5 Gangguan Umum yang Muncul saat Depresi

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/08/2020 19:53 WIB
Depresi bukan sekadar sedih atau tertekan dalam waktu lama, tapi juga mengakibatkan gangguan kesehatan lain. Berikut gangguan yang mungkin muncul saat depresi. Ilustrasi: Depresi bukan sekadar sedih atau tertekan dalam waktu lama, tapi juga mengakibatkan gangguan kesehatan lain. Berikut gangguan yang mungkin muncul saat depresi. (Foto: Istockphoto/ Slkoceva)
Jakarta, CNN Indonesia --

Depresi bukan hanya sekadar putus asa dirundung rasa sedih ataupun tertekan. Kondisi depresi seringkali disertai dengan sejumlah penyakit baik fisik maupun mental. Pelbagai gangguan kesehatan yang muncul ketika depresi ini mesti diatasi segera.

Berdasarkan panduan dokter internasional DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition), seseorang dinyatakan depresi jika memiliki lima atau lebih gejala-gejala selama minimal dua minggu. Gejala ini meliputi suasana hati yang tertekan terutama pada pagi hari, merasa lelah, merasa tidak berharga, kesulitan fokus, tidak bisa tidur, tidak memiliki minat, berpikir tentang kematian, gelisah, dan berat badan turun.

Selain gejala, umumnya depresi juga diikuti dengan sejumlah gangguan atau penyakit penyerta.


Berikut gangguan yang muncul saat depresi.

1. Gangguan kecemasan

Kecemasan merupakan respons alami tubuh terhadap stres. Gangguan kecemasan yang muncul saat depresi dapat berupa perasaan takut yang intens sepanjang waktu. Perasaan ini membuat tubuh menjadi lelah.

Gangguan kecemasan menurut laman Health Line, dapat membuat seseorang berhenti melakukan berbagai hal, misalnya takut menaiki lift, menyeberang jalan, atau bahkan keluar rumah.

2. Gangguan Panik

Gangguan panik merupakan salah satu dari jenis gangguan kecemasan. Gangguan ini menyebabkan seseorang merasa terteror secara tiba-tiba meskipun tak ada bahaya yang nyata. Dikutip dari laman Medlineplus, gangguan ini membuat seseorang yang depresi merasa kehilangan kendali.

Gejala fisik yang menyertai gangguan panik adalah detak jantung cepat, sakit dada atau perut, sulit bernapas, pusing, berkeringat, dan merasa panas dingin.

Infografis tentang informasi seputar gejala, pencegahan dan penyebab depresi.Foto: Astari Kusumawardhani
Infografis tentang informasi seputar gejala, pencegahan dan penyebab depresi.

3. Fobia

Fobia juga termasuk dalam kelompok gangguan cemas. Depresi dapat membuat seseorang memunculkan fobia. Fobia diartikan sebagai ketakutan yang berlangsung lama dan tidak masuk akal pada kehadiran atau pemikiran objek tertentu yang sama sekali tidak berbahaya.

Beberapa jenis fobia spesifik di antaranya fobia terhadap hewan, fobia terhadap situasi tertentu, fobia lingkungan, dan fobia darah.

4. Gangguan makan

Depresi juga membuat seseorang dapat mengalami gangguan makan. Gangguan makan adalah kondisi yang ditandai dengan hubungan yang tidak sehat dengan makanan. Terdapat tiga jenis gangguan makan yang utama yakni anoreksia atau gangguan makan yang membuat terobsesi dengan penurunan berat badan, bulimia atau gangguan makan ditandai dengan makan berlebihan tapi disertai cara-cara untuk sekaligus menurunkan berat badan, atau juga, gangguan makan berlebih.

Gangguan makan dapat berimplikasi pada kesehatan fisik karena berhubungan dengan nutrisi yang dikonsumsi tubuh.

5. Gangguan Obsesif Kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder OCD)

OCD atau Obsessive Compulsive Disorder merupakan penyakit mental yang menciptakan pikiran sensasi keinginan atau obsesi dan dorongan untuk melakukan sesuatu secara berulang-ulang atau kompulsif.

Kondisi ini dapat terjadi pada apa saja. Dikutip dari laman kesehatan WEB MD, OCD yang paling umum terkait dengan ketakutan akan hal-hal kotor sehingga membuat orang menjadi lebih senang bersih-bersih. Ada pula OCD yang membuat orang menjadi lebih tertib dan harus sesuai aturan.

Depresi dan penyakit penyerta yang muncul ini mesti segera ditangani agar tidak merusak tubuh dan mengganggu aktivitas. Jangan biarkan depresi menggerogoti tubuh terus menerus. Ketika mengalami salah satu atau beberapa gejala, juga gangguan kesehatan tersebut Anda sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog, psikiater atau orang terdekat untuk bertemu ahli.

(ptj/NMA)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK