Sudut Cerita

Bisnis 'Palugada' Agar Keluarga Tak Merana di Tengah Pandemi

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 29/05/2020 14:49 WIB
Ilustrasi keuangan Ilustrasi. Bisnis 'palugada' jadi salah satu cara yang dilakoni masyarakat demi bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19. (Pixabay/jarmoluk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika tak ada aral melintang, seharusnya pada medio Maret lalu Sari (48) mulai menetap di Bali. Tiket keberangkatan serta sepetak kontrakan di kawasan Kuta telah dipersiapkan. Tapi, rupanya aral melintang. Pandemi Covid-19 yang tiba-tiba menjejakkan kakinya di Indonesia membuat Sari gagal coba-coba keberuntungan menjadi terapis profesional di Pulau Dewata dan malah membuatnya menjajal bisnis 'palugada'.

"Sedih, kesal. Tapi, ya, mau gimana lagi?" ujar Sari pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Dua pekan pertama virus SARS-CoV-2 hadir di Indonesia, Sari tetap melakoni pekerjaannya sebagai seorang terapis. Dia tetap melayani pelanggan meski sesungguhnya ketakutan.


Apa mau dikata, kebutuhan hidup sehari-hari membuat Sari harus tetap berkeliling melayani para pelanggan. Demi keamanan, Sari mengenakan masker selama berpraktik. Jika ada pelanggan yang minta dipijat karena mengeluh meriang, Sari mencari beribu alasan untuk menolak panggilan.

Tapi perlahan Sari takut. Apalagi kasus positif Covid-19 di Indonesia semakin bertambah. Ditambah lagi dengan imbauan untuk terus berada di rumah dari pemerintah.

Sari bimbang antara terus memijat atau mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Harap maklum, ada lima orang anak yang harus Sari penuhi kebutuhannya di rumah. Hanya berpaku pada pemasukan ojek daring dari sang suami jelas tak cukup.

Memikirkan masalah itu bak petaka bagi Sari. Betapa tidak, sebagai seorang terapis, Sari sudah memiliki banyak pelanggan yang kadung nyantol dengan pijatan tangannya. Sari mondar-mandir, bingung jika harus meninggalkan pelanggan-pelanggannya.

Tapi hidup harus terus berjalan dan Sari harus berdamai dengan kondisi. Sari putuskan untuk berhenti sementara waktu dari profesi terapisnya dan mencoba melakoni bisnis 'palugada' yang dijajalnya satu per satu.

Di masa-masa awal, Sari mencoba berjualan masker. Pikirannya berkata, barang seperti masker dan hand sanitizer menjadi 'primadona' dalam dunia bisnis 'palugada' saat ini.

Namun, berjualan masker dan hand sanitizer ternyata tak semudah yang dipikirkan. Permintaan yang tinggi membuat persediaan masker dan hand sanitizer kerap tersendat. Sari tak mau dibuat galau melulu oleh masker dan hand sanitizer yang kerap tersendat.

Warga mulai memadati pedagang kaki lima sekitar jalan Jatibaru, Tanah Abang. Jakarta, Minggu, 17 Mei 2020. Meski pemberlakuan PSBB Jakarta belum dicabut, sejumlah warga mulai melakukan aktivitas seperti biasa kembali. Data Kemenkes, 17.000 lebih warga telah positif terinfeksi corona, dengan kasus terbanyak DKI Jakarta dengan 5.881 kasus. CNNIndonesia/Adhi Wicaksono.Ilustrasi. Pandemi Covid-19 membuat banyak mata pencaharian hilang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Sari mencoba peruntungan lain. Kali kedua, Sari mencoba menjajal dunia kuliner. Sari kemudian menawarkan diri menjadi reseller dari sushi dan otak-otak buatan seorang teman.

Tapi sayang, bisnis kuliner Sari tak laku-laku amat. Entah karena rasa yang dinilai kurang atau memang tak banyak orang membutuhkan sushi dan otak-otak di tengah pandemi. "Hahaha, enggak tahu kenapa. Tapi wajar, sih. Kalau makanan, kan, soal selera," kata Sari.

Tak patah arang. Sari kembali memutar otak mencari cara lain. Mengingat banyak pelanggannya yang memelihara kucing, Sari pun beride untuk berjualan pakaian-pakaian kucing. "Lucu, lucu, ih," kata Sari gemas.

Beragam baju kucing dijual. Mulai dari baju kucing betina yang berenda hingga baju berbentuk sweater bertuliskan label ternama 'Supreme'.

Sari terbilang beruntung karena memiliki jejaring sosial yang luas. Sari tahu betul cara 'memanfaatkan' koneksi pelanggan-pelanggannya.

Selama berjualan, Sari kerap mengirimkan pesan broadcast yang kebanyakan ditujukan pada nomor-nomor pelanggannya. Sambil menjaga silaturahmi dengan pelanggan, Sari menawarkan barang-barangnya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

"Alhamdulillah, pelanggan-pelanggan saya ngerti. Beberapa suka ada aja yang beli barang-barang jualan saya," kata Sari.

