Pro-Kontra Punya Momongan di Masa Pandemi Corona

CNN Indonesia | Sabtu, 23/05/2020 09:58 WIB
Pregnant woman sitting in childbearing center Ilustrasi kehamilan. (Istockphoto/ Pekic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Intan dan suaminya, Yandi, memutuskan menunda sejenak hasrat untuk memiliki momongan di tengah masa pandemi virus corona.

Keduanya mengikat janji membina rumah tangga pada Februari 2020 lalu. Namun, mereka belum diberondong pertanyaan soal kapan mau mempunyai anak.

Selain memahami merawat anak bukan perkara mudah, terbersit di benak Intan betapa urusan soal rumah sakit dan dokter jadi agak mengkhawatirkan akhir-akhir ini.


"Keluarga saya dan suami malah bilang, tunda aja dulu punya anaknya. Kasihan nanti ke rumah sakit malah repot," kata Intan pada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Jumat (22/5).


Meski menunda kehamilan, Intan mengaku tidak berani menggunakan kontrasepsi. Ada rasa enggan sekaligus rasa takut terlebih berurusan dengan KB.

Intan memilih kontrasepsi secara alami yakni menghindari berhubungan intim di masa subur, sembari menyiapkan diri secara mental maupun fisik untuk memiliki anak dan menunggu pandemi berakhir.

Berbeda dari Intan, pandemi corona tidak mengurungkan niat Ni Putu Peggy Agustien Kamajaya dan Prisca. Baik Peggy maupun Prisca menganggap usia kepala tiga jadi alasan untuk segera memiliki momongan.

"Pertimbangan saya sih lebih ke umur. Saya kelahiran 1984, udah tua," ujar Peggy disusul tawa.

Ia dan sang suami, Ricky Dos Bonardo Panjaitan, meyakini situasi dan kondisi saat ini mendukung untuk memiliki momongan. Pertimbangannya, lanjut Peggy, ia dan suami sama-sama bekerja dari rumah (work from home/WFH) sehingga lebih minim risiko tertular Covid-19.

Ditambah akses ke fasilitas kesehatan tidak sulit, dan area perumahan tidak terletak di kawasan zona merah.


Sedangkan Prisca dan Charles yang menikah pada September 2019 lalu memang tidak menunda memiliki momongan. Selain pertimbangan usia Prisca yang masuk kepala tiga, situasi pandemi juga tidak bisa ditebak.

"Situasi enggak pasti, kalau nunda mau berapa lama? Ya kalau nunda terus (pandemi berakhir) langsung isi, kalau ada masalah mengingat faktor usia? Prosesnya kan masih 9 bulan (hamil), masih ada spare time," katanya.


Memilih Alami

Walau ingin segera memiliki anak, Peggy tidak berani berkonsultasi ke dokter. Dia justru khawatir ada kemungkinan tertular virus saat berkunjung ke rumah sakit.

Bagi Peggy, saat ini yang bisa dilakukan selain memeriksa masa subur juga memperhatikan gaya hidup.

"Kalau suami tanya ke teman, ngapain aja, lalu suplemen biar subur, lalu metode seperti apa, habis berhubungan lalu sebaiknya ngapain," katanya.

Karena di kompleks perumahan ada bidan, ia pun mempertimbangkan untuk berkonsultasi ke sana. Untuk kunjungan ke klinik dekat rumah pun sangat ia pertimbangkan jika nantinya diberi kesempatan memiliki momongan.

[Gambas:Video CNN]

Dia membayangkan nanti kunjungan ke sana untuk memeriksakan kehamilan akan menyesuaikan jam dan terlebih dulu melihat antrean. Ada upaya untuk menghindari antrean di lokasi.

Senada dengan Peggy, Prisca pun belum berpikir untuk berkonsultasi dengan dokter. Usia pernikahannya belum genap setahun sehingga usaha secara alami masih bisa dikerahkan. Nutrisi, katanya, jelas diperhatikan tetapi buat urusan suplemen ia mengaku tidak ada yang khusus.

"Saya enggak mikir nanti gimana, enggak ada bayangan juga nanti gimananya, lihat nanti saja. Karena pun di masa sekarang ada yang melahirkan, mereka bisa survive," ujarnya.

"Tapi syukurnya belum hamil ya, ya sudah, enjoy aja." (els/ayp)

[Gambas:Video CNN]