Kontrol Asupan GGL Per hari dengan Baca Informasi Nilai Gizi

CNN Indonesia | Rabu, 06/11/2019 19:20 WIB
Kontrol Asupan GGL Per hari dengan Baca Informasi Nilai Gizi Foto: Istockphoto/Kameleon007
Jakarta, CNN Indonesia -- Konsumsi gula, garam dan lemak dalam makanan kerap kali tak terkendali. Hati-hati, ancamannya obesitas dan kolesterol.

Untuk menghindarinya, pastikan asupan gula, garam, lemak yang biasa dikenal dengan trio GGL ini terkontrol. Salah satunya adalah dengan pintar-pintar membaca tabel nilai gizi di balik tiap kemasan makanan.

Sayangnya bayangan akan rasa aneka camilan di rak lebih menarik untuk segera disantap dibanding dengan membaca tabel nilai gizi di belakang kemasannya.


Dwi Oktavia Handayani, Kepala Bidang pencegahan & Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengakui membaca tabel kandungan nutrisi memang cukup rumit.


"Agak rumit ya, tapi prinsipnya orang musti tahu dulu apa yang perlu dibatasi," kata dia di sela kampanye 'Deteksi Dini dan Batasi Gula Garam Lemak untuk Cegah Diabetes' di Alfamidi Super Bangka Raya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (5/11).

Seperti anjuran Kementerian Kesehatan, konsumsi gula dibatasi sebanyak empat sendok makan per hari (50 miligram), garam sebanyak satu sendok teh (5 gram) dan lemak lima sendok makan (67 gram). Kemudian Dwi menyarankan untuk mencermati presentase kebutuhan harian.

Dalam tabel biasanya mencantumkan takaran per sajian dan presentase atau persen Angka Kebutuhan Gizi (AKG). Sebagai contoh, dalam sebungkus kopi susu mengandung lemak total sebanyak 3 gram dengan persen AKG sebesar 5 persen. Artinya, dalam satu sajian kopi susu memenuhi 5 persen kebutuhan lemak harian.

"Kalau kandungan lemak pada satu sajian makanan bisa 30 persen, ya sehari jangan tiga kali sehari makan itu," ujar Dwi.


Di sisi lain, Angelique Dewi, Head of Corporate Communication Nutrifood berkata orang perlu mengingat bahwa asupan makanan harian tak semua memiliki label nilai gizi. Jika demikian, orang kurang bisa mengontrol kadar gula, garam dan lemak misal dalam sepiring nasi padang, minuman boba, atau es kopi susu kekinian.

"Ini yang patut kita waspadai, makanan yang enggak ada label kandungan nutrisinya," katanya dalam kesempatan serupa.

(els/chs)