Gerbang Perilaku Hidup Sehat, 'New Normal' Pandemi Corona

tim, CNN Indonesia | Rabu, 20/05/2020 16:24 WIB
Sejumlah pengendara menggunakan masker saaat berkendara di Cibinong, Kabupaten Bogor,  Jawa Barat, Selasa (14/4/2020). Saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama 14 hari, salah satu aturannya adalah pembatasan penumpang kendaraan serta anjuran untuk menggunakan masker jika berkendaraan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp. Ilustrasi: Pandemi virus corona mengubah pilihan orang berperilaku, dari yang semula mengabaikan gaya hidup sehat menjadi berangsur peduli dan menerapkannya. (Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan, virus corona mungkin tak akan pernah pergi. Karena itu Direktur Eksekutif Program Kedaruratan WHO Mike Ryan meminta setiap negara tetap waspada. Sebab kapan berakhirnya pandemi ini masih sulit diprediksi dan perlu upaya keras mengembalikan ke kondisi normal--sebelum virus penyebab Covid-19 ini mewabah.

Yang perlu dilakukan adalah melakukan penyesuaian di pelbagai lini atau, menciptakan new normal (normal yang baru). Salah satunya yang berkaitan dengan gaya hidup.

Sejumlah ahli serta dokter memprediksi normal baru yang muncul adalah perilaku masyarakat yang bakal kian terbiasa menerapkan gaya hidup sehat. Hal serupa juga telah dijumpai di sejumlah negara lain.



Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono menuturkan, kelak lama-kelamaan orang tak lagi menjaga jarak fisik (physical distancing) dengan paksaan. Termasuk kebiasaan mengenakan masker.

"New normal itu ketika pada suatu saat kita terbiasa. ... Tanpa disuruh, tanpa dipaksa dengan polisi, mereka akan terbiasa pakai masker dan jaga jarak. Ini kemungkinan baru kelihatan Juni," kata Tri Yunis kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Ia juga percaya lambat laun orang akan terbiasa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Di antaranya mencuci tangan dengan sabun secara rutin.

Menurut ahli biologi molekuler yang juga Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio pun demikian. Penduduk di negara lain yang telah lebih dulu dihinggapi wabah ini pun ada yang sudah mulai menjalankan normal yang baru.

In this April 17, 2020, photo, pedestrians wait for crossing street in front of a statue at Shinjuku business district in Tokyo. Under Japan's coronavirus state of emergency, people have been asked to stay home. Many are not. Some still have to commute to their jobs despite risks of infection, while others are dining out, picnicking in parks and crowding into grocery stores with scant regard for social distancing. (AP Photo/Eugene Hoshiko)Ilustrasi: Beberapa negara seperti Jepang, telah mulai menjalankan normal yang baru setelah dilanda wabah virus corona penyebab Covid-19. (Foto: AP Photo/Eugene Hoshiko)


"Ambil contoh di luar negeri misalnya, di Jepang, itu sudah jadi budaya hampir semua orang kalau dia pilek, batuk, itu dia akan memakai masker. Walaupun tidak ada pandemi. Kemudian terbiasa menjaga kebersihan dirinya, kebersihan lingkungan dan kebersihan rumahnya. Itu nomor satu," ungkap Amin kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

"Sehingga dengan demikian bisa mencegah penyakit apapun. Karena ancamannya sendiri kan tidak hanya corona saja," ia melanjutkan.

Kebiasaan positif lain yang muncul di tengah wabah corona ini adalah orang jadi sering mengonsumsi air putih. Kondisi ini diungkap dokter Sandi Perutama Gani, Medical Expert Combiphar.

"55 persen lebih sering mengonsumsi air putih. Dulu berapa banyak yang belum konsisten. Kami harapkan [kebiasaan konsumsi air putih lebih banyak ini] tetap dilakukaan," kata Sandi seperti dikutip Antara.

Ilustrasi Air PutihFoto: Hyrma/Thinkstock
Ilustrasi Air Putih


Soal kebiasaan cuci tangan pun beroleh hasil serupa. Hasil survei lembaganya menunjukkan setidaknya 85 persen orang memperhatikan kebersihan tangan.

"Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), sederhana, bukan hal baru tapi gara-gara Covid-19, kita jadi belajar kembali dan melakukan kembali PHBS. Masyarakat Indonesia jadi lebih sadar, ternyata jorok makan tidak cuci tangan," tutur dia lagi.

Mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun menjadi salah satu yang dianjurkan para pakar kesehatan untuk semua orang usai berkegiatan terutama di luar rumah. Jika tak memungkinkan, cairan pembersih tangan bisa menjadi pilihan. Cara ini disebut salah satu yang ampuh untuk menangkal virus corona masuk ke tubuh.

Kebiasaan baik lainnya yang juga muncul karena Covid-19, sebagian orang lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah serta menjadi lebih sering berolahraga bahkan sekedar berjemur.

INFOGRAFIS AGAR TAK TERTULAR VIRUS CORONAFoto: CNN Indonesia/Fajrian
INFOGRAFIS AGAR TAK TERTULAR VIRUS CORONA


Sandi mengatakan, kebiasaan ini bersumber dari kekhawatiran yang muncul selama pandemi Covid-19. Survei McKinsey menggambarkan, setidaknya ada tiga kekhawatiran terbesar masyarakat belakangan ini. Salah satunya, ketidakpastian berapa lama kondisi ini akan berlangsung.

Kemudian, khawatir pada keselamatan diri dan keluarga, serta ketakutan menjadi pembawa atau berkontribusi menyebarkan virus penyebab Covid-19.

"Kalau abai pada gaya hidup bersih dan sehat, takutnya bisa memicu gelombang lanjutan Covid-19," kata Sandi.

Ia pun berharap pelbagai kebiasaan pencegahan virus corona ini bisa menjadi titik awal untuk penerapan perilaku hidup bersih dan sehat untuk seterusnya. Dengan begitu, masyarakat akan lebih konsisten dan disiplin menjaga kebersihan diri juga lingkungan. (NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]