Tips Hindari Kekerasan Seksual Berkedok Penelitian

Tim, CNN Indonesia | Senin, 03/08/2020 21:16 WIB
Belakangan marak terungkap kasus kekerasan berbasis gender secara online menyaru penelitian. Berikut tips aman dari modus kekerasan ataupun pelecehan seksual. Ilustrasi: Belakangan marak terungkap kasus kekerasan berbasis gender secara online menyaru penelitian. Berikut tips aman dari modus kekerasan ataupun pelecehan seksual. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Belakangan sejumlah kasus kekerasan seksual menggunakan dalih penelitian terungkap melalui media sosial. Korban satu per satu memberanikan diri mengisahkan kembali kejadian yang dialami agar kekerasan tak berulang.

"Saya berharap pelaku dihukum, karena korbannya sudah banyak banget. Takutnya nambah korban lagi, dia kan juga ngincer-ngincer Maba [mahasiswa baru] gitu," tutur MF kepada CNNIndonesia.com, Kamis (30/7).

MF merupakan salah satu korban pelecehan seksual yang diduga dilakukan Gilang. Laki-laki yang dikenalnya melalui Instagram itu mengenalkan diri sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya yang sedang merampungkan penelitian dan meminta bantuan.


Kasus lain, diduga dilakukan seorang dosen salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta berinisial BA. Pelecehan seksual terhadap sejumlah perempuan ini menggunakan modus serupa, mengklaim sedang membuat penelitian soal swinger atau hubungan sesk bertukar pasangan.

Organisasi yang fokus pada isu keamanan dan kebebasan berekspresi, Safenet memperingatkan akan modus kekerasan berbasis gender online berkedok penelitian.

"Jangan sembarangan menyeragkan data pribadimu pada pelaku yang menggunakan modus ini!" tulis Safenet melalui akun resmi Twitter organisasi.

Berikut tips aman menurut Safenet agar terhindar dari modus kekerasan berbasis gender menyaru penelitian, utamanya secara online melalui media sosial:

1. Verifikasi identitas peneliti

Setiap orang kini bisa mengaku-ngaku atau mengklaim dirinya sebagai siapa saja. Karena itu lakukan verifikasi terhadap identitas peneliti.

Anda bisa meminta bukti identitas mereka sebagai peneliti, asal institusi, hingga surat izin penelitian dengan kop resmi institusi.

Jika mengaku sebagai mahasiswa, Anda bisa mengecek ulang informasi tersebut melalui laman forlap.ristekdikti.go.id/mahasiswa.

2. Tanyakan tujuan penelitian

Verifikasi tujuan penelitian dan rumusan permasalahannya. Bila penelitian disebut sebagai tugas kuliah, minta kepadanya nama dan kontak resmi seperti email universitas dan dosen pengampu mata kuliah.

Bekal data itu bisa Anda gunakan untuk melakukan verifikasi ulang mengenai kebenaran penelitian atau tugas kuliah tersebut.

Infografis Ragam Laku Pelecehan SeksualFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Infografis Ragam Laku Pelecehan Seksual

3. Hindari menyerahkan nomor HP

Jika peneliti mengontak Anda melalui media sosial, maka lanjutkan komunikasi hanya dengan menggunakan media sosial saja. Hindari menyerahkan nomor telepon seluler ataupun akun digital yang terhubung dengan nomor pribadi.

Nomor ponsel merupakan data pribadi yang sensitif. Bila tidak ada rencana untuk selalu mengganti nomor ponsel, Safenet menyarankan untuk tak mengumbar ke sembarang orang atau orang tak dikenal.

4. Jangan tergiur iming-iming uang

Iming-iming uang atau hadiah lain kerapkali jadi salah satu cara pelaku untuk memanipulasi korban agar lebih antusias menuruti kemauan pelaku.

Uang atau hadiah tampak menggiurkan. Tapi ingat, ini hanya sesaat. Sebab penyerahan data pribadi ke orang yang berniat jahat justru bakal berdampak lebih panjang lantaran jejak digital itu abadi.

Safenet menyatakan, belakangan marak ditemukan modus operandi yang berupaya mengumpulkan pelbagai data pribadi calon korban dengan dalih penelitian atau tugas kuliah. Data pribadi yang dikumpulkan bisa berupa foto, video, hingga nomor rekening korban.

Pengumpulan data secara tak bertanggung jawab tersebut dapat berujung pada kekerasan online ataupun kekerasan berbasis gender secara online.

(NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]