Kisah Dinda, Beasiswa, dan Tembus Universitas Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Senin, 28/10/2019 17:37 WIB
Kisah Dinda, Beasiswa, dan Tembus Universitas Indonesia SMA Unggulan CT Arsa Foundation 'mewujudkan' cita-cita Dinda Shezaria Hardy Lubis untuk mengecap pendidikan yang lebih tinggi. (Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehilangan ayah jadi pukulan besar buat Dinda Shezaria Hardy Lubis. Sang ibu, Nurhamida Nasution mesti berjualan minuman untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sementara itu, biaya sekolah Dinda dan dua saudaranya dibantu oleh dana masjid di lingkungan tempat ia tinggal.

Bantuan ini tak bisa selamanya dinikmati Dinda. Aliran dana berhenti saat dia mencapai usia tertentu. Jelang masuk sekolah menengah atas, dia tak tega melihat ibunya berkeliling dengan motor untuk berjualan.

Dinda sempat terbersit niat untuk tidak melanjutkan sekolah dan membantu sang ibu dengan cara bekerja.


"Ibu saya enggak mau, enggak merestui. Akhirnya ia memaksa saya untuk melanjutkan pendidikan. Ibu bilang kalau pendidikan itu salah satu hal yang paling berguna buat masa depan. Ketika kamu punya ilmu, itu akan dipakai di mana pun. Ketika kamu punyanya otot saja, tenaga saja, itu akan terbatas di usia tertentu," kata Dinda pada CNNIndonesia.com saat ditemui di kawasan kampus UI, Depok, Jawa Barat, Selasa (22/10).
Seolah menjawab harapan sang ibu, salah satu guru di sekolah Dinda memberikan informasi keberadaan SMA Unggulan CT Arsa Foundation di kota kelahirannya, Medan. Asa untuk melanjutkan pendidikan pun berkobar lagi. Berkat bantuan sang guru dan kegigihannya melewati proses seleksi ketat, Dinda mampu menjadi satu dari seratus siswa yang diterima di sana.

Semua siswa diwajibkan hidup di asrama selama menempuh pendidikan. Tak main-main, siswa hanya bisa menikmati liburan dan pulang ke rumah setahun sekali. Selama tiga tahun pula, komunikasi dengan pihak luar termasuk keluarga dibatasi. Bayangkan saja satu ponsel 'jadul' disediakan untuk satu asrama. Saat itu Dinda harus bergantian dengan 64 siswa putri lain.

Namun di balik sekolah dengan aturan ketat dan disiplin tinggi ini, Dinda merasakan betul 'gemblengan' CT Arsa Foundation.

Dinda dan kawan-kawan wajib berkomunikasi dalam bahasa Inggris kecuali Minggu. Ada sejumlah siswa yang menjadi English Court dengan tugas mengawasi siswa lain. Kemudian Morning Inspection di mana tiap pagi pengawas asrama memastikan kerapian dan kebersihan asrama.

"Tapi ini berguna banget. Morning Inspection berguna saat hidup di kos, jadi kebiasaan hidup bersih. Lalu pas kuliah kan pakai bahasa Inggris terus," kata dia.

Mantap merajut langkah masa depan

Tak hanya bimbingan yang didapat selama di SMA, SMA Unggulan CT Arsa Foundation juga membantu para siswa untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri unggulan tanah air.

Dinda berkata sekolah menyiapkan para siswa termasuk lewat bimbingan internal. Tak sia-sia, dia bisa masuk Universitas Indonesia (UI) lewat jalur bidik misi. Jalur ini membuat dia tak perlu mengeluarkan biaya pendidikan sedikit pun untuk masa studi maksimal empat tahun.

Kini, Dinda tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI. Capaian ini pun dibarengi dengan upayanya untuk bertahan hidup di Jawa dan jauh dari keluarga. Sembari kuliah, dia memberikan les mata pelajaran untuk menambah uang saku karena ibunya tak mampu mengirimkan uang bulanan.

"Ini sudah semester 7, sebentar lagi wisuda. Juga harus nabung buat biaya keluarga ke sini," imbuhnya.
Meski penuh dengan perjuangan, Dinda tetap bersemangat. Terlebih dia bercita-cita ingin melanjutkan studi magister. Namun selepas kuliah, dia ingin menyempatkan diri untuk menjadi relawan di Komunitas Arsa. Menurutnya, ini bakal menjadi bentuk ungkapan syukur dan terima kasih atas kesempatan pendidikan yang dia nikmati.

"Kalau enggak masuk SMA Unggulan CT Arsa Foundation, boro-boro mimpi kuliah di UI. Sangat berhutang budi, saya enggak tahu kalau enggak ada Bunda Anita. Titik loncatnya kan dari SMA Unggulan," ujarnya. (els/ayk)