SUDUT CERITA

Pil Pahit Dunia Ida, Vonis Kanker Paru di Tengah Pandemi

tim, CNN Indonesia | Selasa, 01/09/2020 16:32 WIB
Kanker paru-paru Ida mulai menimbulkan gejala tepat sebelum virus corona pertama kali mewabah. Di tengah pandemi Covid-19, Ida makin semangat melawan kanker. ilustrasi: Kanker paru-paru Ida mulai menimbulkan gejala tepat sebelum virus corona pertama kali mewabah. Di tengah pandemi Covid-19, Ida makin semangat melawan kanker.(iStockphoto/Chinnapong)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ida Gultom bukan cuma harus berhadapan dengan pandemi virus corona saat ini seperti orang lainnya, namun dia juga mesti menghadapi kenyataan bahwa dirinya divonis menderita kanker paru-paru.

Kanker paru-parunya mulai menimbulkan gejala tepat sebelum virus corona pertama kali mulai mewabah. Pada November tahun lalu, Ida merasakan batuk yang tak kunjung henti.

Ketika orang-orang sebisa mungkin tak menginjakkan kaki di rumah sakit saat pandemi mewabah, Ida justru harus bolak-balik menjalani imunoterapi di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan demi melawan kanker yang tumbuh di paru-parunya.


November lalu, ketika dia mulai diserang batuk tak henti dia pun pergi ke dokter. Ida diminta melakukan foto toraks untuk melihat kondisi paru-parunya. Saat itu, dokter mendiagnosis Ida dengan pneumonia yang diobati dengan antibiotik. Namun, karena tak kunjung henti, Ida melakukan pemeriksaan pada dokter lain.

Di dokter yang berbeda Ida juga diminta melakukan rontgen dada dan bronkoskopi. Kali ini, dokter mendiagnosis Ida dengan pneumonia yang diobati menggunakan obat untuk tuberkulosis (TBC). Selama dua bulan, Ida mengonsumsi obat tersebut, tapi batuk yang dialaminya tak kunjung mereda.

"Saya minum obat TBC selama dua bulan, tapi tidak ada perubahan," kata Ida menceritakan kisahnya dalam Lung Talks, Rabu (26/8).

Ida kembali ke dokter untuk pemeriksaan lanjutan. Dia memberi tahu bahwa kondisinya semakin parah. Selain batuk, Ida sudah tak lagi sanggup berjalan jauh karena sesak napas yang muncul. Batuk yang tak kunjung henti dan sesak napas merupakan salah satu gejala kanker paru.

Dokter lalu meminta Ida melakukan CT Scan untuk melihat kondisi paru lebih detail. Hasilnya, pada paru Ida tampak nodul atau bintik-bintik berupa benjolan yang juga merupakan indikasi kanker.

Untuk memastikan nodul tersebut adalah kanker, Ida melakukan biopsi. Biopsi adalah pengambilan sebagian jaringan tubuh untuk mendeteksi keberadaan kanker.

Saat pemeriksaan itu, Ida mulai gusar. Dia terus berdoa berharap sakit yang dialaminya bukanlah kanker. Gambaran kanker yang menyeramkan membuatnya ketakutan.

"Doa saya, TBC saja ya Tuhan. TBC kan gampang obatnya. Kalau sampai kanker, bagaimana dengan anak-anak saya masih kecil. Pikiran saya saat itu matilah ini," kata Ida.

Sayang, doa Ida tak terkabul. Dokter menyatakan Ida mengidap kanker paru jenis adenokarsinoma dan disarankan untuk melakukan kemoterapi. Adenokarsinoma paru merupakan kanker yang tumbuh perlahan di bagian luar paru. Jenis ini sering terjadi pada perempuan, bukan perokok, dan usia muda.

Ida kembali mencari second opinion pada beberapa dokter lain dan hasilnya sama. Namun, kali ini beberapa dokter menawarkan obat imunoterapi dengan tiga macam pengobatan.

Namun, Ida tak langsung menerima pengobatan itu lantaran dia harus menemani putrinya yang juga sakit untuk menjalani perawatan di Malaysia. Tapi, dokter tetap bersikeras kalau dia harus menjalani pengobatan

"Dokter menyarankan saya selagi menemani putri saya, saya harus berobat juga karena kanker ini berkejar-kejaran dengan waktu. Tidak boleh dibiarkan," tutur Ida.

Sebelum kasus Covid-19 pertama di Indonesia pada Maret lalu, Ida terbang ke Malaysia untuk menemani anaknya berobat sekaligus menjalani pengobatan kanker.

