Beirut Diburu Hujan Selamatkan Museum Rusak Imbas Ledakan

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 16:32 WIB
Ledakan di pelabuhan menyisakan kerusakan parah pada bangunan bersejarah di Beirut. Kini musim hujan menjadi tantangan usaha penyelamatan. Kebakaran di Pelabuhan Beirut, Libanon, pada 10 September 2020. (AP/Hussein Malla)
Jakarta, CNN Indonesia --

Beirut seakan bersaing dengan waktu untuk melestarikan bangunan bersejarah yang rusak sebelum hujan menyebabkan kehancuran yang mulanya disebabkan oleh ledakan pelabuhan pada 4 Agustus 2020, kepala barang antik Libanon memperingatkan pada Selasa (15/9).

"Ada 100 bangunan bersejarah yang perlu ditutup sebelum hujan," kata Sarkis Khoury, kepala Direktorat Jenderal Barang Purbakala Libanon, seperti yang dikutip dari AFP.

"Ada 45 bangunan yang membutuhkan penopang total agar tidak runtuh, dan 55 lainnya perlu ditopang sebagian," lanjutnya.


Dia berbicara setelah pertemuan dengan kepala tiga organisasi warisan internasional, yang mengunjungi Beirut untuk mengumpulkan dukungan bagi ibu kota Libanon.

Salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah, yang berasal dari stok amonium nitrat di pelabuhan Beirut, mengoyak kota dan memusnahkan beberapa jalan paling bersejarah pada enam minggu lalu.

Libanon sudah mengalami krisis sosial, ekonomi dan politik yang dalam ketika ledakan - yang menewaskan lebih dari 190 orang tewas dan melukai ribuan lainnya - terjadi.

Bantuan asing, organisasi internasional dan sukarelawan Libanon telah memimpin upaya penyelamatan, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pemerintah yang semakin tak mendapat simpati dari rakyatnya sekaligus disalahkan atas lambanya upaya pemulihan.

"Kami berusaha mengecog waktu, kami berbicara tentang hari, minggu paling lama, untuk melakukan semua pekerjaan ini. Ini benar-benar akan sangat sulit," kata Khoury.

Valéry Freland, kepala Aliansi Internasional untuk Perlindungan Warisan Budaya di Daerah Konflik (ALIPH), menandatangani kesepakatan untuk paket awal sebesar US$5 juta untuk mendukung upaya perlindungan.

A drone picture shows the scene of an explosion at the seaport of Beirut, Lebanon, Wednesday, Aug. 5, 2020. A massive explosion rocked Beirut on Tuesday, flattening much of the city's port, damaging buildings across the capital and sending a giant mushroom cloud into the sky. More than 70 people were killed and 3,000 injured, with bodies buried in the rubble, officials said. (AP Photo/Hussein Malla)Area pelabuhan di Beirut, Libanon, yang meledak pertama kali pada 5 Agustus 2020. (AP/Hussein Malla)

Dana besar

"Kita perlu bekerja cepat untuk melindungi bangunan bersejarah ini karena musim hujan sudah dekat," katanya dalam pertemuan yang diadakan di Museum Sursock.

Khoury mengatakan dia memperkirakan sekitar US$300 juta (sekitar Rp4,4 triliun) akan dibutuhkan untuk memulihkan bangunan bersejarah di Beirut.

Museum Sursock terletak di salah satu area yang mengalami kerusakan parah akibat ledakan.

Direkturnya, Zeina Arida, mengatakan bahwa perkiraan awal memperkirakan biaya pemulihan museum dan koleksinya sekitar US$3 juta.

This picture taken on August 8, 2020 shows a view of the facade of the damaged Sursock Museum in the neighbourhood of Ashrafiyeh in Lebanon's capital Beirut, with empty windows after their stained glass was broken in the aftermath of the massive blast at the port of Beirut which ravaged entire neighbourhoods of the city. - The mansion-turned-museum of Sursock, which only a few months ago was housing a landmark Picasso exhibition, now tells the story of a city's demise. Many of old Beirut's remaining landmarks had already been damaged by 15 years of civil war and decades of government neglect. The August 4 blast finished the job. The chemical disaster, which appears to have been the result of government negligence, was so powerful that it literally redrew Beirut's coastline and skyline. (Photo by ANWAR AMRO / AFP)Museum Sursock yang ikut rusak akibat ledakan di Pelabuhan Beirut. (AFP/ANWAR AMRO)

Dia mengatakan bahwa dari 180 karya yang dipamerkan di lantai museum yang paling terkena dampak, 50 di antaranya rusak, delapan di antaranya rusak parah.

Edouard Bitar, presiden kelompok masyarakat sipil Live Love Lebanon, yang telah memainkan peran kunci dalam upaya sukarela massal sejak ledakan itu, mengatakan beberapa masalah logistik juga memperumit pekerjaan pelestarian.

"Kami menghadapi masalah hari ini, yaitu kami tidak memiliki mortar kapur," katanya.

"Semua rumah warisan terbuat dari batu pasir, dan batu pasir membutuhkan mortar kapur, yang tidak ada di Libanon."

Dia mengatakan mortir kapur ini perlu diimpor dari Prancis atau Italia dan menekankan bahwa dibutuhkan bantuan dari raksasa konstruksi seperti Lafarge dan Saint-Gobain untuk membawa material secepat mungkin dengan harga yang terjangkau.

"Jika kita tidak memperbaiki rumah-rumah ini dengan kapur, restorasi akan rusak dan seluruh DNA arsitektural kita akan rusak," kata Bitar.

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]