Tak Sensitif, 'George Floyd Challenge' Tuai Kecaman

tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/06/2020 22:14 WIB
FILE - In this May 1, 2020, file photo, Turkish police officers arrest a demonstrator wearing a face mask for protection against the coronavirus, during May Day protests near Taksim Square, in Istanbul. The death of George Floyd has renewed scrutiny of immobilization techniques long used in policing around the world. (AP Photo/Emrah Gurel, File) ilustrasi menekan leher dengan lutut ( AP/Emrah Gurel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kematian George Floyd menyulut demonstrasi di AS dan dikutuk di seluruh dunia. Namun di tengah permasalahan tersebut, sebuah tantangan atau challenge muncul, George Floyd challenge.

Namun tantangan yang meniru hal yang dialami Floyd dengan menekan leher ini membuat banyak orang marah, terutama di dunia online. Tantangan tersebut mendapatkan banyak kecaman karena dinilai tak sensitif.

Awalnya, tantangan ini dimulai ketika seorang pelatih gulat di sekolah menengah melakukan adegan seperti yang dialami Floyd, dengan menekan bagian leher orang lainnya dengan lutut, beredar di media sosial.


Dalam unggahan yang dikritik tersebut, pria yang diketahui bernama Dave Hollenbeck ini menuliskan ucapannya.


"Belum mati. Ini semua untuk semua orang dan orang yang tak tahu apa yang mereka bicarakan ketika mereka bilang ini (menekan lutut ke leher) bisa membunuhmu," tulisnya.

Pria yang diketahui sebagai pelatih di Bethel School District ini pun dipecat dari jabatannya.

"Perilakunya tidak konsisten dengan inisiatif keadilan dan kebijakan nondiskriminasi di sekolah," kata seorang juru bicara sekolah menurut KOMO News.

Hollenbeck pun akhirnya meminta maaf atas perbuatannya.

Tak cuma Hollenbeck, aksi lainnya juga menyebar dan dilakukan orang lainnya. Pekerja konstruksi dari East Bethel, Minnesota juga dipecat karena melakukan tantangan tersebut.


Selain itu, dua orang calon mahasiswa dibatalkan penerimaan di universitas karena mereka mengunggah video Snapchat serupa. Namun Presiden Universitas di Missouri, Clif Smart mengklarifikasi bahwa calon mahasiswa tersebut memilih untuk mundur.

Hal lainnya juga terjadi di Inggris. Mereka juga menuliskan unggahan 'kebrutalan polisi' pada keterangan fotonya. Akhirnya mereka pun ditangkap karena dianggap melakukan kejahatan rasial.

A protester and a police officer shake hands in the middle of a standoff during a solidarity rally calling for justice over the death of George Floyd Tuesday, June 2, 2020, in New York. Floyd died after being restrained by Minneapolis police officers on May 25. (AP Photo/Wong Maye-E)Foto: AP/Wong Maye-E
ilustrasi saat demo kekerasan yang dialami George Floyd


Berbagai situs media sosial sekarang ini sudah menindak para pengguna yang berpartisipasi dalam tantangan tersebut serta memblokir hashtagnya.

Mengutip Indian Express, salah satu tangkapan layar memperlihatkan bahwa challenge tersebut dibagikan di SnapChat, sementara foto dan video lainnya menunjukkan gambar tersebut diunggah di Facebook dan Instastory.

Tantangan ini menuai kontroversi usai munculnya petisi online yang meminta TikTok menghapus konten apapun yang melibatkan George Floyd Challenge. (chs)

[Gambas:Video CNN]