Online Resilience, 'Benteng' Pertahanan Diri di Dunia Maya

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 21:00 WIB
ilustrasi internet (geralt/pixabay) Ilustrasi. Sikap online resilience dibutuhkan sebagai benteng pertahanan diri di dunia daring. (Pixabay.com)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ancaman di dunia maya dan media sosial dapat terjadi pada siapa saja, mulai dari cyberbullying atau perundungan hingga kekerasan di internet. Untuk menghadapi itu, semua dibutuhkan sikap online resilience atau ketahanan di dunia daring.

"Online resilience menjadi kebutuhan penting untuk mengelola berbagai risiko yang membahayakan secara mandiri. Ini merupakan skill utama yang harus diajarkan dalam pengasuhan dan pendidikan di sekolah," kata Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) Wiwin Hendriani dalam webinar memperingati Hari Anak Nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Selasa (7/7).

Online resilience adalah kemampuan untuk menghadapi situasi sulit, berbahaya, dan berisiko dalam dunia daring. Kemampuan ini juga mencakup mampu menghadapi dan memulihkan kondisi psikologis usai mengalami pengalaman negatif saat beraktivitas di dunia daring. Begitu pula dengan mampu beradaptasi secara akurat sehingga bisa menyaring dan merespons berbagai hal saat berinteraksi dengan teknologi digital.


"Misalnya setelah mengalami pengalaman negatif seperti bullying di medsos, apakah setelah itu harus membalas, menyesali, atau bagaimana. Online resilience mampu memulihkan diri setelah mengalami kemampuan buruk dengan cara yang tepat dan tidak merugikan perkembangan psikologisnya," tutur Wiwin yang merupakan dosen dan peneliti di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Online resilience dapat ditumbuhkan sejak dini pada anak maupun orang dewasa. Berikut cara menumbuhkan sikap online resilience.

1. Mengenali berbagai risiko saat beraktivitas secara daring

Latih diri atau anak untuk mengenali berbagai risiko yang muncul saat melakukan aktivitas daring. Misalnya, risiko jika bertemu unggahan konten negatif seperti pornografi, hoaks, ujaran kebencian, dan kata-kata kasar. Lalu risiko diajak bertemu dengan orang lain, mentransfer uang, atau melakukan sesuatu. Kenalkan anak pada risiko-risiko tersebut.

"Latih anak mengenali risiko tersebut bahwa ini penting. Setelah tahu, mereka akan paham pada bahaya yang bisa muncul," ucap Wiwin.

2. Mengelola risiko dan mencari bantuan

Mengelola risiko berarti tindakan yang harus dilakukan saat bertemu dengan risiko tersebut. Misalnya, langsung menutup atau menghapus konten ujaran kebencian, menghapus pertemanan dengan orang yang menyebarkan pornografi dan hoaks.

Ajarkan pula anak untuk memberi tahu setiap hal yang ditemuinya di internet.

3. Mengelola tekanan dari pengalaman negatif

Mengelola tekanan berarti mengelola atau melatih emosi setelah mengalami pengalaman negatif di internet atau media sosial. Misalnya, melatih anak untuk tetap percaya diri saat mengalami cyberbullying.

4. Konsisten mendampingi anak

Orang tua harus terus konsisten mendampingi anak dalam membentuk sikap online resilience.

"Penting untuk konsisten mendampingi dan mengajarkan anak mulai dari memberikan contoh perilaku dan penguatan diri yang positif," ujat Wiwin.

(ptj/asr)

[Gambas:Video CNN]