"Sedih, kesal. Tapi, ya, mau gimana lagi?" ujar Sari pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Dua pekan pertama virus SARS-CoV-2 hadir di Indonesia, Sari tetap melakoni pekerjaannya sebagai seorang terapis. Dia tetap melayani pelanggan meski sesungguhnya ketakutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi perlahan Sari takut. Apalagi kasus positif Covid-19 di Indonesia semakin bertambah. Ditambah lagi dengan imbauan untuk terus berada di rumah dari pemerintah.
Sari bimbang antara terus memijat atau mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Harap maklum, ada lima orang anak yang harus Sari penuhi kebutuhannya di rumah. Hanya berpaku pada pemasukan ojek daring dari sang suami jelas tak cukup.
Memikirkan masalah itu bak petaka bagi Sari. Betapa tidak, sebagai seorang terapis, Sari sudah memiliki banyak pelanggan yang kadung nyantol dengan pijatan tangannya. Sari mondar-mandir, bingung jika harus meninggalkan pelanggan-pelanggannya.
Di masa-masa awal, Sari mencoba berjualan masker. Pikirannya berkata, barang seperti masker dan hand sanitizer menjadi 'primadona' dalam dunia bisnis 'palugada' saat ini.
Namun, berjualan masker dan hand sanitizer ternyata tak semudah yang dipikirkan. Permintaan yang tinggi membuat persediaan masker dan hand sanitizer kerap tersendat. Sari tak mau dibuat galau melulu oleh masker dan hand sanitizer yang kerap tersendat.
Ilustrasi. Pandemi Covid-19 membuat banyak mata pencaharian hilang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Sari mencoba peruntungan lain. Kali kedua, Sari mencoba menjajal dunia kuliner. Sari kemudian menawarkan diri menjadi reseller dari sushi dan otak-otak buatan seorang teman.
Tapi sayang, bisnis kuliner Sari tak laku-laku amat. Entah karena rasa yang dinilai kurang atau memang tak banyak orang membutuhkan sushi dan otak-otak di tengah pandemi. "Hahaha, enggak tahu kenapa. Tapi wajar, sih. Kalau makanan, kan, soal selera," kata Sari.
Tak patah arang. Sari kembali memutar otak mencari cara lain. Mengingat banyak pelanggannya yang memelihara kucing, Sari pun beride untuk berjualan pakaian-pakaian kucing. "Lucu, lucu, ih," kata Sari gemas.
Beragam baju kucing dijual. Mulai dari baju kucing betina yang berenda hingga baju berbentuk sweater bertuliskan label ternama 'Supreme'.
Selama berjualan, Sari kerap mengirimkan pesan broadcast yang kebanyakan ditujukan pada nomor-nomor pelanggannya. Sambil menjaga silaturahmi dengan pelanggan, Sari menawarkan barang-barangnya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
"Alhamdulillah, pelanggan-pelanggan saya ngerti. Beberapa suka ada aja yang beli barang-barang jualan saya," kata Sari.
Sari kemudian mencoba peruntungan lain dengan berjualan seprai. Menurut Sari, seprai adalah salah satu barang yang sangat dibutuhkan oleh banyak rumah tangga. Sari percaya diri dengan seprai kembang-kembang yang dijualnya.
Sambil berjualan seprai, Sari juga mulai membuka bisnis jasa cuci dan setrika baju atau laundry kecil-kecilan. Setiap satu kilogram cucian dibanderol Rp7 ribu dengan bonus bisa dijemput dan diantar langsung ke rumah.
Namun, untuk bisnis yang satu ini, Sari tak mau mematok banyak-banyak. Bukan bisnis betulan, begitu Sari menyebut usaha laundry-nya ini. Dalam satu hari, Sari hanya menerima satu paket cucian. "Soalnya nyuci sendiri, dibantu anak di rumah," kata dia seraya tertawa.
Setelah laundry, Sari tak berhenti menjajal bisnis lain. Memasuki bulan Ramadan, Sari sadar betul apa yang harus dijualnya: baju Lebaran dan mukena.
Olala.. Ternyata ragam mukena pilihan Sari menarik minat banyak pembeli. "Mukena bahan katun rayon. Adem, jadi banyak yang mau," kata Sari percaya diri.
Mau Tak Mau 'Palugada'
Bukan tanpa alasan Sari menjajal bisnis 'palugada' ini. Bak warung kelontong, Sari menyediakan berbagai hal yang diperlukan orang-orang.
Sari hidup bersama seorang suami dan lima orang anak yang masih tinggal bersamanya. Tanggungan yang begitu besar harus dipikul Sari bersama sang suami selama masa pandemi. Tak hanya biaya makan, tapi juga biaya sekolah ketiga anaknya dan biaya-biaya tak terduga lainnya.
Ilustrasi. Berdamai dengan virus corona adalah mencari pemasukan di luar mata pencaharian satu-satunya. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Sebelum pandemi meradang, hasil pemasukan sebagai terapis dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam seminggu, Sari bisa mengumpulkan kocek mencapai lebih dari Rp1 juta. Belum kalau panggilan sedang penuh, pemasukan bisa kian berlimpah. Ditambah dengan pemasukan sang suami sebagai ojek daring, mereka mampu membiayai kehidupan sehari-hari kelima anaknya.
Bagaimana saat pandemi? Jelas perubahan yang sangat drastis menimpa Sari. Sama seperti kebanyakan orang lainnya, mata pencaharian satu-satunya hilang.
"Tapi, kan, anak harus terus makan dan sekolah," kata Sari. Mau tak mau berbagai bisnis dilakoni Sari. Semuanya semata-mata dilakukan untuk memenuhi tanggungan dan kebutuhan sehari-hari akibat mata pencaharian yang hilang.
"Saya, sih, prinsipnya apa saja akan dilakukan demi memenuhi kebutuhan, yang penting halal," kata Sari.
Hasil kerja keras 'palugada' Sari tak buruk-buruk amat. Meski kehidupan Sari dan keluarga tak sepenuhnya kembali seperti sediakala, tapi kelima anaknya tak hidup merana dalam situasi serba tak pasti. "Mereka [kelima anaknya] bisa makan. Bisa sahur dan buka puasa dengan nikmat. Bisa tetap sekolah," kata Sari. Itu saja sudah membuat Sari lega, meski 'baju beduk' untuk kelima anaknya urung dibeli.
Betapa tidak, selama masa pandemi, mata Sari selalu bersinar dan mendadak 'hijau' setiap kali melihat celah bisnis. "Sampai ke baju-baju kucing segala juga saya jual. Hahahaha," kata Sari terbahak-bahak.
Tapi, apa boleh buat? Toh, Sari hanya mencoba berdamai dengan virus corona. (asr)
Ilustrasi. Pandemi Covid-19 membuat banyak mata pencaharian hilang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ilustrasi. Berdamai dengan virus corona adalah mencari pemasukan di luar mata pencaharian satu-satunya. (CNN Indonesia/Andry Novelino)