Viral Video 'Kemah Dugem', Bukit Propok Rinjani Ditutup Lagi

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 16:14 WIB
Video 'kemah sambil dugem' yang viral di media sosial mengakibatkan satu destinasi wisata di TN Gunung Rinjani terpaksa ditutup lagi. Suasana pendakian di Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. (Istockphoto/Funky-data)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penutupan kembali tempat wisata akibat pelanggaran protokol kesehatan pencegahan COVID-19 bukan wacana semata, karena Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) telah memutuskan menutup sementara destinasi wisata Bukit Propok setelah video berjudul 'kemah sambil dugem' viral di media sosial.

Dalam video 'kemah sambil dugem', terekam suasana saat ratusan orang, yang sebagian besar tak menjaga jarak fisik serta mengenakan masker, bersorak-sorai sembari menyalakan lampu senternya ke arah langit di Bukit Propok pada Sabtu (1/8).

Kerumunan tersebut dianggap pelanggaran berat atas protokol kesehatan pencegahan virus corona yang menjadi syarat mutlak pembukaan kembali tempat wisata.


"Kami akan tutup sementara mulai hari ini. Kemudian kita akan evaluasi bersama dengan pemerintah daerah, kelompok sadar wisata (pokdarwis), dan kepala desa," kata Kepala BTNGR, Dedy Asriady, di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (5/8), seperti yang dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, Bukit Propok dibuka sejak 7 Juli 2020 bersamaan dengan beberapa destinasi wisata non-pendakian lain yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, seperti Air Terjun Joben, Mangku Sakti, dan lainnya.

Pembukaan destinasi wisata tersebut disertai dengan upaya evaluasi bersama semua pihak terkait dan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi NTB.

Hasil evaluasi terakhir, kata Dedy, ditemukan dugaan pelanggaran protokol kesehatan COVID-19 yang dilakukan oleh para pengunjung yang berkemah di Bukit Propok.

"Menurut kami itu melanggar. Solusinya cuma satu, kita akan tutup sementara karena jenis pelanggarannya kategori yang bisa membuat kluster baru penyebaran COVID-19," ujarnya.

Ia mengatakan batas waktu penutupan sementara destinasi wisata tersebut tergantung hasil evaluasi bersama pemerintah daerah, kepala desa, dan pokdarwis yang diberikan hak pengelolaan kawasan wisata tersebut.

"Bisa jadi ada pembenahan standar operasional prosedur pemeriksaan pengunjung dan alat alat yang bisa menimbulkan kebisingan di sepanjang pendakian dan areal perkemahan," ucap Dedy.

Menurut dia, dengan adanya penutupan sementara satu destinasi wisata di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani tersebut bisa menjadi satu proses pembelajaran kepada semua pengunjung bahwa tanggung jawab untuk beraktivitas wisata sesuai protokol kesehatan COVID-19.

"Tanggung jawab tersebut bukan hanya dilakukan oleh BTNGR dan pokdarwis selaku pengelola, tetapi menjadi tanggung jawab bersama, khususnya pengunjung," kata Dedy.

Ini bukan kali pertama ada tempat wisata di NTB yang ditutup lagi karena kasus pelanggaran protokol kesehatan pencegahan virus corona.

Sebelumnya pada bulan Juni, sejumlah tempat wisata di Mataram juga telah ditutup karena pengelola dianggap tak mampu mengurai keramaian pengunjung, seperti Taman Loang Baloq, Pantai Mapak Indah, Pantai Gading, Pantai Selingkuh, dan Pantai Ampenan.

(ANTARA/ard)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK