Dokter: Pulse Oximeter Bukan untuk Orang Sehat

tim, CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 18:35 WIB
Dokter spesialis paru Erlina Burhan menyatakan pulse oximeter bukan untuk orang sehat sehingga memilikinya bukanlah sebuah keharusan. Dokter spesialis paru Erlina Burhan menyatakan pulse oximeter bukan untuk orang sehat sehingga memilikinya bukanlah sebuah keharusan.(iStockphoto/juanrvelasco)
Jakarta, CNN Indonesia --

Happy hypoxia pada pasien Covid-19 yang ramai dibicarakan beberapa waktu terakhir membuat banyak orang membeli pulse oximeter. Namun, dokter spesialis paru Erlina Burhan menyatakan pulse oximeter bukan untuk orang sehat sehingga memilikinya bukanlah sebuah keharusan.

"Jangan sampai salah. Pulse oximeter bukan untuk orang sehat atau orang tanpa gejala (OTG) Covid-19," kata Erlina dalam talkshow virtual BNPB, Rabu (16/9).

Pulse oximeter merupakan alat yang digunakan di ujung jari untuk mengukur saturasi oksigen di dalam darah. Alat ini dapat digunakan untuk mengecek kondisi happy hypoxia yaitu keadaan berkurangnya oksigen di dalam darah tanpa menimbulkan gejala sesak.


Erlina menjelaskan happy hypoxia kemungkinan akan terjadi pada pasien Covid-19 yang bergejala, bukan pada orang tanpa gejala.

"Happy hypoxia tidak terjadi pada orang tanpa gejala. Jadi hanya pada yang bergejala dan tidak juga terjadi pada semua yang bergejala," kata Erlina.

Namun beberapa waktu lalu, kasus orang tak bergejala di Banyumas tiba-tiba meninggal meninggal dunia karena mengalami happy hypoxia.

Jika pasien tak bergejala atau asimptomatis mengalami happy hypoxia maka berpotensi menyebabkan kematian mendadak. Jika saturasi oksigennya berat maka pasien hanya punya waktu 10 menit untuk bertahan hidup jika tak ditopang oleh ventilator.

"Bahkan jika dia isolasi mandiri, tanpa dibatu saurasi oksigennya yg bahaya tiba2 orang yang otg jatuh ke sedang dan perlu alat bantu napas tidak diketahui jadi banyak yang terkapar," ungkap Tri Yunis Miko Wahyono, Kepala Departemen Epidemiologi FKM UI dikutip dari CNNIndonesia TV.

Pada pasien Covid-19 yang bergejala, happy hypoxia terjadi karena salah satu saraf yang mengirimkan pesan ke otak mengenai turunnya kadar oksigen di dalam darah mengalami kerusakan. Sehingga otak tidak dapat mengetahui kondisi oksigen di dalam tubuh.

"Otak tidak mengenali adanya kekurangan oksigen dalam darah. Biasanya ada sinyal dari otak untuk mempercepat pengambilan oksigen sehingga menjadi sesak. Tapi, pada Covid-19 ini tidak terjadi," tutur Erlina.

Meski tidak sesak, pada Covid-19 bergejala, happy hypoxia ditandai dengan gejala yang terus bertambah, batuk semakin parah, tubuh lemas, dan ujung jari atau bibir membiru.

Jika muncul tanda ini, Erlina menyarankan untuk langsung memeriksa kadar oksigen dalam darah dengan menggunakan pulse oximeter jika memilikinya. Jika tidak, segera bawa ke rumah sakit. Karena satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan adalah memberikan oksigen tambahan ke pasien dengan terapi oksigen.

"Kalau sudah lemas segera bawa ke rumah sakit karena obatnya cuma satu yaitu oksigen," ujar Erlina.

[Gambas:Video CNN]

(ptj/chs)

[Gambas:Video CNN]