SURAT DARI RANTAU

Iduladha dari Balkon Kamar di Istanbul

Navia Izzati, CNN Indonesia | Minggu, 02/08/2020 17:00 WIB
Perayaan Iduladha di Turki hampir sama dengan di Indonesia. Bedanya, porsi sarapan di sini amatlah besar dan lengkap. Suasana salat Iduladha tahun ini di Hagia Sophia, yang telah berubah fungsi menjadi masjid. (Pool via AP)
Istanbul, CNN Indonesia --

Selama tiga tahun hijrah ke Turki, saya baru merasakan dua kali Iduladha di sini, karena pada tahun 2019 saya berkesempatan pulang ke Jakarta.

Di Turki, bisa dibilang perayaan Iduladha lebih meriah dibanding perayaannya Idulfitri.

Kalau biasanya tanggal merah Idulfitri tiga hari, maka tanggal merah Iduladha bisa empat sampai lima hari di negara ini. Penduduk Turki juga banyak yang mudik saat Iduladha.


Setahu saya, tradisi Iduladha di Turki ini hampir sama seperti di Indonesia. Setelah salat Id, mereka biasanya sarapan bersama.

Dalam budaya Turki sarapan itu momen yang paling penting. Tak heran kalau menu sarapan itu lengkap dan porsinya besar, karena memang tradisi di setiap keluarga.

Menu sudah pasti ada di atas meja sarapan keluarga Turki ialah beragam telur (ceplok, dadar, omelet), beragam roti berikut selai dan kejunya, sosis, dan tak lupa buah zaitun.

Saat makan siang, mereka bersantap menu khas Turki yakni Bayram Kavurmasi, atau yang menurut saya mirip tumis daging.

Menjelang senja, mereka punya ritual berbincang sambil minum kopi Turki atau Turk Kahvesi dan makan coklat.

Cokelat saat hari raya Islam dikemas menarik di Turki. Produsen coklat biasanya akan membuat kemasan edisi khusus hari raya. Supermarket pun pasti memajang variasi coklat di depan pintunya setiap hari raya.

Pastinya saya sangat rindu dengan perayaan Iduladha di Indonesia, terutama acara kumpul bersama keluarga sambil bersantap gulai dan nasi kebuli.

Tradisi Iduladha yang tak pernah saya lewatkan sejak kecil ialah melihat proses penyembelihan hewan kurban di masjid dekat rumah.

menu makanan Bayram KavurmasiBayram Kavurmasi. (E4024 via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-4.0))

Namun di masa pandemi virus corona, suasana Iduladha di Turki tahun ini tak semeriah tahun lalu. Saya bahkan tak sempat keluar rumah kemarin. Suasana kawasan tempat saya tinggal di Istanbul juga terasa sepi. Tetangga-tetangga hanya saling mengucapkan selamat hari raya melalui balkon rumah.

Beberapa teman ada yang salat Iduladha di di Masjid Sultanahmet dan Hagia Sophia. Terutama di Hagia Sophia yang baru berubah fungsi kembali menjadi masjid, dari foto suasana di sana terlihat ramai.

Hundreds of faithful gather early in the morning outside Istanbul's iconic Hagia Sophia for Eid-al Adha prayers, in Istanbul, Friday, July 31, 2020. Small groups of pilgrims performed one of the final rites of the Islamic hajj on Friday as Muslims worldwide marked the start of the Eid al-Adha holiday amid a global pandemic that has impacted nearly every aspect of this year’s pilgrimage and celebrations. The last days of hajj coincide with the four-day Eid al-Adha, or “Feast of Sacrifice,” in which Muslims slaughter livestock and distribute the meat to the poor. (AP Photo/Cavit Ozgul)Keramaian jemaah salat Iduladha di depan Hagia Sophia. (AP/Cavit Ozgul)

Eksistensi Hagia Sophia juga menjadi pro dan kontra di Turki. Tapi dari berita yang saya baca, sebelumnya telah ada survei yang menunjukkan kalau sebagian besar penduduk Turki sepakat kalau bangunan bersejarah itu diubah fungsinya menjadi masjid.

Sebagai penikmat sejarah, saya hanya berharap semakin banyak orang yang menghargai perbedaan dan sejarah apapun itu bentuknya--apakah Hagia Sophia dijadikan gereja, masjid, ataupun museum.

Saya terakhir masuk ke Hagia Sophia pada September 2019, saat menemani teman yang sedang berkunjung ke Turki. Sebelum pandemi, duduk-duduk di taman antara Hagia Sophia dan Masjid Sultanahmet menjadi momen favorit saya, karena areanya yang sangat asri.

Photo of Hagia Sophia in Istanbul with fountain photographed from Sultanahmet Park during the day in cloudy skies and light cloud cover in May 2014Taman Sultanahmet. (iStockphoto/Pictures-and-Pixels)

Sebenarnya rindu juga duduk-duduk di sana. Namun, masih dalam masa pandemi ditambah membludaknya pengunjung Hagia Sophia, mungkin acara menikmati taman harus ditunda dulu.

Bangunan bersejarah favorit saya di Turki selain Hagia Sophia adalah Dolmabahce Palace, istana yang digunakan sebagai tempat tinggal sultan-sultan era Kekaisaran Ottoman.

Lokasi istananya tepat di sisi Selat Bosphorus, dan interior dan eksterior istananya sangatlah megah dan indah.

Di Istanbul saya bermukim di daerah Bahçelievler. Memang bukan di pusat kota, tapi akses ke tempat saya menempuh studi Master jurusan Media dan Sistem Komunikasi di Istanbul Commerce University cukup mudah.

Sebagai mahasiswa rantau menurut saya biaya hidup di Turki cukup terjangkau, apalagi saat ini nilai tukar Turkish Lira cukup rendah, jadi bisa dibilang biaya hidup di Istanbul itu hampir sama dengan Jakarta.

Saya bisa menempuh pendidikan di Turki setelah mendapat beasiswa Turkiye Burslari yang full coverage dari pemerintah Turki.

Tips untuk pembaca CNNIndonesia.com yang ingin kuliah di Turki itu sebaiknya pelajari Bahasa Turki dari awal dan secara serius. Soalnya, struktur Bahasa Turki dan Bahasa Indonesia itu amat berbeda, sehingga cukup menjadi tantangan untuk para pelajar asing di Turki.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi sdr@cnnindonesia.com

(ard)

[Gambas:Video CNN]