Sari kemudian mencoba peruntungan lain dengan berjualan seprai. Menurut Sari, seprai adalah salah satu barang yang sangat dibutuhkan oleh banyak rumah tangga. Sari percaya diri dengan seprai kembang-kembang yang dijualnya.

Sambil berjualan seprai, Sari juga mulai membuka bisnis jasa cuci dan setrika baju atau laundry kecil-kecilan. Setiap satu kilogram cucian dibanderol Rp7 ribu dengan bonus bisa dijemput dan diantar langsung ke rumah.

"Ayo, ibu ibu yang malas dan ingin beristirahat, silakan, lho, kalau ada yang mau dicucikan bajunya. Murah, ditambah servis antar-jemput," tulis Sari dalam status WhatApp-nya suatu hari mempromosikan bisnis anyarnya.

Namun, untuk bisnis yang satu ini, Sari tak mau mematok banyak-banyak. Bukan bisnis betulan, begitu Sari menyebut usaha laundry-nya ini. Dalam satu hari, Sari hanya menerima satu paket cucian. "Soalnya nyuci sendiri, dibantu anak di rumah," kata dia seraya tertawa.

Setelah laundry, Sari tak berhenti menjajal bisnis lain. Memasuki bulan Ramadan, Sari sadar betul apa yang harus dijualnya: baju Lebaran dan mukena.

Olala.. Ternyata ragam mukena pilihan Sari menarik minat banyak pembeli. "Mukena bahan katun rayon. Adem, jadi banyak yang mau," kata Sari percaya diri.

Mau Tak Mau 'Palugada'

Bukan tanpa alasan Sari menjajal bisnis 'palugada' ini. Bak warung kelontong, Sari menyediakan berbagai hal yang diperlukan orang-orang.

Sari hidup bersama seorang suami dan lima orang anak yang masih tinggal bersamanya. Tanggungan yang begitu besar harus dipikul Sari bersama sang suami selama masa pandemi. Tak hanya biaya makan, tapi juga biaya sekolah ketiga anaknya dan biaya-biaya tak terduga lainnya.

Pedagang melayani pengunjung yang hendak membeli kebutuhan pokok di Toko Tani Indonesia Center (TTIC) dan Toko Tani Indonesia (TTI), Ragunan, Selasa, Jakarta (05/05/2020). Pasar tani yang menggelar barang kebutuhan pokok bagi warga tersebut melayani penjualan online dengan aplikasi dan offline. Hal tersebut sebagai upaya meningkatkan akses pangan bagi masyarakat untuk mendapatkan pangan strategis seperti, beras, gula pasir, daging sapi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, cabai, sayur, dan buah dengan harga di bawah harga pasar dengan harapan dapat menstabilkan harga ditingkat eceran. CNN Indonesia/Andry NovelinoIlustrasi. Berdamai dengan virus corona adalah mencari pemasukan di luar mata pencaharian satu-satunya. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Sebelum pandemi meradang, hasil pemasukan sebagai terapis dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam seminggu, Sari bisa mengumpulkan kocek mencapai lebih dari Rp1 juta. Belum kalau panggilan sedang penuh, pemasukan bisa kian berlimpah. Ditambah dengan pemasukan sang suami sebagai ojek daring, mereka mampu membiayai kehidupan sehari-hari kelima anaknya.

Bagaimana saat pandemi? Jelas perubahan yang sangat drastis menimpa Sari. Sama seperti kebanyakan orang lainnya, mata pencaharian satu-satunya hilang.

"Tapi, kan, anak harus terus makan dan sekolah," kata Sari. Mau tak mau berbagai bisnis dilakoni Sari. Semuanya semata-mata dilakukan untuk memenuhi tanggungan dan kebutuhan sehari-hari akibat mata pencaharian yang hilang.

"Saya, sih, prinsipnya apa saja akan dilakukan demi memenuhi kebutuhan, yang penting halal," kata Sari.

Hasil kerja keras 'palugada' Sari tak buruk-buruk amat. Meski kehidupan Sari dan keluarga tak sepenuhnya kembali seperti sediakala, tapi kelima anaknya tak hidup merana dalam situasi serba tak pasti. "Mereka [kelima anaknya] bisa makan. Bisa sahur dan buka puasa dengan nikmat. Bisa tetap sekolah," kata Sari. Itu saja sudah membuat Sari lega, meski 'baju beduk' untuk kelima anaknya urung dibeli.

Terkadang, Sari tertawa jika mengingat kegiatannya saat ini yang berbisnis 'palugada'. Beberapa teman, aku Sari, menertawakannya. Beberapa teman menyambut polah Sari untuk berjualan segala macam dengan gelak tawa. Lucu, kata teman-teman Sari.

Betapa tidak, selama masa pandemi, mata Sari selalu bersinar dan mendadak 'hijau' setiap kali melihat celah bisnis. "Sampai ke baju-baju kucing segala juga saya jual. Hahahaha," kata Sari terbahak-bahak.

Tapi, apa boleh buat? Toh, Sari hanya mencoba berdamai dengan virus corona. (asr)

[Gambas:Video CNN]