Alasan Psikologis di Balik Rasa Betah Menonton Influencer

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 14/05/2020 11:23 WIB
Cover Fokus Dua Sisi Influencer Cilik Ilustrasi. Seseorang kerap merasa betah berlama-lama menyaksikan aksi para influencer di media sosial. (CNN Indonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masa karantina mandiri membuat orang semakin banyak menghabiskan waktu bersama gawai. Tanpa disadari, Anda pun rupanya betah memperhatikan berbagai tingkah laku influencer.

Di zaman kiwari, para influencer menjadi 'senjata' modern pemasaran produk. Formulanya sederhana, seorang influencer akan menggunakan produk dan layanan jasa tertentu. Kemudian influencer akan memberikan kesan-kesan menggunakan produk tersebut. Dan tanpa disadari, kesan yang dipaparkan para infuencer bisa memengaruhi para pengikutnya.

Tak hanya lewat unggahan, fitur Instagram Live pun kerap dimanfaatkan dan ramai pengunjung. Padahal, isinya tak jauh dari membuka paket serta menjajal produk yang baru mereka terima.


Namun, mengapa banyak orang betah menonton tayangan 'iklan' terselubung ini? Berikut beberapa alasan psikologis di balik hal tersebut, melansir She Knows.

1. Trendi tapi tetap cocok
Kebanyakan influencer menjadi 'juru bicara' dan dibayar untuk memasarkan produk tertentu. Promosi produk jenis ini terbilang sangat pas untuk mengikuti tren yang berlaku sekarang.

"Jika fan melihat figur berpengaruh dengan [menggunakan] produk atau jasa tertentu, itu terlihat lebih trendi dan cocok secara bersamaan," ujar Manajer Konten situs konsumen Reviewing, Beverly Friedman.

2. Lebih intim
Influencer berhasil menghubungkan produk dan calon konsumen dengan cara yang intim. Keintiman ini lah yang membuat seseorang merasa betah menyaksikan tayangan para influencer.

"Seiring berjalannya waktu, kita melihat mereka [influencer] sebagai teman yang memiliki niat baik. Influencer muncul sebagai orang baik di depan kita," ujar psikolog Patrick Davey Trully.

Kehadiran influencer, lanjut Trully, membuat seseorang merasa terhubung meski sesungguhnya tak saling mengenal. Hal ini sukses menjadi sebuah kehadiran kuat yang terasa nyata.

3. Keinginan untuk 'sukses'
Influencer menempatkan diri sebagai kawan lama. Mereka cukup terkenal, tapi bukan seseorang yang sulit dijangkau seperti selebriti. Mereka seperti teman yang kerap merekomendasikan kosmetik-kosmetik anyar, misalnya.

Ilustrasi media sosial (LoboStudioHamburg/Pixabay)Ilustrasi. Kebanyakan konten yang dihadirkan para influencer adalah iklan. (LoboStudioHamburg/Pixabay)


Cara seperti ini, lanjut Trully, membuat seseorang akan berpikir bahwa tak ada salahnya mencoba produk yang digunakan sang influencer pujaan. Apalagi saat si influencer terlihat sukses atau menarik dengan produk-produk yang digunakan. "Mengapa kita tidak menginginkan jadi bagian dari kesuksesan itu?" kata Trully.

Pada akhirnya, 'kesuksesan' ini dilihat dari apa pun yang dimiliki para influencer dan mengikuti apa saja yang mereka lakukan.

4. Validasi
Ketidakyakinan terhadap apa yang dilakukan membuat seseorang menilai bahwa orang-orang yang terlebih dahulu melakukan hal yang sama lebih berpengalaman. Mereka dianggap memiliki pengetahuan yang lebih.

"Kita akan merasa sesuatu itu benar saat orang lain juga melakukannya," ujar psikolog Kim Chronister.

Hal ini sangat jelas berlaku pada para influencer. Apa pun yang dilakukan para influencer dianggap benar dan dapat dijadikan referensi.

5. Keinginan untuk dihargai
Promosi yang dilakukan para influencer secara tidak langsung membuat Anda menyadari bahwa pendapat seseorang tentang sesuatu-produk atau jasa-adalah hal yang penting.

Kimberly Friedmutter, penulis buku Subconcious Power: Use Your Inner Mind to Create the Life You've Always Wanted mengatakan, kesadaran tersebut pada akhirnya membuat Anda ingin dihargai dengan cara yang hampir sama. "Secara tidak sadar, kita semua ingin dihargai karena pendapat kita," ujar dia.

Secara tidak langsung, hal tersebut juga membuat Anda mengharapkan penghargaan yang sama saat Anda mengeluarkan pendapat akan sesuatu. (els/asr)

[Gambas:Video CNN]