Alasan Pisang Tak Boleh Diberikan pada Bayi di Bawah 6 Bulan

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 10/12/2019 09:32 WIB
Seorang bayi berusia 40 hari meninggal dunia akibat tersedak pisang. Memberi makanan padat seperti pisang pada bayi usia di bawah 6 bulan bukan pilihan tepat. Ilustrasi. Memberi makanan padat seperti pisang pada bayi usia di bawah 6 bulan bukan pilihan tepat. (robarmstrong2/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nasib nahas menimpa seorang bayi berusia 40 hari di Kebon Jeruk, Jakarta. Bayi dilaporkan meninggal dunia akibat tersedak pisang yang disuapkan oleh ibu kandungnya.

"Dia [sang ibu] tidak tahu kalau bayi umur 40 hari itu pencernaannya belum boleh makan apa pun selain ASI," ujar Kapolsek Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kompol Erick Sitepu, mengutip Antara.

Memberi makanan padat pada bayi usia di bawah 6 bulan memang bukan pilihan tepat. Alih-alih menyehatkan, makanan padat justru akan menimbulkan bahaya.


Mengutip situs kesehatan Mayo Clinic, makanan padat yang diberikan berisiko masuk ke dalam saluran pernapasan. Hal ini akan membuat bayi tersedak sebagaimana yang terjadi pada bayi di Kebon Jeruk.

Selain itu, bayi juga akan mengalami kesulitan saat mengonsumsi makanan padat. Bayi berusia di bawah 6 bulan belum berkembang sepenuhnya dan tak bisa menelan makanan padat.

Pada tingkatan yang lebih parah, makanan padat disebut dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan. Makanan padat yang diberikan terlalu dini dapat menyebabkan alergi dan eksim.

Para peneliti bahkan menyebut, konsumsi makanan padat pada bayi terlalu dini juga berhubungan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan celiac.

Celiac sendiri merupakan penyakit autoimun yang terjadi akibat konsumsi gula yang tinggi. Kondisi ini dapat merusak lapisan usus halus dan menghambat penyerapan nutrisi dalam tubuh.

Alih-alih menyehatkan, makanan padat justru akan membuat bayi tak cukup mendapatkan kalori dan nutrisi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ASI sebagai nutrisi terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.

"Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan adalah cara optimal untuk memberi makan bayi. Setelah itu, bayi harus menerima makanan pendamping ASI (MPASI) dengan terus menyusui hingga usia 2 tahun," tulis WHO dalam situs resminya.

ASI adalah sumber makanan alami pertama untuk bayi. ASI menyediakan energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi selama bulan-bulan pertama kehidupan.

ASI meningkatkan perkembangan sensorik dan kognitif, serta melindungi bayi dari ancaman penyakit menular dan kronis.

Sayang, masih banyak ibu coba-coba memberikan makanan padat untuk bayi yang berusia di bawah 6 bulan. Mengutip situs kesehatan Cleveland Clinic, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan, banyak ibu yang memberi makanan padat untuk si buah hati pada masa-masa awal kelahirannya tanpa mengetahui risiko yang mungkin terjadi.

Dari 1.300 ibu yang menjadi partisipan, 40 persen di antaranya memperkenalkan makanan padat sebelum bayi genap berusia 6 bulan. Setengahnya bahkan memperkenalkan makanan padat pada usia 4 bulan. Sementara 10 persen di antara mereka bahkan mulai memperkenalkan makanan padat pada 4 pekan pertama kehidupan bayi.

Bayi yang rewel dan terus merengek menjadi alasan umum yang mendorong ibu untuk memberikan makanan padat terlalu dini. Tangisan dianggap sebagai pertanda bahwa bayi tengah lapar dan tak cukup jika hanya diberikan ASI.

Padahal, bayi yang rewel tak selalu berhubungan dengan rasa lapar. Rewel bisa merujuk pada berbagai masalah perilaku atau medis lainnya. Jika bayi Anda terus menangis, jangan beralih ke makanan padat dan segera konsultasikan dengan dokter anak.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)