GERD Tak Sebabkan Kematian

tim, CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 15:44 WIB
Penyakit naiknya asam lambung alias GERD yang kerap dijadikan biang kerok penyebab kematian, ternyata hanya jadi sebatas kambing hitam. ilustrasi (Thinkstock/Piotr Marcinski)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kematian istri komedian Sule, Lina menunjukkan betapa penyakit naiknya asam lambung alias gastroesophageal reflux disease (GERD) tak boleh dianggap sepele. Lina meninggal pada Sabtu (4/1). Menurut mantan pengacara Lina, Abdurahman T. Pratomo, Lina mengidap penyakit asam lambung dan memiliki riwayat darah tinggi.

Namun benarkah naiknya asam lambung ini bisa menyebabkan kematian?

Asam lambung yang naik hingga ke kerongkongan dan mengakibatkan dua keluhan utama yakni rasa panas seperti terbakar (heart burn) dan mulut pahit akibat asam yang naik (regurgitasi).


Gejala yang ditimbulkan umum seperti rasa panas di ulu hati, mual, muntah, perut kembung, batuk, sulit menelan, dan nyeri pada bagian dada.

Menurut Ari Fahrial Syam, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan pencernaan, GERD bisa digolongkan ke dalam penyakit kronis. Jika tidak ditangani dengan tepat, maka bisa mengakibatkan gangguan paru-paru.


"Tetapi GERD sendiri tidak bisa jadi penyebab langsung terjadinya kematian," kata Ari melalui pesan singkat pada CNNIndonesia.com, Selasa (7/1).

Dia melanjutkan, pasien GERD bisa mengalami serangan cemas atau stres sehingga bisa jadi pemicu serangan jantung.

Meski tak berbahaya, Ari menyebut GERD membuat kualitas hidup para penderitanya menurun. GERD yang kerap muncul tiba-tiba dapat terjadi saat sedang tidur atau di tengah-tengah pekerjaan.

Apa bedanya dengan maag? Maag adalah gangguan pencernaan yang umum dialami banyak orang. Maag terjadi saat adanya kerusakan pada dinding lambung akibat dari produksi asam lambung berlebih. Penderita GERD hampir bisa dipastikan juga mengalami maag.

Agar tidak terjadi gejala dan mencegah komplikasi, pasien GERD musti menjalankan tata laksana GERD. Ari menjelaskan ada dua yakni, tata laksana non-obat atau perubahan gaya hidup dan tata laksana obat-obatan.

Tata laksana non-obat meliputi:

1. Menghindari konsumsi daging berlebihan dalam waktu singkat, perbanyak konsumsi sayur.

2. Hindari langsung tidur setelah makan. Beri jarak setidaknya 2 jam setelah makan. Langsung tidur setelah makan akan membuat isi lambung termasuk asam lambung berbalik arah ke kerongkongan.

3. Menghindari makanan yang terlalu asam dan pedas.

4. Menghindari kopi, alkohol atau minuman bersoda. Untuk makanan sebaiknya hindari yang mengandung cokelat dan keju. Jenis minuman dan makanan ini bisa memperburuk kondisi GERD.


5. Mengolah stres.

6. Kontrol berat badan. Lemak tubuh bisa memberikan tekanan ekstra pada perut. Tekanan ini bisa membuat isi lambung naik.

Tata laksana obat-obatan meliputi:

1. Obat-obatan antisekresi asam lambung. Ada dua kelompok yakni, penghambat reseptor (ranitidin, famotidin, nizatidin dan simetidin) dan obat antiasam yang kuat semisal omeprazol, lansoprazol, rabeprazol, esomeprazol atau pantoprazol.

2. Obat penetral asam atau antasida. Obat-obatan seperti ini banyak dijumpai di pasaran. Antasida bisa membantu mengurangi gejala GERD. (els/chs)