yang Bikin Tertawa Tanpa Sebab

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 08/10/2019 19:05 WIB
Pseudobulbar, Penyakit Joker yang Bikin Tertawa Tanpa Sebab Sosok Arthur Fleck dalam film Joker digambarkan sebagai seseorang yang mengidap pseudobulbar affect, gangguan emosi yang ditandai dengan tertawa tanpa sebab.(Dok. Warner Bros Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arthur Fleck tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya bahkan nyaring terdengar. Sosok Joker dalam film memang digambarkan sebagai seseorang yang mudah tertawa dalam kondisi apa pun, termasuk dalam keadaan sedih.

Bukan tanpa sebab, kondisi itu muncul akibat pseudobulbar affect (PBA) yang dideritanya. Kondisi itu merupakan gangguan emosi yang ditandai oleh episode tawa atau tangisan yang datang mendadak dan tak terkendali.

Mengutip situs kesehatan MayoClinic, umumnya PBA terjadi pada orang-orang dengan kondisi neurologis tertentu atau mereka yang mengalami cedera. Kondisi-kondisi itu berpengaruh pada cara otak mengendalikan emosi.


Seseorang dengan PBA akan mengekspresikan sesuatu--baik tawa atau tangis--dengan cara yang berlebih meski individu tengah berada dalam kondisi emosi normal. Kondisi ini dapat mengganggu kegiatan sehari-hari.

Menangis menjadi gejala yang lebih umum ditemukan pada orang-orang dengan PBA. Karena itu lah, PBA kerap kali tak terdiagnosis dengan baik sebagai gangguan emosi. Banyak orang menyalahartikannya sebagai depresi.

Ilustrasi. Sosok Arthur Fleck dalam film Joker digambarkan sebagai seseorang yang menderita pseudobulbar affect (PSA), gangguan emosi berupa tawa dan tangis secara mendadak dan berlebihan. (Dok. Warner Bros Pictures)

Padahal, PBA dan depresi adalah dua hal yang berbeda. PBA umumnya berjalan dalam durasi yang lebih singkat daripada depresi. Orang-orang dengan PBA juga tak mengalami gangguan tidur dan makan selayaknya pada depresi.

Beberapa faktor risiko memicu timbulnya gangguan emosi seperti yang diidap Joker ini. Beberapa di antaranya ada pukulan pada bagian kepala, amyotrophic lateral sclerosis (ALS), multiple sclerosis (MS), cedera otak traumatis, penyakit Alzheimer, dan penyakit Parkinson.

Menukil situs kesehatan WebMD, para ilmuwan percaya PBA terjadi akibat kerusakan yang terjadi pada korteks prefontal. Nama terakhir merupakan area otak yang membantu mengendalikan emosi. Perubahan zat kimia tertentu pada otak yang terkait dengan depresi dan hypermood (manik) juga bisa memicu PBA.

PBA dapat diatasi dengan konsumsi obat-obatan secara teratur. Dokter umumnya akan meresepkan antidepresan untuk mengendalikan gejala PBA.

Pada 2010 lalu, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat menyetujui dextromethorphan sebagai terapi obat pertama untuk PBA. Studi menunjukkan, obat dapat membantu mengontrol gejala PBA pada orang-orang dengan MS dan ALS.

Sekitar 1 juta orang di AS hidup dengan PBA. Sekitar 50 persen dari penderita stroke di dunia mengalami gangguan emosi yang diidap tokoh Joker ini.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)