SURAT DARI RANTAU

Sendirian Menghadapi Topan dan Huruf Kanji di Jepang

Astrid Tamara, CNN Indonesia | Sabtu, 19/10/2019 17:33 WIB
Sendirian Menghadapi Topan dan Huruf Kanji di Jepang Persimpangan Shibuya di Jepang. (AFP PHOTO / Kazuhiro NOGI)
Tokyo, CNN Indonesia -- Baru dua bulan saya merantau di Tokyo. Beasiswa S2 membuat saya harus menetap sementara di ibu kota Jepang ini. Bisa merasakan Negeri Sakura telah lama menjadi impian saya sejak kecil.

Disiplin kata yang bisa menggambarkan Jepang. Bukan hanya soal antre atau menepati janji, penduduk Jepang juga disiplin dalam hal membuang sampah.

Jika ada yang sudah pernah berwisata ke Jepang pasti bingung mengapa jalanan bisa bersih sementara jarang ditemui tempat sampah.



Di sini sampah yang dibuang harus dipisahkan terlebih dahulu. Tempat sampah di pinggir jalan juga terbagi empat, yang dibedakan dengan warna sesuai jenis sampah; mudah terbakar, tahan api, plastik, dan kaleng.

Berbeda dengan Indonesia, ada hari tertentu di mana truk sampah bakal mengitari pemukiman. Soal membuang sampah sempat membuat saya bingung, namun kini sudah terbiasa.

Jepang juga dikenal sebagai negara yang kerap dilanda bencana alam, mulai dari topan sampai gempa.

Saat ini, Jepang sedang dilanda angin topan Hagibis yang mengakibatkan kerusakan yang parah di beberapa daerah, tak terkecuali Tokyo.

Masyarakat Tokyo diberi peringatan untuk tetap waspada terhadap topan yang bisa datang kapan saja. Kami diimbau menyediakan persiapan makanan, air minum, dan obat-obatan.

Untungnya sejauh ini Tokyo masih aman terkendali dan tak ada kerusakan parah. Sejak Topan Hagibis bertiup, terhitung saya hanya berada di rumah selama satu hari penuh untuk berlindung dari angin kencang.

Ilustrasi. Pemandangan saat angin kencang bertiup di Jepang. (AFP PHOTO / Behrouz MEHRI)

Ketika saya terpaksa berada di rumah karena topan, saya sangat merasakan guncangan dan suara keras akibat tiupan angin yang menghujam bangunan apartemen saya. Melihat keluar kaca, langit mendung, tidak ada orang-orang di luar rumah.

Setengah jam kemudian air hujan terasa tumpah dari langit. Petir bersahut-sahutan. Kalau terjadi lebih dari enam jam saat topan datang, biasanya aliran listrik akan dimatikan.

Kadar santai saat mati lampu dan topan berlangsung di Jepang tidaklah sama dengan saat mati lampu dan hujan deras di Jakarta. Percayalah.

Awalnya saya sempat takut dan cemas menghadapi kondisi ini sendirian. Tapi karena tahu pemerintah Jepang sangat perhatian terhadap penduduknya dan mereka terus mengunggah informasi soal kondisi topan terkini, kekhawatiran saya pelan-pelan sirna.


Selain topan atau gempa, Jepang tetap menyenangkan untuk ditinggali atau dikunjungi berwisata.

Kendala bahasa sudah pasti ada, karena penduduk di sini - terutama kaum lansia, jarang ada yang bisa berbahasa Inggris.

Pengurusan dokumen saat pertama pindah membuat saya repot, karena semua bertuliskan huruf Kanji. Tapi dengan semakin canggihnya aplikasi penerjemah di ponsel, semua bisa diatasi.

Orang Jepang juga rata-rata memiliki sifat pemalu. Bagi orang Indonesia yang terbiasa ramah, awalnya saya sempat canggung juga saat akan mencari teman baru di sini. Tapi jika niat kita baik, mereka lama-lama membuka diri untuk berteman.

Kalau sudah akrab berteman, orang Jepang pasti bakal mengajak Anda untuk karaoke. Tarif karaoke di sini mulai dari Rp250 ribu per dua jam.

Suasana berkaraoke dengan teman-teman saya di Jepang bisa dibilang sama serunya dengan di Indonesia. Mereka tak malu untuk bernyanyi dengan suara fals dan berjoget lucu.

Ada banyak hal baru yang saya dapat selama tinggal di Jepang, mulai dari disiplin, teratur, sampai sopan santun. Walau terbilang betah, setiap harinya saya masih merindukan menu es teh manis dan ayam kremes yang bisa saya santap di Jakarta.


-----

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com / ardita@cnnindonesia.com
(vvn/ard)