Di Malaysia, Ida menjalani biopsi ulang karena pemeriksaan di Jakarta dinilai tidak lengkap. Dokter juga meminta Ida untuk PET Scan dan MRI karena memiliki keluhan sakit kepala.

ilustrasi rontgen paruFoto: iStockphoto/utah778
ilustrasi rontgen paru

Hasil PET Scan menunjukkan terdapat nodul kanker sebesar 5,3 cm di paru Ida serta belasan sel kanker yang sudah menyebar ke otak. Dokter di Malaysia juga menyarankan Ida untuk melakukan imunoterapi.

Imunoterapi merupakan pengobatan baru dalam terapi kanker yang diperkenalkan pada 2016. Pada 2018, penemu imunoterapi James Allison dan Tasuku Honjo meraih pernghargaan nobel.

Imunoterapi adalah pengobatan yang merangsang sel imun untuk melawan kanker. Dokter spesialis paru Sita Laksmi Andarini menjelaskan konsep imunoterapi adalah membuat sel imun mengenal sel kanker dan aktif menyerangnya. Studi menunjukkan imunoterapi dapat menuembuhkan kanker dan memiliki masa hidup yang lebih panjang.

"Sel tumor dikenali oleh sel imunitas, sel dendritik. Sel dendritik akan menuju Cell T atau limfosit di kelenjar getah bening untuk mengenalkan sel tumor. Cell Y akan menghacurkan tumor. Ini secara singkatnya kerja imunoterapi," kata Sita.

Ida menjalani imunoterapi pertama pada 17 Februari. Pengobatan ini dilakukan setiap tiga minggu sekali. Setelah imunoterapi keempat pada 20 April, dokter mengevaluasi perkembangan kanker Ida.

Berdasarkan PET Scan, nodul mengecil menjadi 3,5 cm dan MRI menunjukkan sel kanker sudah tak lagi ada di kepala. Sel kanker yang sudah menyebar ke kepala biasanya tidak diobati dengan imunoterapi melainkan radiasi.

"Dokter bilang dia tidak bisa menjamin imunoterapi bisa menembus kepala. Biasanya harus radiasi. Tapi karena masih sedikit jadi imunoterapi dulu," ungkap Ida.

Ida terus menjalani perawatan imunoterapi dengan kondisi Malaysia yang saat itu tengah lockdown karena pandemi Covid-19. Di tengah gerak yang terbatas, Ida mesti tetap menjalani pengobatan.

Ida menjalani enam kali imunoterapi di Malaysia. Saat lockdown dibuka, pada bulan Juni, Ida kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, dengan protokol kesehatan yang ketat, Ida melanjutkan kembali  pengobatan bersama dengan dokter yang merawatnya sebelum ke Malaysia. Setiap berangkat ke rumah sakit, Ida selalu dihantui rasa was-was tertular virus corona. Namun, demi melawan kanker yang diidapnya Ida tetap menjalani pengobatan dengan melaksanakan protokol kesehatan seperti memakai masker, sering mencuci tangan, dan menjaga jarak fisik.

Setelah terapi kedelapan, dokter mengevaluasi kanker dengan pelakukan CT Scan. Hasilnya, besar nodul kembali berkurang signifikan menjadi 1,5 cm. Ida akan terus menjalani imunoterapi  hingga tahun depan untuk memastikan sel kanker benar-benar hilang.

Ida mengaku imunoterapi yang dijalaninya tak memiliki efek samping yang berarti.

"Dengan imunoterapi tidak ada efek sampingnya. Saya tidak mual, nafsu makan tetap terjaha, rambut tidak rontok," ujar Ida.

Hanya saja, setelah menjalani imunoterapi, Ida merasa tubuhnya mengalami kelelahan. Namun, dia mengaku tak ambil pusing dan mengubahnya dengan pikiran yang positif agar hatinya tetap senang.

"Beberapa hari setelah imunoterapi ada rasa pegal dan muncul pikiran jangan-jangan ini. Tapi saya harus tetap berpikiran positif. Saya tetap mencari kesibukan misalnya memasak seharian di dapur. Saya juga rutin olahraga," kata Ida.

Ida mengaku pikiran positif, semangat yang tinggi, berserah pada Tuhan, dan mengikuti semua terapi dengan benar merupakan kunci kesembuhan kanker yang dialaminya. Di tengah pandemi Covid-19, Ida makin semangat melawan kanker yang menggerogotinya.

Selain berobat, kini Ida juga aktif memberi semangat kepada pasien kanker lainnya yang tergabung dalam Cancer Information & Support Center (CISC).

(ptj/chs)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK