Kendati dokter telah mengingatkan pencegahan terbaik dengan menjaga daya tahan tubuh serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, tapi kepanikan sebagian masyarakat tak bisa ditolak. Alhasil, persediaan masker di beberapa lokasi pun dikabarkan menipis.
Umumnya masker dikenakan orang yang sakit, alergi atau saat polusi memburuk. Tapi kewaspadaan terhadap virus corona kini menambah alasan orang mengenakan masker.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sekarang bekerja 24 jam, dua shift sehari, 12 shift. Kami mengeksploitasi pekerja, tapi para pekerja mengerti," ujar Liao Huolin, presiden perusahaan masker.
Akan tetapi, apakah masker cukup efektif?
Seluruh virus memiliki ukuran yang cukup kecil untuk bisa menembus masker medis. Hanya saja menurut Mark Denison dari Vanderbilt University Medical Center di Nashville, tidak semuanya tersebar di udara sekaligus atau dalam waktu yang bersamaan.
Tangan, merupakan 'alat transportasi' untuk virus maupun bakteri. Bayangkan saja tangan Anda kemudian digunakan untuk menyentuh mata, hidung juga mulut.
Masker memang bisa menghalangi percikan cairan dari bersin atau batuk. Selain itu orang juga tidak akan menyentuh mulut dan hidung selama mengenakan masker. Dengan kata lain, masker bisa melindungi orang dari kemungkinan sentuhan tangan yang boleh jadi membawa bakteri atau virus.
Hal ini sebenarnya tidak berdasarkan riset. Belum ada yang pernah membandingkan kelompok pengguna masker dengan nonpengguna masker.
Secara umum, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS belum merekomendasikan masker untuk masyarakat umum. CDC hanya merekomendasikan masker untuk orang yang sedang diobservasi atau terbukti terkena infeksi virus, anggota keluarganya dan perawat pasien.
Awak kabin pesawat pun wajib memberikan masker pada penumpang yang sakit. Sementara untuk petugas medis yang merawat pasien virus corona disarankan untuk menambah perlindungan dengan kacamata besar (goggle) atau pelindung muka.
[Gambas:Video CNN] (els/nma)