Surat dari Rantau

Di Balik Galaknya Pedemo Hong Kong

Vivien Oskar, CNN Indonesia | Minggu, 29/09/2019 14:18 WIB
Di Balik Galaknya Pedemo Hong Kong Aksi demo di stasiun Fortress Hill, Hong Kong, pada beberapa waktu yang lalu. (Anthony WALLACE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menimba ilmu di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, membawa saya terbang jauh ke Hong Kong. Sebagai mahasiswa akhir jurusan perhotelan, kerja magang di hotel merupakan salah satu dari syarat kelulusan seluruh mahasiswa.

Genap tiga bulan saya berada di Hong Kong untuk magang di Hotel Ritz-Carlton. Banyak hal-hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari mendapatkan teman baru, pengalaman baru, hingga beberapa perspektif baru.

Hong Kong berhasil membuat saya kagum, salah satunya adalah fasilitas transportasi umumnya. Sama seperti Jakarta, di sini saya dapat naik transportasi umum seperti bus dan kereta untuk mencapai tempat tujuan. Bedanya, di sini volume mobil dan motor pribadi yang berkeliaran di jalan jarang, sehingga tak menimbulkan polusi udara.



Namun beberapa waktu belakangan ini keadaan Hong Kong sedang tidak nyaman. Hal tersebut terkait demo masyarakat Hong Kong yang menolak RUU Ekstradisi atau demo pro-demokrasi. Saya sendiri tak ikut dalam demo, tetapi saya merasakan dampak negatif yang ditimbulkan atas aksi tersebut.

Kerusakan berat terjadi di sejumlah fasilitas umum, seperti stasiun kereta dan ruas jalan. Perjalanan bus dan MRT juga ikut terhambat.

Faktor tersebut menjadi kekhawatiran bagi kami yang bekerja di hotel, terutama bagi saya yang akan pulang ke apartemen di kawasan Jordan. Untungnya hotel tempat saya magang menyediakan tempat tinggal bagi karyawannya yang tak bisa pulang jika demo semakin ricuh.

Walau aksi demo membuat masyarakat merasa tidak aman, namun perlu diakui kalau hal tersebut memperlihatkan betapa kompak dan nasionalisnya penduduk Hong Kong. 

Di balik "kegalakan" penduduk Hong Kong saat demo, sebenarnya mereka memiliki karakter yang ramah dan berpikiran terbuka. Maklum saja negara ini menjadi salah satu negara yang ramai didatangi ekspatriat, sehingga seluruh kebudayaan bercampur tanpa berselisih. Budaya Barat bisa terjalin hangat dengan budaya Asia. Hampir tidak ada yang rasis di sini.


Sayangnya bahasa sering menjadi kendala, terutama saat berkomunikasi dengan orang tua yang jarang bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Sedikit demi sedikit yang berusaha mempelajari bahasa Kanton agar bisa berkomunikasi sederhana dengan mereka.

Hidup di Hong Kong juga tak semurah yang dibayangkan. Saya menjatahkan 100 HKD (sekitar Rp180 ribu) per hari. Di sini, harga makanan yang di jual seharga 40-50 HKD (sekitar Rp70 ribu sampai Rp90 ribu) untuk sekali makan. Tentu saja saya harus dengan cermat mengatur keuangan.

Meski demikian hobi belanja saya masih membara di sini. Kalau habis gajian, saya paling senang belanja di Causeway Bay, Tung Chung, atau Mongkok. Ketiga pusat perbelanjaan tersebut merupakan yang paling populer di sana. Barang yang dijual beragam dan harganya bisa dibilang murah.

Menjadi seorang perantau tentu saja membuat saja rindu dengan Indonesia. Selain makanan, saya juga rindu dengan iklim di Tanah Air yang terbilang lebih stabil.

Cuaca Hong Kong memang hampir sama dengan Indonesia yang memiliki dua musim. Namun sering terjadi angin puting beliung di sini. Saat musim hujan tiba penduduk harus ekstra hati-hati karena sapuan angin besar bisa saja terjadi mendadak.

-----

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(vvn/ard)