CELOTEH WISATA

Digempur Corona, Hiburan Malam Jakarta Tunggu Lampu Hijau

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Senin, 22/06/2020 16:15 WIB
People are pictured during a laser party organized in a forest next to Bucharest May 19, 2017. Hundreds of ravers take part every year in Ilustrasi. (AFP PHOTO / DANIEL MIHAILESCU)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebelum pandemi virus corona melanda dunia dan Indonesia, Hana paling malas langsung membuka  ponselnya untuk mengecek notifikasi yang masuk.

Namun kini selama ia dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja dan PSBB DKI Jakarta diberlakukan, ia jadi makin sering mengecek notifikasi.

Telepon seluler menjadi wahana pengganti bar, restoran, kedai kopi, dan tempat hiburan malam yang selama ini ia datangi untuk kongko bersama teman-temannya.

Telepon genggamnya merupakan merk terbaru. Jaringan internet di rumahnya terbilang mumpuni. Kamarnya juga berpendingin udara. Namun ketiga hal tersebut tak membuat Hana bisa 100 persen melepas rindu dengan teman-temannya.

"Walau sekarang komunikasi virtual udah serba canggih, tetep aja ga ada yang bisa gantiin senengnya komunikasi tatap muka. Makan dan minum bareng temen di bar itu jauh lebih seru ketimbang makan dan minum bareng temen via video call. Kadang ada yang jaringan internetnya mendadak lemot, terus jadi ilfil buat lanjutin ngobrol," kata Hana saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan pendek pada Selasa (9/6).

Selain liburan ke luar kota, Hana mengaku sangat rindu kongko bersama teman-temannya di Duckdown, salah satu tempat hiburan malam di bilangan Senopati.

Orang dengan claustrophobia mungkin enggan datang ke sana, karena ruangannya tak begitu luas dan pengunjungnya selalu padat. Tapi suasana tersebut dirasa Hana menambah keseruan kongko di Duckdown, ditambah ia bisa bebas bernyanyi saat malam karaoke digelar.

Suasana open mic karaoke di Duck Down Bar, Gunawarman, Jakarta, Kamis, 12 Desember 2019. CNN Indonesia/Bisma SeptalismaSuasana open mic karaoke di Duck Down Bar, Gunawarman, Jakarta, Kamis, 12 Desember 2019. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)


Namun setelah merasakan masa pandemi virus corona, mengetahui soal penularan, ketakutan munculnya klaster baru atau gelombang kedua, Hana jadi ragu untuk kongko lagi di tempat hiburan malam.

"Takut nongkrong lagi sih enggak, tapi lebih milih-milih tempat sekarang. Mungkin akan milih tempat yang lebih luas dan ga desak-desakan, kayak La Bodega," ujarnya.

Saat kembali kongko di masa pandemi, Hana juga bakal mengubah kebiasaan buruknya, yakni langsung tidur sesampainya di rumah.

"Dulu paling cuci muka langsung tidur begitu sampai rumah. Sekarang setiap abis ke luar rumah banyak banget tahapannya, mulai dari cuci muka sampai cuci tangan. Mungkin kalo enggak males mau ga mau harus mandi. Kebayang ga sih mandi jam 3 pagi abis pulang dari bar?" lanjutnya.


Tempat hiburan malam berusaha hidup

Tak hanya pengunjung seperti Hana yang merindukan kemeriahan hiburan malam di Jakarta. Begitu juga dengan Michael Killian, pria yang merupakan salah satu pemilik tempat hiburan malam Zodiac, yang berjarak 'satu tikungan' dengan Duckdown.

Sudah hampir tiga bulan tempat usahanya tutup sementara, yang berarti sudah tiga bulan ia tak begadang dan pulang pagi, untuk memastikan acara yang digelar berlangsung ramai, meriah, dan tertib.

"Ada sisi positif dan negatif dari masa karantina mandiri ini. Positifnya kesehatan jadi lebih terjaga karena lebih sering di rumah. Mikir soal perencanaan atau ide baru juga lebih teratur. Tapi negatifnya, kehidupan sosial harus terkendala, begitu juga dengan bisnis," katanya saat diwawancarai oleh CNNIndonesia melalui pesan pendek pada Rabu (10/6).

Michael Killian, salah satu pemilik Zodiac, tempat hiburan malam di JakartaMichael Killian, salah satu pemilik Zodiac, tempat hiburan malam di Jakarta. (Dok. Pribadi)

Sebelum dimulainya PSBB DKI Jakarta pada 10 April 2020, Michael lebih dulu menutup Zodiac dengan tujuan melindungi pengunjung serta staf.

Selama masa kerja dari rumah, tim kreatif tetap bekerja di rumah untuk menjalankan toko daring zodiacjakarta.com yang menjual beragam pernak-pernik Zodiac yang bekerjasama dengan sejumlah merk fesyen lokal dan internasional.

Mereka juga merilis berbagai wawancara dan daftar lagu dari DJ-DJ yang pernah tampil di sana.

Toko daring dikatakan Michael kini menjadi satu-satunya pemasukan bagi Zodiac. Namun setelah PSBB DKI Jakarta dilonggarkan pada pekan ini menjadi masa transisi, ia masih berpikir dua kali untuk kembali membuka tempat usahanya.

"Dampak yang ditimbulkan pandemi virus corona ga bisa dibandingkan dengan saat banjir Jakarta kemarin. Ini krisis global, efeknya ke seluruh dunia. Ga cuma ekonomi, soal kesehatan dan sosial juga terdampak. Pasti akan terjadi perubahan tren, jadi untuk pembukaan kembali harus perlu kajian lagi, terutama soal daya beli pasar, sosial, dan kesehatan," katanya.

[Gambas:Instagram]

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta mulai membuka tempat wisata di Jakarta secara bertahap pada 5 Juni.

Aturan pembukaan kembali tempat wisata berdasarkan surat keputusan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 131 Tahun 2020.

Dalam surat keputusan tersebut dinyatakan bahwa tempat usaha makanan dan minuman yang berdiri sendiri atau yang menjadi fasilitas hotel, kecuali bar, sudah bisa beroperasi untuk makan di tempat dan pesan antar pada 8 Juni hingga 15 Juli 2020.

Tempat usaha makanan dan minuman yang berada di dalam mal hanya diizinkan untuk pesan antar.

Baru pada 15 Juni hingga 2 Juli 2020 tempat usaha makanan dan minuman yang ada di mal, kecuali bar, diperkenankan makan di tempat.

Michael merasa aturan tersebut belum mencakup bisnisnya yang masuk ranah tempat hiburan malam. Belum lagi adanya aturan mengurangi kapasitas pengunjung hingga 50 persen.

Hampir sama dengan Duckdown, luas Zodiac juga terbilang minimalis. Sesama pengunjung hampir pasti bersenggolan siku tangan saat berada di dalamnya. Momen sosialisasi ini sudah pasti tak bisa terulang jika harus manut aturan jarak sosial.

Michael berharap pemerintah bisa membuat aturan yang jelas sehingga ketidakpastian nasib tempat usaha seperti miliknya bisa berakhir.

"Banyak pemilik tempat usaha yang tetap berjuang di tengah nol pendapatan, seperti tetap membayar sewa tempat usaha, karena tidak ada regulasi khusus yang diaplikasikan dari tingkat tertinggi hingga terbawah. Semoga selama masa transisi ini pemerintah bisa belajar dari banyak kasus untuk membuat regulasi yang tepat bagi tempat hiburan malam," pungkasnya.

(ard)

[Gambas:Video CNN]