CATATAN PERJALANAN

Perjalanan 15 Jam Demi Gairah MotoGP Buriram

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Sabtu, 12/10/2019 16:41 WIB
Perjalanan udara dan darat selama 15 jam harus ditempuh sebelum bisa bertemu dengan Marc Marquez dan Valentino Rossi di MotoGP Buriram. (CNN Indonesia/ Ahmad Bachrain)
Buriram, CNN Indonesia -- Masa peliputan MotoGP 2019 di Sirkuit Internasional Buriram, Thailand, usai sudah. Namun bagi saya yang dikirim ke sana untuk melaporkan berita, lelah dan gairahnya masih terasa.

MotoGP Buriram tahun ini meninggalkan banyak kenangan bagi saya, karena baru kali pertama saya mendapat tugas meliput ajang balap motor bergengsi itu.

Bagaimana tidak, kesempatan bertemu dengan Valentino Rossi, Marc Marquez, dan Andrea Dovizoso, bahkan rookie fenomenal Fabio Quartararo bisa terwujud.


Biasanya saya hanya bisa menyaksikan aksi dan tampang mereka di layar kaca. Sekarang, saya bahkan bisa selfie dengan mereka. Maaf pamer sedikit! Hehehe...


Namun, liputan MotoGP 2019 kali ini melalui perjalanan yang cukup menyita waktu dan membuat raga ini lelah.

Bukan hanya karena harus setiap hari bolak balik di kompleks Sirkuit Internasional Buriram yang amat luas. Perjalanan awal untuk sampai di Buriram pun amat menyita waktu.

Totalnya saya menjalani perjalanan udara dan darat kurang lebih 15 jam dari Jakarta hingga sampai di bekas wilayah Kekaisaran Khmer Kamboja tersebut.

Waktu tersebut sudah termasuk mendarat dan transit lebih dulu dari Bangkok, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus antar kota antar provinsi sekitar enam jam ke Buriram.

Dari Jakarta pesawat saya dijadwalkan terbang pada Rabu (2/10) pagi pukul 07.10 WIB. Namun, sedikit tertunda menjadi pukul 07.30 WIB dan tiba di Bandara Don Mueang, Bangkok Utara, sekitar pukul 11.15 waktu Bangkok (tak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok).


Naik bus dari "Terminal Kali Deres"

Perjalanan 15 Jam Demi Gairah MotoGP BuriramTerminal Mochit Bangkok. (CNN Indonesia/ Ahmad Bachrain)

Ke luar dari bandara sekitar 11.45, saya langsung bergegas ke stasiun kereta yang berada tepat di depan bandara melalui jembatan penyeberangan untuk menjangkau terminal bus.

Sebenarnya rute pesawat dari Don Mueang ke Bandara Buriram tersedia. Jadwalnya tiga kali sehari. Tapi jadwal pesawat ke Buriram berselisih dengan jadwal pesawat saya tiba di Bangkok hari itu.

Ada juga kereta yang melayani perjalanan dari Bangkok ke Buriram. Namun kereta baru berangkat pukul 18.30. Pilihan itu tetap tidak ideal bagi saya yang ingin mengejar sampai Buriram sebelum tengah malam, sehingga masih bisa menumpang taksi atau kendaraan online menuju hotel.

Alhasil, saya memilih moda transportasi bus dari Terminal Mochit. Petugas yang saya tanyai di bandara mengatakan biasanya jadwal bus ke Buriram masih tersedia pada sore hari sebelum jam 17.00.

Turun dari kereta, saya sampai di Mochit sekitar pukul 13.30 dan langsung menuju loket penjualan tiket bus.

Cukup sulit juga menemukan jadwal bus yang berangkat siang ke Buriram, paling awal rupanya pukul 16.15. Tak banyak pikir, saya langsung membelinya.

Lumayan lama menunggu di Terminal Mochit, yang suasananya mirip Terminal Kali Deres, ruwet dan berisik.

Karena bosan, saya menyempatkan diri keliling terminal sembari foto-foto. Tapi rupanya gerak-gerik saya dipantau oleh preman terminal.

Ia lalu mendatangi dan memarahi saya karena terus mengarahkan kamera. Permintaan maaf saya tak mereka hiraukan karena sepertinya terjadi kendala bahasa antara Inggris dan Thailand.

Nyaris terjadi baku hantam, tapi kawannya memisahkan, mungkin karena akhirnya paham saya hanya turis. Atau mungkin dia mengira saya mirip keluarganya yang tinggal Laos. Entahlah tapi saya lega bisa keluar dari situasi menyeramkan itu.

Pengalaman meliput MotoGP di Buriram masih berlanjut ke halaman berikutnya...

Perjalanan 15 Jam Demi Gairah MotoGP Buriram

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2