Kontroversi Hydroxychloroquine dan Refleksi Uji Klinis Obat

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 04/06/2020 15:55 WIB
A bottle of pills is tipped on its side, spilling onto a glass-top desk with stethoscope and clip board in the background. Ilustrasi: Perdebatan mengenai hydroxychloroquine sebagai salah satu obat yang diuji coba untuk mengatasi kasus infeksi virus corona mesti dijadikan pemicu untuk melakukan refleksi serius terhadap peninjauan setiap jurnal ilmiah mengenai Covid-19. (Foto: iStockphoto/FatCamera)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdebatan mengenai uji coba hydroxychloroquine sebagai salah satu obat untuk menangani infeksi virus corona mestinya bisa menjadi mula untuk mengoreksi agar sebuah kebijakan tak berbasis pada jurnal ilmiah hasil peer review. Harapan ini diutarakan seorang profesor penyakit menular dan kesehatan global di Universitas Oxford, Peter Horby merespons kontroversi pengujian hydroxychloroquine di tengah upaya menangani wabah global Covid-19.

Pada Rabu (3/6) lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan uji coba klinis hydroxychloroquine bakal kembali dilanjutkan setelah sempat ditunda sementara. Penghentian ini lantaran hasil publikasi jurnal medis Lancet menyatakan obat yang juga digunakan untuk malaria itu, dapat meningkatkan risiko kematian pasien Covid-19.

Peter Horby mengungkapkan, kontroversi itu harus memicu refleksi serius terhadap kualitas proses peninjauan sejawat atau peer review suatu karya tulis ilmiah.


"Publikasi ilmiah harus ketat dan jujur. Dalam keadaan darurat, nilai-nilai ini diperlukan lebih dari yang sebelumnya, ungkap Peter Horby dikutip dari AFP.


Ia melanjutkan, bagaimanapun keputusan untuk menghentikan uji klinis berdasar pada studi pengamatan adalah, "sepenuhnya tidak dapat dibenarkan".

Seperti diketahui, puluhan ilmuwan meragukan penelitian yang menyatakan hydroxychloroquine dan chloroquine tak bermanfaat untuk mengobati pasien Covid-19. Penelitian besar-besaran yang diterbitkan jurnal medis Lancet itu lantas membuat WHO menghentikan uji klinis obat antiviral tersebut.

Penelitian yang dipimpin Mandeep Mehra dari Brigham and Women's Hospital di Amerika Serikat itu mengkaji data 96.000 pasien dari ratusan rumah sakit dalam rentang Desember hingga April. Tim peneliti membandingkan dengan pasien dalam satu kelompok kontrol.

Hasil itu lantas menggerakkan banyak peneliti dari berbagai negara untuk mempelajari detail studi tersebut. Kemudian muncul nada keprihatinan dari surat terbuka kelompok ilmuwan tersebut yang meragukan integritas metodologi dan data studi. Salah satunya terkait minimnya informasi negara dan rumah sakit yang memberi pasokan data--yang disediakan perusahaan analisis data kesehatan berbasis di Chicago, Surgisphere.


Merespons koreksi tersebut Lancet lantas menerbitkan perbaikan atas ketidakcocokan data sekaligus menyatakan bahwa pihaknya mendukung perdebatan ilmiah tersebut beserta tinjauan independen.

Tapi perdebatan tentang data itu terus berlanjut dan pekan ini New England Journal of Medicine juga mengeluarkan keprihatinan menggunakan basis data Surgisphere terkait obat kardiovaskular dan Covid-19.

Mehra sebagai penulis utama pada kedua studi itu pun mengklaim tujuan studinya sebagai auditor independen. "Untuk memverifikasi sumber data dan menilai keakuratan database dan temuan penulis," ucap Mehra pada Rabu waktu setempat dikutip dari AFP. (NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]