Curhat Mereka yang Pernah Kuliah di Jurusan 'Unik'

tim, CNN Indonesia | Kamis, 04/06/2020 07:00 WIB
Ilustrasi Perpustakaan Foto: robarmstrong2/Pixabay
Jakarta, CNN Indonesia -- Dari sekian banyak jurusan yang ada di berbagai universitas di Indonesia dan juga di seluruh dunia, apa yang menjadi pilihan Anda? Pasti ada banyak pertimbangan untuk menentukan pilihan masa depan Anda.

Namun setiap tahunnya ada beberapa jurusan kuliah yang jadi favorit dibanding lainnya. Manajemen, ekonomi, IT, hukum, dan beberapa lainnya. Namun perlu disadari ada banyak jurusan kuliah lainnya yang bisa dilirik.

Meski tak terlalu populer namun ada banyak hal yang perlu diketahui sol jurusan lain yang mungkin dianggap aneh, lucu, dan 'ajaib,' namun pada kenyataannya ada peminat jurusan tersebut. Mungkin saja Anda berpikir,'ada ya jurusan ini?' tapi begitulah adanya, dan ternyata seru ketika dijalani. 


Pelakon jurusan tersebut nyatanya tak menyesal memilih jurusan yang tak populer bagi banyak orang ini.

1. Jurusan Hama Penyakit Tanaman (Proteksi Tanaman)

Anak Jakarta belajar pertanian, mau jadi apa? Emang mau jadi petani?


Itu pikiran saya waktu pertama kali diterima jadi mahasiswa baru di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Apalagi di bidang pertanian dan jurusan Hama Penyakit Tanaman.

Jujur awalnya hanya pilih itu karena passing grade-nya terjangkau jadi kesempatan lulus PTN lebih tinggi. Dibilang passion juga tidak karena tak punya bayangan sejak awal. Namun apa boleh buat, jalani saja dulu.

Saya pernah meminta kepada ayah saya, bahwa saya akan ikut ujian lagi setahun kemudian, karena saya tak tahu mata kuliahnya. Tapi akhirnya keinginan itu sirna, saya tidak lagi mendaftar ujian masuk dan tetap berada di jurusan hama penyakit tanaman.

Apa yang dipelajari di sana? Sebagai mahasiswa fakultas pertanian tentu saja akan belajar segala sesuatu soal cara bercocok tanam. Tapi di bagian HPT yang sekarang disebut sebagai proteksi tanaman, akan lebih spesifik belajar soal hewan pengganggu dan penyakit yang menyebabkan tanaman itu mati atau rusak.

Pelajaran pertama yang saya dapat dan saya ingat sampai sekarang dari kakak kelas saya adalah, apa bedanya tanaman dan tumbuhan? Pernah memikirkan bedanya? Dulu tidak tapi sekarang saya tahu kalau tanaman itu dibudidayakan atau sengaja ditanam dan dirawat, sedangkan tumbuhan adalah semua yang tumbuh baik ditanam atau liar.

Lebih ke pelajaran seperti biologi, bagaimana cara virus, bakteri, jamur menyebabkan tanaman mati, dan bagaimana caranya agar tanaman tetap sehat. Hiperparasitisme, agensia hayati atau melawan hama dengan musuh alami, dan menghindari penggunaan pestisida kimia agar tak ada efek samping untuk manusia.

Perlu disadari bahwa pertanian adalah dasar dari kehidupan. Ada tanaman ada petani ada makanan sehat di meja untuk bertahan hidup. Pada akhirnya belajar di jurusan ini membuat saya berpikir tentang bagaimana kelangsungan ekosistem pertanian, memikirkan kesehatan dengan konsumsi makanan sehat, mengendalikan kutu beras, hama wereng, penyakit tanaman, atau setidaknya saya tahu nama penyakit 'serabut' abu-abu seperti kapas yang ada di stroberi, ya kapang kelabu.

Di jurusan ini saya juga belajar soal bertanam (agronomi), soal tanah di ilmu tanah, sampai penanganan pascapanen. Oh ya banyak bermain di sawah, tidak cuma duduk bosan di ruang kuliah atau di lab. Ke pasar mencari Plutella xylostella atau ulat kubis. Belajar nama latin hama dan penyakit itu sudah pasti, toh nama mereka keren-keren.

Selain itu bikin pestisida sendiri dari tumbuhan di sekitar yang tak terduga, misalnya babandotan. Waktu kecil saya tak tahu kalau daun yang aromanya seperti kambing ini ternyata punya manfaat lain untuk pertanian.

Petani memanen kubis di perkebunan kubis Sarangan, Magetan, Jawa Timur, Rabu (24/2). Menurut petani harga kubis di tingkat petani saat ini Rp2.000 per kilogram, tergolong rendah dibanding pada saat harga tinggi mencapai Rp5.000 per kilogram. ANTARA FOTO/Siswowidodo/pras/16Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)


Menyesal? Tidak sama sekali, sebaliknya seperti dosen saya pernah bilang, "menjadi dokter tanaman itu lebih sulit, karena tanaman tidak bisa ngomong kalau sakit atau kena hama. Kita yang harus pandai analisis dan teliti, rajin membaca dan tak tekun."


Soal pekerjaan? Saat ini saya memang tidak bekerja sesuai jurusan kuliah saya. Tapi siapa bilang itu tidak terpakai? Contoh paling mudah, di saat pandemi ini semua orang justru tengah hobi berkebun, baik hidroponik atau lainnya. Saya sudah mulai sejak lama. Bahkan seperti diketahui semakin banyak orang suka berkebun karena bisa menghilangkan stres. Kalau saya? Saya ingin punya usaha sampingan jadi petani jamur atau bunga.

Tapi teman-teman saya lainnya juga banyak yang berkecimpung di dunia pertanian dengan menjadi penyuluh petani untuk mengurangi risiko penggunaan pestisida kimia yang berbahaya.

Ina, Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Unsoed
HALAMAN :
1 2 3