Gejala Happy Hypoxia dan Cara Mencegahnya

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2020 09:32 WIB
Kondisi happy hypoxia menjadi salah satu gejala 'tersembunyi' Covid-19. Kondisi ini umumnya terjadi pada pasien dengan gejala ringan. Ilustrasi. Kondisi happy hypoxia menjadi salah satu gejala 'tersembunyi' Covid-19. (AFP/AXEL HEIMKEN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Happy hypoxia menjadi salah satu gejala 'tersembunyi' pada pasien Covid-19. Kondisi ini mulai banyak dilaporkan terjadi pada sejumlah pasien Covid-19.

Happy hypoxia merupakan kondisi saat seseorang tak mengalami kesulitan bernapas meski kadar oksigen dalam tubuh sangat rendah. Dalam beberapa kasus, kondisi pasien sama sekali tak terganggu, bahkan bisa beraktivitas dengan normal. Kadar oksigen yang sangat rendah bisa mengancam nyawa.

Happy hypoxia ditemukan terjadi pada sejumlah pasien Covid-19. Sebuah studi yang diterbitkan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine menemukan sejumlah pasien Covid-19 dengan kadar oksigen rendah, tapi tidak mengalami sesak napas.


"Saat kadar oksigen turun, otak [pasien Covid-19] tidak merespons sampai oksigen turun ke tingkat yang sangat rendah, di mana pasien biasanya akan merasakan sesak napas," ujar salah satu peneliti, Martin J Tobin, yang merupakan seorang dokter spesialis paru, mengutip Science Direct.

Covid-19 merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Pada kasus yang parah, infeksi bisa mengurangi jumlah oksigen yang dapat diserap paru-paru.

Gejala

Happy hypoxia dikenal juga dengan istilah 'silent hypoxemia'. Hipoksemia sendiri didefinisikan sebagai penurunan kadar oksigen dalam darah. Saat oksigen mulai berkurang, seseorang umumnya akan mengalami sesak napas.

Dalam kondisi normal, hipoksemia umumnya menimbulkan beberapa gejala, seperti berikut:

-sesak napas
- pusing hingga pingsan
- napas lebih pendek dan cepat
- batuk
- perubahan denyut jantung lebih cepat
- kulit pada ujung jari dan sekitar bibir menjadi biru

Namun, pada kasus happy hypoxia, gejala fisik hampir sama sekali tak ditemukan.

Perlu digarisbawahi, gejala happy hypoxia Covid-19 hanya terjadi pada orang dengan gejala (covid-19). Dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Erlina Burhan mengatakan, kondisi tersebut tak terjadi pada orang tanpa gejala.

"Happy hypoxia tidak bisa terjadi pada orang yang tanpa gejala (covid-19(," ujar Erlina, mengutip Antara. Gejala Covid-19 yang mungkin muncul pada pasien yang mengalami happy hypoxia di antaranya demam, batuk, dan flu, tapi tidak merasakan gejala sesak napas.

Oleh karena itu, Erlina menyarankan agar orang yang terinfeksi Covid-19 dengan gejala seperti demam dan flu untuk segera menghubungi layanan kesehatan.

Cara Mencegah

Tanpa disertai gejala, happy hypoxia bisa mengancam nyawa. Kendati demikian, bukan berarti kondisi tersebut tak bisa dicegah sama sekali.

Happy hypoxia dapat dideteksi secara dini dengan cara mengukur kadar oksigen. Anda dapat mengukur kadar oksigen di fasilitas layanan kesehatan terdekat atau periksakan secara mandiri.

Pemeriksaan mandiri dapat dilakukan dengan alat pulse oximeter. Pada pasien Covid-19, oximeter dapat membantu mengecek kadar oksigen, sehingga saat oksigen berada di level terendah bisa segera dilakukan tindak lanjut.

Oximeter berukuran kecil dan mudah dibawa. Alat ini bekerja dengan pemasangan di ujung jari dan mengecek seberapa baik oksigen mengikat sel darah merah Anda. Pada orang sehat, angka saturasi pada oximeter akan berada pada 95-100 persen. Anda bisa memilikinya sendiri di rumah.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]